Disinggung Prabowo, Dokter Jelaskan Hubungan Asbes dan Seng dengan Kanker Paru

Disinggung Prabowo, Dokter Jelaskan Hubungan Asbes dan Seng dengan Kanker Paru

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Jumat, 31 Jul 2026 18:03 WIB
Lung cancer. lung disease
Foto: Ilustrasi kanker paru (Getty Images/Mohammed Haneefa Nizamudeen)
Jakarta -

Dewan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menjelaskan bagaimana bisa asbes dan seng memicu kanker paru. Ini setelah kondisi ini disinggung oleh Presiden Prabowo Subianto.

"Asbes itu berdasarkan The International Agency for Research on Cancer (IARC) itu termasuk bahan karsinogen. Artinya bahan tersebut dapat menginduksi terjadinya kanker," kata Prof Agus, saat dihubungi detikcom, Jumat (31/7/2026).

"Data riset secara internasional dan juga riset di Indonesia, di RS Persahabatan bahwa asbes itu berisiko untuk menyebabkan terjadinya kanker paru," sambungnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak hanya kanker paru, dr Agus menambahkan bahwa paparan asbes juga dapat menyebabkan kanker di selaput paru atau mesothelioma. Namun, paparan ini harus terjadi dalam jangka waktu lama atau bertahun-tahun.

"Selain itu asbes kalau terhirup bisa menyebabkan penyakit paru yang namanya fibrosis paru, yang disebut asbestosis," katanya.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, seng bukan termasuk ke dalam bahan yang bersifat karsinogen artinya tidak menyebabkan kanker. Namun, dr Agus menambahkan, ada bahan pelapis seng yang bisa menyebabkan kanker.

"Komponen dari seng apabila dia dipakai, itu ada yang disebut krom (kromium). Krom ini di dalam kategori IARC, itu karsinogen," kata dr Agus.

"Dalam data-data riset di luar negeri, risiko pajanan krom terhadap seseorang dalam waktu sekian lama dapat menginduksi terjadinya kanker paru," sambungnya.

Meskipun begitu, dr Agus mengatakan bahwa riset terkait seng dengan lapisan krom pemicu kanker masih sedikit. Bahkan, di Indonesia belum ada data terkait ini.

"Secara teori, lapisan dari seng yang disebut krom itu dapat menginduksi terjadinya kanker," tutupnya.



(dpy/suc)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads