Viral Pasien BPJS Dihina Dokter-Nakes, Psikiater Bagikan Tips Jaga Empati di Medsos

Viral Pasien BPJS Dihina Dokter-Nakes, Psikiater Bagikan Tips Jaga Empati di Medsos

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Rabu, 05 Agu 2026 17:03 WIB
Viral Pasien BPJS Dihina Dokter-Nakes, Psikiater Bagikan Tips Jaga Empati di Medsos
Foto: dok. BPJS Kesehatan
Jakarta -

Jagat media sosial digemparkan oleh penyerangan massal terhadap oknum dokte dan tenaga kesehatan (nakes). Aksi ini bermula saat seorang pasien BPJS Kesehatan mengeluhkan lamanya proses mendapatkan ruang rawat inap.

Alih-alih mendapatkan penanganan emosional yang baik, unggahan pasien tersebut justru dibanjiri komentar miring yang diduga berasal dari oknum dokter dan nakes. Belakangan, sang pasien dikabarkan meninggal dunia.

Sontak, amarah publik pecah. Netizen berbondong-bondong memburu identitas oknum nakes yang berkomentar nirempati hingga menyerang akun tempat mereka bekerja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa fenomena ini memperlihatkan betapa rentannya hubungan humanis saat berada di bawah tekanan sistem dan paparan media sosial.

Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi situasi yang memanas ini secara bijak?

ADVERTISEMENT

1. Terapkan Compassion with Boundaries

dr Lahargo menekankan pentingnya memiliki rasa empati yang disertai batas etika dan profesionalisme yang sehat (compassion with boundaries). Baik nakes maupun masyarakat perlu memahami bahwa empati bukan berarti membenarkan semua perilaku emosional, melainkan menghargai perasaan sesama tanpa melanggar norma.

"Di balik seragam tenaga kesehatan ada manusia yang lelah. Namun, di balik status pasien ada manusia yang sedang ketakutan dan berharap ditolong. Pada akhirnya, pelayanan kesehatan adalah perjumpaan antara manusia dengan manusia," ujar dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Rabu (5/8/2026).

2. Hindari Main Hakim Sendiri (Digital Mob Mentality)

Meski kemarahan netizen berangkat dari rasa solidaritas terhadap korban, dr Lahargo mengingatkan agar amarah tersebut tidak berubah menjadi aksi perundungan massal yang merendahkan martabat orang lain.

"Seberat apa pun rasa kecewa atau tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan," tegasnya.

3. Lakukan Saring Sebelum Sharing dengan Prinsip THINK

Untuk mencegah agar ruang digital tidak makin keruh oleh amarah dan ujaran kebencian, dr Lahargo menyarankan publik untuk menerapkan lima pertanyaan reflektif sebelum mengetik atau mengunggah komentar:

  • True: Apakah yang ditulis ini benar dan sesuai fakta?
  • Helpful: Apakah tulisan ini membantu perbaikan keadaan?
  • Inspiring: Apakah kalimat ini memberikan harapan?
  • Necessary: Apakah komentar ini memang perlu disampaikan?
  • Kind: Apakah pesan disampaikan dengan keadaban dan rasa kasih?

4. Melatih Empati Setiap Hari

dr Lahargo mengingatkan bahwa empati bukanlah bakat bawaan, melainkan kebiasaan yang bisa dipelajari dan dilatih terus-menerus.

"Semakin sering kita mendengarkan tanpa menghakimi dan memilih kata-kata yang membangun, semakin kuat pula kemampuan empati kita-baik di rumah sakit maupun di dunia digital," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(sao/up)
Nakes Hina Pasien BPJS
37 Konten
Curhat seorang pasien BPJS Kesehatan yang menunggu 8 jam untuk rawat inap berbuah hujatan dari kalangan dokter dan nakes. Mirisnya, pasien dikabarkan meninggal tak lama setelah curhatnya viral. Makian berbalik ke para nakes yang sempat menghina.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads