BGN Ungkap Pemicu Ratusan Siswa di Papua Keracunan MBG

BGN Ungkap Pemicu Ratusan Siswa di Papua Keracunan MBG

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jumat, 07 Agu 2026 07:05 WIB
Kepala BGN Sudaryono di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (5/8/2026).
Foto: Devandra Abi Prasetyo/detikHealth
Jakarta -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap dugaan penyebab insiden ratusan siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, yang mengalami keracunan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, temuan awal menunjukkan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) memasak makanan terlalu dini sehingga melanggar standar keamanan pangan.

"Jadi memang memulai masaknya terlalu cepat, kalau nggak salah pukul 19.00 atau 19.30 di hari sebelumnya untuk diberi makan pada hari berikutnya di pukul 11.00, jadi itu sudah melanggar, termasuk yang di Semarang, Jawa Tengah, juga sama, dia mulai masak jam 21.00. Ini kan masalah kedisiplinan. Nah, ini kita lagi cari formula (untuk mengawasi SPPG yang melanggar)," kata Sudaryono, Kamis (6/8/2026).

Sudaryono mengatakan BGN kini tengah mencari formula pengawasan yang lebih ketat agar pelanggaran serupa tidak kembali terjadi di dapur penyedia MBG.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga menegaskan BGN tidak akan segan membawa kasus ke ranah hukum apabila ditemukan unsur kesengajaan, sabotase, atau pelanggaran lain dalam penyelenggaraan program MBG.

"Memang kalau ada ya kita serahkan semua, bukan kemudian kita tutup-tutupi atau kemudian kita bela, karena kalau salah, ngapain dibela. Jadi, cuma kan kita mesti juga ada asas praduga tak bersalah," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, Sudaryono mengungkap tidak semua kasus dugaan keracunan berasal dari kesalahan proses memasak di dapur MBG. Menurutnya, ada pula insiden yang terjadi karena makanan dibawa pulang oleh penerima manfaat dan baru dikonsumsi beberapa waktu kemudian bersama anggota keluarga.

"Misalnya dia sudah benar semua dapurnya, kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu yang juga masih sesuai, jam 9 atau 10 pagi, tetapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang, dan dikonsumsi bersama keluarga yang lain, sehingga yang keracunan bukan hanya siswanya, melainkan termasuk anggota keluarga yang mengonsumsi makanan itu. Ini bagian dari PR kami, bagaimana mengedukasi," katanya.

Karena itu, BGN akan memperkuat edukasi kepada para penerima manfaat mengenai keamanan pangan, termasuk pentingnya mengonsumsi makanan MBG sesuai waktu yang dianjurkan dan tidak menyimpannya terlalu lama.

Sebelumnya, lebih dari 200 siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG pada Rabu (5/8). Sejumlah siswa sempat menjalani perawatan di RSUP Jayapura.

Kondisi para pasien dilaporkan berangsur membaik. Delapan pasien yang masih dirawat menunjukkan perkembangan positif, bahkan satu di antaranya telah diizinkan pulang dari rumah sakit.



(naf/naf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads