BPOM Ingatkan Investasi Gizi dan Kesehatan Otak Kunci Generasi Emas RI

BPOM Ingatkan Investasi Gizi dan Kesehatan Otak Kunci Generasi Emas RI

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Senin, 10 Agu 2026 06:00 WIB
BPOM RI
Foto: Dok BPOM RI
Jakarta -

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kolaborasi, demi meningkatkan kualitas kesehatan dan kognitif anak di kawasan Asia Tenggara. Sinergi ini melibatkan akademisi, dunia usaha, hingga pemerintah.

Sinergi lintas sektor yang dikenal dengan konsep Academia, Business, Government (ABG) ini dinilai sangat krusial. Pasalnya, langkah ini bertujuan untuk mempercepat riset, menghadirkan inovasi pangan bergizi, serta memperluas akses produk berkualitas bagi tumbuh kembang anak sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Pernyataan tersebut disampaikan Taruna dalam acara Pediatric Science & Health Summit 2026 bertajuk 'Advancing Brain and Cognitive Health in Children: Integrating Neuroscience, Nutrition, and Innovation for Southeast Asia' di Nusa Dua, Bali, Sabtu (8/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sinergi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah akan mempercepat penguatan riset, mendorong inovasi, memperluas akses terhadap produk yang berkualitas, memperkuat sistem regulasi, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan," terang Taruna dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (9/8).

"Healthy brains build healthy nations. Science inspires innovation. Evidence builds trust. Collaboration creates impact. Bersama-sama kita dapat mewujudkan kesehatan otak dan perkembangan kognitif terbaik bagi setiap anak," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Pentingnya Nutrisi dan Gut-Brain Axis pada 1.000 HPK

Taruna menjelaskan bahwa periode 1.000 HPK merupakan masa emas (golden period) yang menentukan kualitas kecerdasan hingga produktivitas seseorang di masa mendatang. Proses tumbuh kembang ini sangat dipengaruhi oleh ketercukupan gizi harian dan mekanisme neuroplastisitas pada otak.

Pakar neurosains tersebut juga memaparkan keterkaitan erat antara saluran pencernaan dan fungsi otak melalui jalur gut-brain axis. Keseimbangan mikroorganisme atau mikrobiota di dalam usus terbukti memegang peranan penting dalam menjaga kekebalan tubuh sekaligus mendukung pematangan jaringan otak.

"Pesan utama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa precision nutrition yang didukung mikrobiota usus yang sehat mampu menunjang pembentukan struktur otak, meningkatkan neuroplastisitas fungsional, serta menjaga regulasi sistem imun pada periode emas perkembangan anak," imbau Taruna.

Kebutuhan sinergi lintas sektor ini dirasa kian mendesak mengingat tingginya angka gangguan gizi pada balita. Di Indonesia sendiri, data menunjukkan prevalensi stunting masih berada di angka 19,8 persen, wasting (kekurangan gizi akut) 6,3 persen, dan overweight (kelebihan berat badan) 3,3 persen dari total 22,6 juta balita.

Padahal, intervensi berbasis riset, seperti pemberian ASI eksklusif, suplemen mikronutrien, hingga MPASI bergizi, tak hanya penting untuk kesehatan anak, tetapi juga berdampak besar bagi perekonomian negara.

Komitmen BPOM Mengawal Produk Pangan Anak

Demi memastikan setiap inovasi pangan aman dikonsumsi oleh kelompok rentan seperti bayi dan anak, BPOM berkomitmen untuk terus menegakkan regulasi berbasis bukti ilmiah atau evidence-based policy.

"Regulasi yang baik bukanlah penghambat inovasi, melainkan fasilitator yang memastikan setiap inovasi dapat diterjemahkan menjadi produk yang aman, bermutu, bermanfaat, dan memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat," kata Taruna.

Ia menegaskan, peran BPOM dalam menerbitkan izin dan mengawasi produk pangan bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap keselamatan jiwa masyarakat.

"Setiap izin yang saya setujui, setiap persoalan yang saya selesaikan, dan setiap dokumen yang saya tandatangani bukan sekadar prosedur administratif, melainkan langkah nyata untuk melindungi kehidupan manusia," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim BasarahY anuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) mengatakan Tema Pediatric Science & Health Summit2 026 tahun ini mengingatkan kemajuanl imu pengetahuan harus selalu diterjemahkan menjadi pelayanan yang lebih baik bagi anak-anakI ndonesia. Melalui forum ini, para dokter anak akan bersama-sama memperbarui pengetahuanm engenai growth faltering, precision biotics, tatalaksana alergi, serta pentingnya deteksi dini dan penanganan defisiensi besi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak.

"Kehadiran para ahli dari berbagai negara dalam forum ini menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan kunci dalam menjawab tantangan kesehatan anak yang semakin kompleks. Sebagaio rganisasi profesi, IDAI akan terus berkomitmen mendukung pendidikan kedokteranb erkelanjutan, penelitian dan praktik klinis berbasis bukti, demi terwujudnya pelayanan kesehatana nak yang semakin berkualitas. Forum ini juga merupakan kesempatan untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, serta membangun kolaborasi yang bermanfaat bagi kemajuan pediatri diI ndonesia maupun kawasan Asia Tenggara."

Halaman 2 dari 2
(sao/naf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads