Menkes Cek Viral Selebgram Fahira, Ramai Diduga 'Black Campaign' Promo RS Penang

Menkes Cek Viral Selebgram Fahira, Ramai Diduga 'Black Campaign' Promo RS Penang

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Selasa, 11 Agu 2026 12:14 WIB
In the Hospital Sick Male Patient Sleeps on the Bed. Heart Rate Monitor Equipment is on His Finger.
Foto: Getty Images/gorodenkoff
Jakarta -

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin merespons viralnya konten selebgram Fahira Almira yang membandingkan layanan dan diagnosis dokter di rumah sakit Indonesia dengan rumah sakit di Penang, Malaysia.

Konten tersebut menjadi sorotan lantaran muncul dugaan adanya black campaign pada rumah sakit dan dokter di Indonesia, terlebih karena Fahira disebut-sebut diduga mendapatkan endorsement dari rumah sakit di Penang.

Budi mengatakan dirinya belum melihat langsung konten yang ramai diperbincangkan tersebut. Ia pun akan mengecek terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya belum lihat, tapi nanti saya akan catat, nanti aku cari," kata Budi saat ditemui wartawan, Selasa (11/8/2026).

Dalam konten yang viral, Fahira mengaku sempat mendapat diagnosis usus buntu dari tiga rumah sakit di Indonesia. Namun, ketika memeriksakan diri ke Penang, Malaysia, ia mengaku justru dinyatakan tidak mengalami usus buntu.

ADVERTISEMENT

Pengalaman tersebut kemudian dibandingkan dengan layanan medis di Indonesia dan memicu perdebatan di media sosial.

Sejumlah pihak mempertanyakan akurasi diagnosis dokter Indonesia. Di sisi lain, tenaga medis menilai narasi tersebut berpotensi menggiring opini publik karena hanya menampilkan pengalaman pasien tanpa memberikan gambaran klinis secara utuh.

Disorot karena Dugaan Promosi RS Penang

Sorotan semakin besar karena muncul dugaan bahwa konten tersebut berkaitan dengan kepentingan promosi rumah sakit di Penang, karena melampirkan nama rumah sakit.

Jika benar terdapat kerja sama komersial atau endorsement, sejumlah pihak menilai penyampaian pengalaman tersebut perlu dilihat secara lebih kritis, terutama apabila pengalaman berobat di luar negeri disampaikan dengan membandingkan dan menyudutkan tenaga medis atau rumah sakit di Indonesia.

"Coba @kemenkes_ri @bgsadiki investigasi terkait postingan seperti ini, apakah asli atau memang hanya iklan dari RS di Malaysia. Kalau hanya iklan, harusnya dari Kementerian bisa memberikan protes dengan negative campaign seperti ini," komentar salah satu warganet.

"Dibayar berapa endorsenya? How much did you pay for this black campaign?" timpal yang lain.

Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai adanya endorsement antara Fahira dengan rumah sakit di Penang.

Sejumlah tenaga medis yang menanggapi kasus ini juga menyoroti posisi dokter di Indonesia yang menangani Fahira.

Dokter terikat kewajiban menjaga kerahasiaan pasien sehingga tidak dapat membuka rekam medis dan seluruh kondisi klinis pasien ke publik hanya untuk memberikan bantahan terhadap konten yang beredar.

Akibatnya, publik berpotensi hanya mendapatkan satu sisi cerita.

Padahal, diagnosis usus buntu tidak ditentukan hanya berdasarkan satu pemeriksaan. Dokter mempertimbangkan gejala, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, pemeriksaan pencitraan, serta perkembangan kondisi pasien.

Dalam kasus Fahira, disebutkan pemeriksaan di Penang menunjukkan ukuran appendix sekitar 8,1 mm, lebih besar dari ukuran normal yang umumnya sekitar 6 mm. Namun, dokter di sana disebut menyimpulkan kondisi tersebut berkaitan dengan fecalith atau tinja keras yang menyumbat bagian usus buntu.

Halaman 2 dari 2
(naf/up)
Gaduh Lagi gara-gara Usus Buntu
18 Konten
Gara-gara urusan radang usus buntu, dokter-dokter Indonesia kembali dipojokkan. Seorang influencer mengaku 3 kali didiagnosis radang usus buntu di Indonesia hingga harus operasi. Saat periksa ke Penang, ternyata dibilang tidak ada masalah.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads