Dokter Ungkap Alasan Diagnosis Usus Buntu Bisa Berbeda saat Diperiksa Lagi

Dokter Ungkap Alasan Diagnosis Usus Buntu Bisa Berbeda saat Diperiksa Lagi

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kamis, 13 Agu 2026 11:11 WIB
Abdominal pain woman, photo of large intestine on woman body, appendix pain. Health care concept.
Foto: Ilustrasi usus buntu (Getty Images/sirawit99)
Jakarta -

Viral konten selebgram Fahira Almira yang membagikan pengalamannya saat berobat ke Penang, Malaysia. Dia mengaku didiagnosis usus buntu di rumah sakit Indonesia, namun di rumah sakit Malaysia tidak.

Spesialis penyakit dalam subspesialis Konsultan Gastroentologi dan Hepatologi, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP mengatakan, kondisi usus buntu atau appendicitis tidak selalu berada dalam fase akut ketika pasien kembali menjalani pemeriksaan. Gejala yang semula muncul secara akut dapat mereda setelah mendapatkan pengobatan, bahkan dalam waktu beberapa minggu.

"Bahkan, jangankan 3 bulan, mungkin dalam 2-3 minggu kalau kondisinya membaik, maka gejala akutnya sudah hilang. Tapi bisa saja pasien masih ada dalam fase apendisitis kronis," katanya kepada detikcom, Rabu (12/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apendisitis kronis sewaktu-waktu juga bisa mengalami kekambuhan akut. Dengan demikian, kondisi pasien ketika diperiksa pertama kali tidak selalu sama dengan pemeriksaan selanjutnya.

ADVERTISEMENT

"Jadi memang kurang pas juga kalau dibilang pasien bisa naik pesawat, kemudian bisa berobat ke rumah sakit di sana, jalan kaki, segala macam, dinyatakan sebagai kondisi yang akut. Jadi memang bisa saja pada saat datang sudah kondisinya tidak akut lagi," kata Prof Ari.

"Sudah mungkin kronis kalau diperiksa pun juga tidak terbukti lagi adanya infeksi," tambahnya.

Mengenai penanganan usus buntu, penyakit ini tak selalu berakhir dengan tindakan operasi. Pada kondisi tertentu, misalnya saat pasien menolak operasi, dokter data memberi antibiotik dan pereda nyeri untuk membantu mengatasi peradangan. Kendati demikian, pilihan ini juga memiliki risiko dan tidak selalu menjamin penyakit teratasi.

"Bisa saja akhirnya pasien itu tidak jadi dioperasi," kata Prof Ari.

Namun, hal tersebut juga masih bisa berisiko. Menurut Prof Ari, jika pengobatan berhasil, kondisi pasien bisa membaik dan gejala mereda. Tapi, jika tidak berhasil peradangan bisa berujung pada perforasi atau kebocoran pada usus buntu hingga perlengketan.





(elk/up)
Gaduh Lagi gara-gara Usus Buntu
18 Konten
Gara-gara urusan radang usus buntu, dokter-dokter Indonesia kembali dipojokkan. Seorang influencer mengaku 3 kali didiagnosis radang usus buntu di Indonesia hingga harus operasi. Saat periksa ke Penang, ternyata dibilang tidak ada masalah.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads