Sering Tidur dengan Mulut Mangap? Hati-hati, Rahang Jadi Tidak Simetris

Gigi dan Mulut

Sering Tidur dengan Mulut Mangap? Hati-hati, Rahang Jadi Tidak Simetris

detikHealth
Jumat, 14 Agu 2026 07:09 WIB
Ni‘matun Mutmainah, S.H.G.
Ditulis oleh:
Ni‘matun Mutmainah, S.H.G.
Sarjana Higiene Gigi dari Universitas Gadjah Mada dengan kompetensi dalam upaya preventif-promotif kesehatan gigi dan mulut. Saat ini mengikuti program MagangHub sebagai penulis artikel gaya hidup.
Traveler woman sleeping in a train travel beside the window
Kebiasaan tidur mangap bisa berdampak pada struktur rahang. Foto: iStock
Jakarta -

Tidur dengan mulut terbuka secara terus-menerus dapat memengaruhi posisi lidah, otot wajah, dan arah pertumbuhan rahang. Kondisi ini lebih terlihat pada anak karena rahang masih dalam masa pertumbuhan.

Sementara pada orang dewasa, ketidakseimbangan tekanan otot juga dapat terjadi.

Posisi Lidah dan Rahang Bawah Bisa Berubah

Saat mulut terbuka, lidah turun dan tidak lagi menempel di langit-langit mulut, padahal posisi itu menopang rahang atas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah tinjauan di jurnal BMC Oral Health menemukan bahwa anak yang terbiasa bernapas lewat mulut mengalami rahang bawah bergeser ke belakang dan berputar ke bawah. Bidang gigitan menjadi lebih curam dibandingkan anak yang bernapas normal lewat hidung.

Bentuk Wajah Berpotensi Memanjang dan Tak Simetris

Penelitian di jurnal Frontiers in Public Health mencatat, napas lewat mulut membuat wajah bagian depan tumbuh lebih tinggi. Akibatnya, wajah terlihat lebih panjang dan kurang proporsional.

ADVERTISEMENT

Studi lain dengan 3D scanning (pemindaian tiga dimensi) juga menemukan bahwa pola napas ini bisa membuat pertumbuhan wajah sisi kiri dan kanan jadi tidak seimbang.

Cara Mencegah Dampaknya

Beberapa cara dapat dilakukan untuk mencegah tidur dengan mulut mangap, maupun dampak yang menyertainya.

  • Mengatasi penyebab hidung tersumbat, seperti alergi, pilek, atau septum yang bengkok, agar pernapasan dapat kembali melalui hidung.
  • Membiasakan posisi tidur yang bervariasi dan tidak selalu miring ke satu sisi.
  • Memeriksakan anak ke dokter gigi anak atau dokter spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan) sejak dini apabila kebiasaan tidur dengan mulut terbuka berlangsung terus-menerus.
  • Berkonsultasi dengan dokter apabila kebiasaan tidur dengan mulut terbuka disertai dengkuran atau tanda gangguan pernapasan lain saat tidur.

Kebiasaan tidur dengan mulut terbuka memang terlihat sepele, tetapi jika dibiarkan pada anak yang rahangnya masih tumbuh, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa.

Mengenali tandanya sejak dini dan berkonsultasi ke dokter gigi atau dokter THT adalah langkah paling sederhana untuk mencegahnya.



(nim/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads