Mengenal Penyakit Ginjal Kronik, Silent Killer yang Mulai Serang Usia Produktif

Mengenal Penyakit Ginjal Kronik, Silent Killer yang Mulai Serang Usia Produktif

detikHealth
Jumat, 21 Agu 2026 12:52 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Jakarta -

Penyakit ginjal kronik kini mulai menjadi perhatian pada usia produktif. Kondisi ini berkaitan dengan perubahan gaya hidup, termasuk semakin mudahnya akses terhadap makanan dan kebiasaan kurang berolahraga yang dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan hipertensi.

Spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal dan hipertensi, Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM mengatakan penyakit ginjal kronik dapat mulai terjadi pada usia yang masih muda dan produktif. Kondisi tersebut dapat berkembang perlahan hingga fungsi ginjal terus menurun tanpa disadari.

"Dikatakan memang meningkat pada usia muda masih produktif, karena memang dengan perbaikan ekonomi jadi makanan lebih mudah didapat, jadi orang gampang gemuk, akibatnya bisa darah tinggi, bisa gula umur lebih awal, dan sering juga kurang olahraga. Itu yang sebenarnya faktor risiko untuk terjadinya penyakit ginjal kronik tadi," ujar Prof Endang dalam sesi interview The 6th Siloam Urology Nephrology Summit 2026 di Shangri-La, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyakit Ginjal Kronik: The Silent Killer

Penyakit ginjal kronik merupakan penyakit yang berlangsung secara perlahan dan bertahap. Penurunan fungsi ginjal dapat terjadi dalam waktu panjang sehingga tubuh memiliki kesempatan untuk beradaptasi.

Akibatnya, seseorang bisa saja belum merasakan keluhan meski fungsi ginjalnya sudah mulai mengalami penurunan. Gejala baru semakin terlihat ketika kondisi sudah berkembang lebih jauh.

ADVERTISEMENT

"Jadi penyakit ginjal kronik itu penyakit yang berjalan secara perlahan-lahan. Semua penyakit yang dibilang kronik itu adalah penyakit yang berjalan bertahap perlahan-lahan," jelas Prof Endang.

Penurunan fungsi ginjal juga dapat disertai berbagai perubahan pada tubuh. Tekanan darah dapat meningkat, produksi urine dapat terganggu, kadar hemoglobin dapat menurun hingga terjadi anemia, serta dapat muncul gangguan pada jantung.

Dalam kondisi yang sudah berat, pasien dapat datang dengan kadar hemoglobin yang rendah, tekanan darah yang terganggu, sulit buang air kecil, hingga pembengkakan pada kaki dan perut.

Kondisi tersebut membuat penyakit ginjal kronik kerap disebut sebagai silent killer. Penyakit yang awalnya tidak memberikan keluhan dapat berkembang menjadi gagal ginjal dan pada akhirnya membutuhkan transplantasi ginjal.

Pemicu Meningkatnya Penyakit Gagal Ginjal Kronik

Menurut Prof Endang, meningkatnya kasus pada usia produktif tidak terlepas dari perubahan pola hidup. Perbaikan ekonomi membuat akses terhadap makanan menjadi semakin mudah.

Makanan yang mudah didapat dapat membuat pola makan menjadi lebih banyak. Ketika makanan yang dikonsumsi juga tinggi gula dan garam serta porsinya berlebihan, berat badan lebih mudah meningkat.

"Dengan perbaikan ekonomi, jadi makanan lebih mudah didapat, jadi orang gampang gemuk, akibatnya bisa darah tinggi, bisa gula umur lebih awal, dan sering juga kurang olahraga," kata Prof Endang.

Kurang berolahraga turut menjadi persoalan. Kebiasaan kurang bergerak dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit yang kemudian dapat berpengaruh terhadap ginjal.

Prof Endang juga menyoroti konsumsi makanan yang tinggi gula dan garam. Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, risiko diabetes dan hipertensi dapat meningkat. Kedua kondisi tersebut merupakan faktor risiko penting dalam terjadinya penyakit ginjal kronik.

Karena itu, pola makan yang lebih seimbang, aktivitas fisik yang cukup, serta pengendalian berat badan menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan ginjal.

5 Tahapan Penurunan Fungsi Ginjal

Penyakit ginjal kronik dibagi menjadi lima tahap berdasarkan tingkat penurunan fungsi ginjal. Prof Endang menggambarkan fungsi ginjal normal berada di angka 100 persen dan kemudian mengalami penurunan secara bertahap.

  • Tahap 1, fungsi ginjal masih berada di atas 90 persen. Penurunan fungsi masih ringan sehingga kondisi dapat belum menimbulkan keluhan.
  • Tahap 2 terjadi ketika fungsi ginjal berada di atas 60 persen, tetapi sudah mengalami penurunan dibandingkan kondisi normal.
  • Tahap 3 berada pada kisaran 30 sampai 60 persen. Pada tahap ini penurunan fungsi ginjal sudah semakin jelas.
  • Tahap 4 berada pada kisaran 15 sampai 30 persen. Fungsi ginjal sudah mengalami penurunan berat dan membutuhkan penanganan serta pemantauan lebih lanjut.
  • Tahap 5 terjadi ketika fungsi ginjal sudah berada di bawah 15 persen. Pada kondisi ini, fungsi ginjal yang tersisa tidak lagi mencukupi untuk menjalankan tugasnya secara normal dan pasien masuk dalam kondisi gagal ginjal.

Semakin berat penurunan fungsi ginjal, kemampuan tubuh membuang zat sisa dan kelebihan cairan juga semakin terganggu. Kondisi tersebut dapat menyebabkan pembengkakan, penurunan kadar hemoglobin, hingga berbagai komplikasi lainnya.

Meski sudah mengalami penyakit ginjal kronik, pasien tidak otomatis harus menjalani cuci darah. Pada tahap awal, penanganan diarahkan untuk mengatasi penyebab dan memperlambat penurunan fungsi ginjal.

"Kalau sudah cuci darah itu kalau sudah tahap 5 tadi. Jadi tidak semua penyakit ginjal itu cuci darah. Kalau tahapnya masih awal, diobati penyebabnya, dan dibatasi makanannya, targetnya supaya tidak cuci darah," kata Prof Endang.

Terdapat tiga pilihan yang dapat dilakukan ketika sudah mencapai tahap 5, yaitu hemodialisis, dialisis peritoneal, dan transplantasi ginjal.

Hemodialisis merupakan metode yang umum dikenal sebagai cuci darah. Darah pasien dialirkan keluar tubuh menuju mesin untuk dibersihkan dari zat sisa dan kelebihan cairan, kemudian dikembalikan ke tubuh.

Pilihan kedua adalah dialisis peritoneal atau cuci perut. Metode ini memanfaatkan selaput di dalam rongga perut sebagai penyaring. Cairan khusus dimasukkan ke dalam rongga perut untuk membantu mengeluarkan zat sisa dan kelebihan cairan, kemudian cairan tersebut dikeluarkan dan diganti.

Pilihan ketiga adalah transplantasi ginjal, yakni mengganti ginjal yang mengalami kerusakan dengan ginjal dari donor yang sesuai.

Transplantasi membuat pasien tidak lagi bergantung pada mesin dialisis dan dapat memberikan kesempatan untuk menjalani aktivitas dengan lebih leluasa. Meski demikian, pasien tetap harus mengonsumsi obat untuk menjaga ginjal hasil transplantasi sepanjang hidup.

Deteksi Dini untuk Mencegah Gagal Ginjal

Penyakit ginjal kronik dapat diketahui lebih awal melalui pemeriksaan. Prof Endang mengatakan pemeriksaan urine dapat menjadi langkah awal untuk melihat apakah terdapat kelainan pada ginjal.

Jika ditemukan kelainan, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan melihat fungsi ginjal melalui pemeriksaan kreatinin. Dokter kemudian dapat mencari penyebab gangguan tersebut, misalnya hipertensi, diabetes, atau kelebihan berat badan.

"Kalau sudah ada kelainan juga, paling mudah memeriksa dengan USG abdomen. Di USG itu bisa dilihat ginjalnya normal atau enggak. Pemeriksaan sebenarnya sederhana dan itu bisa diperiksa di pelosok tanah air juga bisa," ujar Prof Endang.

Pada tahap awal, penyakit yang menjadi penyebab perlu dikendalikan agar penurunan fungsi ginjal tidak terus berlanjut. Pengaturan makanan, termasuk asupan protein dan cairan, juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Pengendalian tekanan darah dan gula darah menjadi bagian penting dalam mempertahankan fungsi ginjal. Ketika faktor penyebab dapat dikontrol dengan baik, penurunan fungsi ginjal dapat diperlambat.

(mal/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads