Jadi Sering 'Iyup' saat Pakai Behel? Ini yang Sebenarnya Terjadi

Gigi dan Mulut

Jadi Sering 'Iyup' saat Pakai Behel? Ini yang Sebenarnya Terjadi

detikHealth
Rabu, 26 Agu 2026 07:03 WIB
Ni‘matun Mutmainah, S.H.G.
Ditulis oleh:
Ni‘matun Mutmainah, S.H.G.
Sarjana Higiene Gigi dari Universitas Gadjah Mada dengan kompetensi dalam upaya preventif-promotif kesehatan gigi dan mulut. Saat ini mengikuti program MagangHub sebagai penulis artikel gaya hidup.
Orthodontist doctor examine tooth to woman patient at dental clinic. Attractive young girl with braces lying on dental chair, getting dental treatment from dentist during procedure service in hospital
Pakai behel jadi sering iyup saat senyum. Foto: Getty Images/iStockphoto/Kiwis
Jakarta -

Momen 'iyup' jadi keluhan umum para pengguna behel alias kawat gigi. Gerakan bibir saat mengatup jadi tidak natural karena menghindari kawatnya nyangkut.

Memasang behel memang menjadi salah satu cara yang banyak dipilih untuk memperbaiki susunan gigi. Namun, pada masa awal pemakaian, sebagian pengguna behel mengalami kondisi ketika bibir bagian atas terlihat seperti tertarik atau tersangkut pada bracket saat tersenyum, berbicara, maupun menutup mulut.

Fenomena yang belakangan disebut "iyup moment" di media sosial ini kemudian membuat sebagian pengguna khawatir kondisi tersebut akan bertahan hingga perawatan selesai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kabar baiknya, 'iyup' umumnya tidak bersifat permanen. Ahli ortodontik, drg Rini Susanti, Sp.Ort, mengatakan kondisi tersebut umumnya hanya bersifat sementara selama proises adaptasi. Lamanya berbeda-beda pada setiap orang.

"Menurut pengalaman saya, ini (iyup) temporer. Lagi-lagi, ya, tergantung permasalahan giginya," ujar drg Rini kepada detikcom, Rabu (19/8/2026).

ADVERTISEMENT

Sebuah penelitian yang dilakukan Paley, dkk. (2016) dalam The Angle Orthodontist memperkuat pendapat tersebut. Penelitian tersebut mengamati 23 pasien pengguna alat ortodonti cekat pada empat titik waktu: sebelum pemasangan, segera setelah pemasangan, satu bulan, dan dua bulan setelahnya.

Hasilnya menunjukkan pola yang bervariasi: 44 persen subjek sama sekali tidak mengalami gangguan bicara, 39 persen sempat terganggu namun berhasil beradaptasi dalam kurun waktu dua bulan, dan hanya 17 persen yang gangguannya masih menetap pada pemeriksaan bulan kedua.

Bibir Perlu Beradaptasi dengan Keberadaan Behel

Perlunya adaptasi juga berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada jaringan lunak di sekitar mulut setelah pemasangan alat ortodonti. Bracket dan kawat yang sebelumnya tidak ada menjadi benda baru yang bersentuhan dengan area di sekitar bibir, sehingga posisi dan gerakan bibir pada awal perawatan dapat terasa berbeda.

Hal ini didukung oleh penelitian Wang, dkk. (2023) dalam Orthodontics & Craniofacial Research. Penelitian yang melibatkan 40 partisipan tersebut membandingkan kondisi jaringan lunak perioral pada kondisi awal (baseline) dengan saat menggunakan alat ortodonti cekat (fixed appliance) maupun clear aligner.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasangan fixed orthodontic appliance dapat menyebabkan perubahan pada sejumlah titik jaringan lunak di sekitar mulut, termasuk area bibir. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan alat ortodonti memang dapat memengaruhi jaringan lunak di sekitar mulut pada fase awal pemasangan.

Dengan demikian, perubahan yang dirasakan pengguna pada bibir setelah memakai behel dapat dipahami sebagai bagian dari respons tubuh terhadap keberadaan alat ortodonti.

@detikhealth_official Mau tahu gimana IYUP Moment para detikers yang pakai behel? Yuk, simak cerita mereka dari awal pakai behel sampai menghadapi rasa sakit dan perubahan yang dirasakan! Creator: Nima #detikHealth #kesehatangigi #behel ♬ Upbeat Indie Folk Acoustic Inspiring - TonsTone

Lama Adaptasi Tidak Selalu Sama

Meskipun demikian, waktu yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan behel dapat berbeda pada setiap orang. Kondisi gigi, rahang, serta karakteristik bibir dapat memengaruhi bagaimana seseorang menyesuaikan posisi bibir ketika berbicara, tersenyum, atau menutup mulut.

drg Rini menjelaskan bahwa pengguna dengan kondisi gigi depan yang lebih maju dapat menghadapi tantangan berbeda ketika menutup mulut setelah menggunakan behel. Karena itu, pada sebagian pengguna, fase "iyup" mungkin terasa lebih lama dibandingkan dengan pengguna lainnya.

"Yang penting adalah memang pasien itu beradaptasi. Antara lain itu pada saat menutup mulut, mengatupkan bibirnya, dia perlu beradaptasi," jelasnya.

Artinya, munculnya "iyup" pada minggu-minggu awal pemakaian behel tidak serta-merta menunjukkan bahwa perubahan tersebut akan menetap. Pengguna perlu memberikan waktu bagi bibir dan mulut untuk menyesuaikan diri dengan keberadaan alat ortodonti.

Kapan Perlu Waspada

Meski umumnya bersifat sementara, pengguna tetap perlu memperhatikan kondisi jaringan mulut selama masa adaptasi. Apabila bracket atau kawat menyebabkan luka, nyeri, atau iritasi yang terus berulang, keluhan tersebut sebaiknya disampaikan kepada dokter gigi atau dokter gigi spesialis ortodonti yang menangani perawatan.

Dengan memahami bahwa fase adaptasi adalah hal yang wajar, pengguna tidak perlu langsung khawatir ketika melihat perubahan pada posisi bibir di awal perawatan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kata Pengguna Behel soal Momen 'Iyup', Keganggu Nggak Sih?"
[Gambas:Video 20detik] (nim/up)
Jadi Iyup gegara Behel
5 Konten
Behel alias kawat gigi memang bisa merapikan struktur yang berantakan. Tapi di sisi lain, penggunanya jadi sering iyup. Gerakan menutup bibir jadi tidak natural, karena rawan nyangkut di ujung kawat. Jadi seperti bilang 'iyup'.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads