Waspada! Riset Ungkap 8 dari 10 Anak Muda Alami Kerusakan Arteri Pembuluh Darah

Waspada! Riset Ungkap 8 dari 10 Anak Muda Alami Kerusakan Arteri Pembuluh Darah

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jumat, 28 Agu 2026 18:06 WIB
Waspada! Riset Ungkap 8 dari 10 Anak Muda Alami Kerusakan Arteri Pembuluh Darah
Foto ilustrasi: Getty Images/Remains
Jakarta -

Usia muda ternyata tak lagi menjadi jaminan seseorang bebas dari risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Sebuah penelitian terbaru membawa kabar mengkhawatirkan.

Sebanyak 8 dari 10 orang dewasa muda terdeteksi mengalami tanda-tanda awal kerusakan arteri karotis, atau pembuluh darah vital yang mengalirkan darah kaya oksigen menuju otak.

Riset ini dipublikasikan dalam jurnal medis Circulation: Population Health and Outcomes. Studi yang mengamati 1.283 orang dewasa muda menemukan bahwa sebanyak 80 persen di antaranya, diketahui mengidap Cardiovascular-Kidney-Metabolic (CKM) syndrome atau sindrom kardiovaskular-ginjal-metabolik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun rata-rata partisipan baru berusia 23 tahun, pemeriksaan arteri karotis menunjukkan tingkat ketebalan dinding pembuluh darah yang umumnya baru ditemukan pada orang berusia 33 tahun.

"Semakin lanjut stadium CKM yang diidap, semakin besar kecenderungan partisipan menunjukkan tanda-tanda kerusakan awal (subclinical injury) pada arteri karotis," terang laporan peneliti dalam studi tersebut.

ADVERTISEMENT

Mengenal Sindrom CKM dan Pembagian Stadiumnya

Sindrom CKM merupakan istilah medis yang dirumuskan oleh American Heart Association (AHA) pada 2023. Istilah ini menjelaskan keterkaitan erat antara gangguan metabolisme, penurunan fungsi ginjal, dan penyakit jantung yang dapat berkembang memicu komplikasi multiorgan.

Ahli jantung dari Johns Hopkins School of Medicine, Chiadi Ndumele, memaparkan bahwa ketiga gangguan tersebut tidak dapat dipandang terpisah.

"Kondisi jantung, ginjal, dan metabolik tidak terjadi secara menyendiri, ketiganya saling terhubung erat," jelas Ndumele.

Dalam riset tersebut, para peneliti membagi keparahan CKM ke dalam beberapa tahapan:

  • Stadium 1 (40 persen Partisipan): Mengalami berat badan berlebih (obesitas) atau prediabetes, namun belum memiliki faktor risiko metabolik lain maupun gangguan ginjal.
  • Stadium 2 (36 persen Partisipan): Mengidap satu atau lebih faktor risiko metabolik (seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes tipe 2) dan/atau penyakit ginjal, tetapi belum terkena penyakit jantung.
  • Stadium 3 (2,8 persen Partisipan): Memiliki penyakit kardiovaskular tanpa gejala (subklinis) disertai faktor risiko CKM, atau berada pada risiko tinggi terkena penyakit jantung dalam 10 tahun ke depan.
  • Stadium 4: Individu yang telah terdiagnosis penyakit kardiovaskular kronis (jantung koroner, gagal jantung, stroke) beserta komplikasi metabolik atau ginjal.

Gaya Hidup Buruk Jadi Biang Kerok

Meski belum ada partisipan yang menyentuh stadium akhir (stadium 4), tingginya angka pengidap CKM pada kelompok muda dipicu oleh skor pola makan dan aktivitas fisik yang tergolong buruk. Peneliti mengukur risiko ini menggunakan indikator 'Life's Essential 8', yang mencakup kualitas diet, olahraga, tidur, paparan rokok/nikotin, indeks massa tubuh, hingga tekanan darah.

Pakar jantung dari Northwestern University, Nilay Shah, mengingatkan bahwa tren ini tidak boleh dianggap sepele oleh kelompok usia produktif maupun remaja.

"Banyak komponen CKM yang kini mulai menggerogoti masyarakat pada usia yang makin muda," tegas Shah.

Meski begitu, para ahli menekankan bahwa diagnosis awal CKM bukan berarti masa depan kesehatan anak muda sudah dipastikan memburuk. Perkembangan sindrom ini bersifat reversible, atau masih bisa diputarbalikkan melalui intervensi gaya hidup sehat, perbaikan pola makan, peningkatan olahraga, hingga bantuan medis yang tepat sejak dini.

Halaman 2 dari 2
(sao/naf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads