Pria Umur 48 Jadi Pasien Pertama di Dunia yang Jalani Operasi dengan Bantuan AI

Pria Umur 48 Jadi Pasien Pertama di Dunia yang Jalani Operasi dengan Bantuan AI

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Minggu, 30 Agu 2026 14:51 WIB
Ilustrasi Operasi
Foto: Getty Images/mihailomilovanovic
Jakarta -

Dunia kedokteran mencetak rekor sejarah baru. Rhys Hibbert, seorang pria berusia 48 tahun asal Bedfordshire, Inggris, menjadi pasien pertama di dunia yang menjalani operasi pengangkatan tumor otak dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) secara langsung (real-time).

Operasi medis bersejarah ini dilakukan oleh tim bedah saraf di National Hospital for Neurology and Neurosurgery (NHNN), yang merupakan bagian dari University College London Hospitals (UCLH).

Dikutip dari laman NHS, tim dokter memanfaatkan teknologi AI yang mampu memetakan anatomi otak secara presisi melalui sistem pewarnaan (color coding) untuk memisahkan jaringan tumor dari struktur otak yang vital.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bantuan Sistem Sistem 'Color Coding' AI

Sebelumnya, teknologi AI ini hanya digunakan sebagai alat riset dan simulasi. Namun pada Mei 2026, sistem kecerdasan buatan ini resmi diterapkan langsung pada tubuh manusia untuk mengangkat tumor pada kelenjar pituitari milik Hibbert.

Pasien operasi tumor otak bantuan AIPasien tumor otak Rhyss Hibbert (kanan) dan dokter bedah otak Hani Marcus (kiri) Foto: Dok. NHS

Teknologi ini bekerja dengan cara memberi kode warna pada layar pemantau operasi secara real-time. Misalnya, jaringan saraf diberi warna hijau, sementara jaringan ikat diwarnai pirus (turquoise). Peta warna digital ini memberi arahan visual yang sangat akurat bagi dokter bedah mengenai area mana yang aman dipotong dan area vital mana yang wajib dihindari.

ADVERTISEMENT

Hibbert, yang terdiagnosis tumor otak sejak tahun 2024, mengaku sangat bersyukur karena operasi canggih ini berhasil menyelamatkan penglihatannya dari ancaman kebutaan.

"Saya merasa sangat terhormat telah diminta menjadi pasien pertama di dunia dalam riset ini. Rumah sakit ini didirikan pada 1859 sebagai RS bedah saraf pertama di dunia, jadi sangat cocok jika rumah sakit yang sama juga menjadi yang pertama melakukan bedah saraf berbasis AI di dunia," ungkap Rhys Hibbert.

AI Dikembangkan Langsung dari Ratusan Video Operasi Otak

Sistem AI ini dikembangkan secara internal (in-house) oleh UCL Hawkes Institute. Perangkat lunak ini dilatih khusus menggunakan basis data yang berisi ratusan rekaman video operasi otak nyata guna mengenali detail anatomi yang sangat kecil.

Profesor Hani Marcus, konsultan ahli bedah saraf yang memimpin operasi ini, mengapresiasi keberanian pasien serta kerja keras tim peneliti medis Inggris.

"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para peserta uji coba dan tim yang berkomitmen untuk meningkatkan keselamatan pasien dengan mengambil langkah pertama secara global ini. Penggunaan AI lokal buatan Inggris ini sangat membantu menekan risiko selama operasi yang rumit," puji Profesor Marcus.

Penerapan AI sebagai 'pemandu navigasi visual' di meja operasi kini terus berkembang pesat. Selain pada bedah otak, teknologi pemetaan warna berbasis AI dan robotik ini juga mulai diterapkan pada operasi bedah dalam lainnya untuk melindungi organ serta jaringan saraf penting pasien secara maksimal.

Halaman 2 dari 2
(kna/kna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads