Mitos Paha Besar dan Umur Panjang, Pakar Ungkap Fakta Medis di Baliknya

Mitos Paha Besar dan Umur Panjang, Pakar Ungkap Fakta Medis di Baliknya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Senin, 31 Agu 2026 05:06 WIB
Woman with cellulitis on leg excess and overweight fatty of female
Foto: iStock
Jakarta -

Anggapan populer yang menyebutkan bahwa pemilik paha besar memiliki peluang hidup lebih lama kini ramai diperbincangkan. Namun, benarkah fenomena ini didukung bukti ilmiah, atau sekadar mitos paha besar dan umur panjang yang salah kaprah?

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Yunita Aryani, MSi, MH, meluruskan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, ukuran paha yang besar tidak serta-merta menjadi jaminan usia yang lebih panjang.

"Lingkar paha yang terlalu kecil memang merupakan penanda rendahnya massa otot atau status gizi yang kurang baik. Namun, bukan berarti semakin besar ukuran paha, semakin panjang pula usia seseorang," jelas dr Yunita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awal Mula Munculnya Mitos Paha Besar dan Umur Panjang

Lahirnya mitos paha besar dan umur panjang ini sebenarnya bermula dari riset ilmiah yang kerap dipahami secara mentah oleh masyarakat.

Studi kohort dalam British Medical Journal (BMJ) menemukan bahwa lingkar paha yang sangat kecil memang berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan kematian dini. Namun, riset yang sama juga mencatat adanya efek ambang batas (threshold effect).

ADVERTISEMENT

Begitu ukuran paha mencapai batas ideal tertentu, paha yang bertambah makin besar tidak otomatis memberikan manfaat kesehatan tambahan bagi tubuh.

Massa Otot vs Lemak: Komposisi Paha Lebih Menentukan

Mengapa menilai kesehatan hanya dari ukuran paha bisa berbahaya? dr Yunita memaparkan bahwa paha terdiri atas kombinasi tulang, massa otot, cairan, dan lemak subkutan. Dua orang dengan lingkar paha yang persis sama bisa memiliki profil risiko penyakit yang jauh berbeda.

  • Fungsi Vital Otot Paha: Otot rangka pada paha berperan krusial dalam menyerap glukosa, meningkatkan sensitivitas insulin, mengontrol gula darah, menjaga keseimbangan tubuh, serta menjadi cadangan protein saat tubuh mengalami krisis metabolik.
  • Perbedaan Karakteristik Lemak: Lemak di area paha (subkutan) cenderung lebih aman dibanding lemak perut (visceral). Lemak visceral jauh lebih berbahaya karena aktif memicu penyakit jantung, stroke, hipertensi, hingga diabetes tipe 2.

"Bukan sekadar seberapa besar pahanya, tetapi apa yang menyusun paha tersebut dan seberapa baik fungsinya. Ingat, kunci utamanya bukan besarnya paha, melainkan massa otot yang terbentuk," tegas dr. Yunita.



(kna/kna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads