Heboh 'Tambal Gigi Online' Berujung Infeksi, Kok Bisa Sih Ada yang Beli?

Gigi dan Mulut

Heboh 'Tambal Gigi Online' Berujung Infeksi, Kok Bisa Sih Ada yang Beli?

detikHealth
Rabu, 02 Sep 2026 07:08 WIB
Ni‘matun Mutmainah, S.H.G.
Ditulis oleh:
Ni‘matun Mutmainah, S.H.G.
Sarjana Higiene Gigi dari Universitas Gadjah Mada dengan kompetensi dalam upaya preventif-promotif kesehatan gigi dan mulut. Saat ini mengikuti program MagangHub sebagai penulis artikel gaya hidup.
The dentist, fully dressed in a protective suit with an eyewear protection is with a patient. A woman in the chair has her mouth opened and examined while holding a suction pump.
Tambal gigi online kerap kali malah memperburuk masalah. Foto: Getty Images/Lajst
Jakarta -

Belakangan, ramai di Threads cerita drg Aprillya Sakila yang membagikan kasus seorang pasien mengalami infeksi setelah menambal gigi sendiri dengan bahan yang dibeli online. Bukan cuma pasien yang menderita karena gusinya bengkak, dokter gigi yang menangani juga ikut pusing lantaran bahan tambalan tersebut susah dilepas.

Cerita seperti ini bisa jadi bukan satu-satunya. Pasalnya, bahan tambal gigi yang bisa dipasang sendiri di rumah memang makin sering ditemukan di media sosial, dijual dengan harga murah dan cara pakai yang terlihat sederhana oleh seseorang berpenampilan menyerupai tenaga medis.

Tapi alih-alih hanya membahas cerita kasusnya, ada baiknya kita mundur satu langkah dan melihat persoalan ini dari sudut yang berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cerita semacam itu biasanya muncul dari sisi kuratif bagaimana pasien akhirnya diobati setelah kondisinya memburuk. Padahal, yang lebih penting justru sisi preventif (mencegah sebelum terjadi) dan promotif (edukasi agar masyarakat paham risikonya sejak awal), karena di situlah masalah ini sebenarnya bisa dihentikan sebelum berkembang jadi kasus yang berat.

ADVERTISEMENT

Kenapa Orang Tergiur Tambal Gigi Sendiri?

Biaya perawatan, keterbatasan waktu, rasa takut ke dokter gigi, sampai anggapan gigi berlubang belum terlalu serius, membuat sebagian orang mencari jalan pintas. Media sosial memperbesar godaan ini: penjual bisa dengan mudah mengklaim produknya "bisa menutup gigi berlubang", lengkap dengan harga murah dan cara pakai yang terlihat gampang.

Padahal, mudah ditemukan di internet bukan berarti aman digunakan tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan.

Kenapa Menambal Sendiri Berisiko?

Gigi berlubang punya tingkat kerusakan yang tidak selalu terlihat dari luar. Menutup lubang tanpa mengetahui kondisi jaringan di bagian dalam justru bisa 'mengurung' bakteri yang masih aktif di dalamnya.

Akibatnya, infeksi bisa berkembang tanpa disadari mulai dari gejala ringan seperti bau mulut dan gusi mudah berdarah, sampai bengkak, demam, bahkan pada kasus yang dibiarkan terlalu lama, infeksi bisa menyebar dan menimbulkan komplikasi serius.

Ini yang membuat tambal gigi sendiri berbeda dari sekadar mencoba produk kesehatan biasa: begitu ada yang salah, biaya, waktu, dan risiko yang harus ditanggung untuk memperbaikinya jauh lebih besar dibanding kalau masalah dicegah sejak awal.

Preventif dan Promotif, Kenapa Lebih Penting Disorot?

Preventif berarti mencegah masalah sebelum jadi berat, misalnya:

  • Sikat gigi rutin dengan pasta berfluorida, batasi makanan dan minuman manis.
  • Periksa gigi berkala ke dokter gigi sebelum ada keluhan, bukan sesudahnya.

Promotif berarti membekali masyarakat pengetahuan agar bisa menjaga kesehatannya sendiri, misalnya:

  • Paham tanda-tanda awal gigi berlubang, supaya tidak menunggu sampai parah.
  • Sadar bahwa produk kesehatan gigi yang dijual bebas punya batasan dan tidak bisa menggantikan peran dokter gigi.
  • Lebih kritis menilai klaim produk kesehatan yang beredar di media sosial, termasuk tidak mudah percaya hanya karena penjualnya tampil meyakinkan atau mengenakan atribut yang mirip tenaga medis.

Sebelum Membeli Produk Kesehatan Gigi

Sebelum membeli produk kesehatan gigi, ada baiknya memperhatikan hal-hal berikut:

  • Jangan mudah percaya klaim seperti "instan" atau "tanpa perlu ke dokter".
  • Cek kredibilitas sumber - pastikan informasinya berasal dari tenaga kesehatan yang kompeten.
  • Jangan jadikan pengalaman orang lain sebagai patokan - kondisi gigi tiap orang berbeda.
  • Segera konsultasi ke dokter gigi kalau ada keluhan, jangan tunggu sampai kondisinya memburuk.

Penutup

Kasus-kasus tambal gigi mandiri yang berujung infeksi penting untuk jadi pengingat. Tapi kalau edukasi kesehatan gigi hanya muncul lewat cerita "setelah kejadian", masyarakat baru sadar risikonya saat sudah terlambat. Idealnya, edukasi hadir lebih awal bukan hanya soal apa yang harus dilakukan, tapi juga mengapa pencegahan penting dilakukan sejak dini.





(nim/up)
Tambal Gigi Online
2 Konten
Tren menambal gigi dengan bahan-bahan 'DIY' (Do It Yourself) yang dibeli secara online bikin resah para dokter gigi. Dalam beberapa kasus, pasien malah mengalami infeksi karena tidak steril dan pemakaian bahan yang tidak sesuai.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads