Paparan Asap Karhutla Bisa Picu Risiko Kanker Paru, Ini Penjelasan Dokter

Paparan Asap Karhutla Bisa Picu Risiko Kanker Paru, Ini Penjelasan Dokter

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Rabu, 02 Sep 2026 20:03 WIB
A local farmer sprays water in an attempt to extinguish wildfires that are burning his palm oil plantation in Sungai Putri, Ketapang regency, West Kalimantan province, Indonesia, August 29, 2026. REUTERS/Willy Kurniawan
Ilustrasi asap imbas karhutla (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
Jakarta -

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa menjadi ancaman serius bagi masyarakat terdampak. Bahkan, paparan kabut asap tersebut berisiko munculkan kanker paru.

Dokter Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi dr Linda Masniari, SpP(K) mengatakan bahwa paparan asap dengan konsentrasi tinggi dapat memicu munculnya banyak masalah kesehatan di paru-paru.

"Kebakaran asap itu bisa menyebakan bronkitis, kemudian misalnya PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), terakhir bisa akut cedera paru," kata dr Linda saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan kalau misalnya dia terpapar lama, bisa menyebabkan kanker paru. Karena salah satu faktor risiko adalah kebakaran hutan dan lahan," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Terlepas dari karhutla, dr Linda mengatakan paparan asap-asap lain juga bisa menyebabkan masalah di organ paru, salah satunya kanker itu sendiri.

"Misalnya orang-orang di komplek atau di perumahan yang suka bakar sampah, itu juga bisa jadi pencetus terjadinya kanker paru. Jadi semua faktor lingkungan, misalnya asap rokok, asap kendaraan bermotor, kebakaran lahan," katanya.

Sebagai informasi, pada Senin (31/8) salah satu wilayah di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah tercatat memiliki nilai ndeks Standar Pencemar Udara (ISPU) bahkan sempat mencapai 848, PM10 menjadi pencemar yang dominan.

Kondisi serupa juga terlihat di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dengan ISPU 773, serta Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat, dengan ISPU 732. Di Kotawaringin Timur, PM10 menjadi pencemar yang dominan, sementara di Pontianak Tenggara adalah PM2.5.



(dpy/naf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads