BGN Buka-bukaan Biang Kerok Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan MBG

BGN Buka-bukaan Biang Kerok Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan MBG

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Kamis, 03 Sep 2026 11:13 WIB
Ilustrasi MBG
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Dariia Havriusieva)
Jakarta -

Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap penyebab keracunan ebih dari 500 santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), usai mereka dikabarkan menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Itu karena ketidakdisiplinan dari pada SPPG dan pendistribusian. Jadi seharusnya itu loading 4 jam selesai dari masak langsung dibagikan. Tapi faktanya di lapangan lebih dari 4 jam," kata Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedena, dikutip dari detikNews, Kamis (3/9/2026).

"Nah itulah yang menyebabkan keracunan, karena MBG ini kan nggak pakai pengawet. Jadi mudah dia basi. Mudah bakterinya cepat berkembang," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BGN sendiri sebenarnya memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait pengawasan makanan yang harus dilakukan dua kali sehari, pada pukul 17.00 saat bahan makanan masuk dan 02.00 saat proses masak.

ADVERTISEMENT

Sayangnya, masih banyak petugas dan kepala satuan pemenuhan pelayanan gizi (SPPG) yang tidak mematuhi. Selain itu ada juga sekolah yang tidak tepat waktu dalam membagikan MBG.

"Kenyataannya masih ada di beberapa daerah orang-orang ini, anak-anak kita ini, kepala-kepala SPPG ini, termasuk PIC-PIC, termasuk ada juga sekolah-sekolah yang tidak tepat waktu dalam membagikan MBG melebihi batas waktu yang ditetapkan," kata Ketut.

Korban Jadi 566 Orang, 88 Santri Diopname

Dikutip dari detikJatim, per Rabu (2/9) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo mencatat total korban yang mengalami gejala keracunan, seperti pusing, mual, muntah, dan diare mencapai 566 orang.

Kepala Dinkes Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina memastikan bahwa dari total tersebut, sebanyak 88 pasien masih menjalani perawatan rawat inap di rumah sakit dalam kondisi stabil.

Lakhsmie menyebutkan bahwa keluhan yang paling banyak dialami korban yakni pusing, mual, muntah, dan diare. Penanganan yang diberikan salah satunya berupa rehidrasi untuk memastikan kondisi cairan tubuh pasien tetap cukup.

"Kalau bagus saja rehidrasi saja cukup ya cepat. Dalam waktu 4-5 jam sudah selesai," jelasnya.



(dpy/kna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads