Abu Anak Krakatau Nempel di Jemuran, Haruskah Dicuci Ulang? Ini Saran Pakar Kesehatan

Abu Anak Krakatau Nempel di Jemuran, Haruskah Dicuci Ulang? Ini Saran Pakar Kesehatan

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Minggu, 06 Sep 2026 09:46 WIB
clothes that are drying on the balcony of the house
Ilustrasi jemuran. Foto: Getty Images/iStockphoto/Supersmario
Jakarta -

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi secara terus-menerus pada 5 September 2026 dan masih berlangsung hingga pukul 04.40 WIB. Debu vulkanik yang dihasilkan menyebar ke berbagai wilayah.

Partikel debu yang sangat halus ini juga bisa menempel pada pakaian. Dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), mengatakan, pakaian atau benda lain yang terkena debu vulkanik sebaiknya dicuci menggunakan air.

"Memang kalau sudah menempel di baju atau di bahan-bahan, misalnya di mobil, memang harus dicuci lagi, harus dikenai air. Kemudian dikeringkan di dalam ruangan, indoor, ya," kata dr Agus saat dihubungi detikcom, Minggu (6/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut perlu dilakukan karena debu yang menempel bisa terhirup. Sebab, partikelnya sangat halus.

ADVERTISEMENT

"Jadi, dia harus dilarutkan dengan air. Jadi, memang termasuk kita kalau habis aktivitas di luar rumah ketika debu vulkanik ini lagi banyak," tambahnya.

Setelah beraktivitas di luar rumah, debu yang menempel pada pakaian yang digunakan harus dilarutkan. Debu ini tidak akan hilang hanya dengan mengibaskan pakaian.

"Dia tidak bisa hilang dengan hanya dengan di apa istilahnya di kibas-kibas atau di apa Di-apa istilahnya atau dikebut-kebut nah itu tidak bisa," katanya.

Hal serupa juga perlu diperhatikan ketika debu vulkanik mengenai mata. Masyarakat tidak disarankan langsung mengucek mata karena partikel debu yang sangat halus dapat menempel pada permukaan mata dan berpotensi menyebabkan iritasi.

"Dia harus dilarutkan dengan air," pungkasnya.



(suc/up)
Dampak Abu Anak Krakatau
20 Konten
Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dapat berdampak pada kesehatan. Paparan partikel halus yang bersifat iritatif bisa memicu masalah pada kulit maupun pernapasan. Individu dengan masalah pernapasan kronis lebih rentan terdampak.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads