13 Saran IDAI Cegah Abu Vulkanik pada Anak, Termasuk Tunda Nyalakan AC-Kipas Angin

13 Saran IDAI Cegah Abu Vulkanik pada Anak, Termasuk Tunda Nyalakan AC-Kipas Angin

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Senin, 07 Sep 2026 11:27 WIB
Anak memakai masker
Foto: Getty Images/simon2579
Jakarta -

Abu vulkanik akibat erupsi gunung api dapat berdampak pada kesehatan anak. Partikel abu yang terhirup berisiko mengganggu saluran pernapasan, terutama pada anak yang memiliki riwayat asma atau alergi saluran napas.

Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan sejumlah rekomendasi untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik. Salah satunya adalah tidak menyalakan kipas angin ketika abu sudah masuk atau mengendap di dalam rumah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rekomendasi IDAI terkait abu vulkanik

Berikut 13 rekomendasi IDAI untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik:

ADVERTISEMENT

1. Mengungsikan anak

Langkah paling ideal adalah mengungsikan anak dan menjauhkannya dari lokasi yang terdampak langsung oleh letusan gunung api.

2. Tetap di dalam rumah saat kualitas udara buruk

Bila kondisi udara di lingkungan buruk, yakni nilai ISPU lebih dari 100, anak sebaiknya tetap berada di dalam rumah dengan kondisi pintu dan jendela tertutup rapat. Kualitas udara dapat dipantau melalui situs pemantau kualitas udara.

3. Jauhkan anak saat membersihkan abu

Anak sebaiknya tidak berada di sekitar lokasi ketika orang dewasa sedang membersihkan abu vulkanik.

4. Gunakan kain atau lap basah

Saat membersihkan rumah, gunakan lap atau kain basah. Lantai maupun benda yang hendak dibersihkan juga dapat dibasahi terlebih dahulu agar partikel abu tidak beterbangan ke udara.

5. Matikan alat yang memasukkan udara luar

Peralatan yang dapat menghisap udara dari luar, seperti AC, sebaiknya dimatikan. Jika tersedia, gunakan mode air recirculation atau closed vent.

6. Jangan menyalakan kipas angin

Kipas angin justru dapat membuat partikel debu yang sudah mengendap di lantai atau furnitur kembali beterbangan.

Partikel tersebut kemudian dapat terhirup oleh anak dan meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.

7. Gunakan masker untuk anak di atas 2 tahun

Anak berusia lebih dari 2 tahun dapat menggunakan masker khusus anak. Pastikan masker terpasang dengan baik dan ajarkan anak cara menggunakannya.

8. Gunakan pelindung mata

Mata anak juga perlu dilindungi dari paparan abu vulkanik. Orang tua dapat memberikan kacamata khusus anak ketika harus berada di luar rumah.

9. Kenakan pakaian tertutup

Pakaian tertutup dapat membantu mengurangi paparan langsung abu vulkanik terhadap kulit anak yang sensitif.

10. Siapkan obat rutin

Bila anak memiliki riwayat asma atau alergi saluran napas, pastikan obat-obatan rutin yang biasa digunakan tersedia dan mudah dijangkau.

11. Hindari polusi tambahan di dalam rumah

Jangan menambah paparan polusi di dalam rumah. Anak sebaiknya dijauhkan dari asap rokok maupun asap dapur.

12. Pastikan anak cukup minum

Orang tua juga perlu memastikan anak mendapatkan asupan cairan yang cukup untuk membantu mencegah dehidrasi.

13. Segera ke RS jika sesak napas

Anak harus segera dibawa ke rumah sakit bila mengalami gejala sesak napas. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain laju napas meningkat, terdapat tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen berdasarkan pemeriksaan dengan oksimeter jari.

IDAI mengingatkan orang tua untuk tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan pada anak setelah terpapar abu vulkanik. Perlindungan dari paparan sejak awal menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.



(naf/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads