Jangankan Dibasahi, Lembap Kena Uap Pernapasan Saja Masker Harus Rutin Diganti

Jangankan Dibasahi, Lembap Kena Uap Pernapasan Saja Masker Harus Rutin Diganti

Elmy Tasya Khairally - detikHealth
Senin, 07 Sep 2026 20:03 WIB
Warga berolahraga di kawasan CFD Sudirman-Thamrin, Jakarta, Minggu (6/9/2026). Menyebarnya abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sebagian pengunjung CFD memakai masker.
Foto: Menyebarnya abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sebagian pengunjung CFD memakai masker (Andhika Prasetia/detikFoto)
Jakarta -

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan saat menghadapi paparan abu vulkanik. Namun, masker tidak sebaiknya digunakan terus-menerus tanpa diganti.

Dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan, berbagai pedoman penggunaan masker dalam kondisi bencana polusi umumnya menyarankan penggunaan masker respirator yang diganti secara berkala.

"Secara berkala artinya, secara waktu tertentu harus diganti," ujar dr Agus dalam tayangan detikPagi, Senin (7/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, masker yang digunakan untuk menyaring udara dari luar akan menangkap berbagai kotoran. Di sisi lain, udara yang dikeluarkan saat bernapas mengandung uap air.

"Nah, uap air dari napas kita itu akan membuat masker kita itu terasa lembap setelah sekian jam. Nah, kalau lembap itu menjadi sumber infeksi. Oleh karena itu, harus diganti misalnya 6-8 jam sekali," jelasnya.

ADVERTISEMENT


Masker respirator menjadi masker yang ideal untuk digunakan saat terdapat banyak paparan abu vulkanik. Masker tersebut memiliki kemampuan filtrasi terhadap partikel-partikel halus.

"Rekomendasinya kemampuan filtrasinya harus di atas 95%. Namanya yang paling terkenal itu N95, KN95, atau FFP2, atau merek-merek lain. Prinsipnya, teman-teman bisa saja beli di berbagai online atau tempat, tapi harus dibaca," tambahnya.

Meski demikian, harga masker ini cukup mahal. Menurut dr Agus, masker yang tersedia dan mudah diakses tetap bisa digunakan, seperti masker bedah untuk melindungi diri.

"Secara teori, tentu efektivitas memfiltrasinya di dalam literatur-literatur itu hanya sekitar 50-60%. Filtrasi terhadap partikel halus, 9,5%," kata dr Agus.

"Tetapi itu lebih baik daripada Anda tidak pakai sama sekali. Jadi, cara pakainya harus benar, yang rapat supaya tidak bocor. Itu yang paling penting, ya," tambahnya.



(elk/up)
Masker Diburu Imbas Debu
14 Konten
Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masker jadi buruan banyak orang. Tak butuh waktu lama, kelangkaan imbas panik buying mulai bikin resah. Sudah langka, mahal pula.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads