Pasta Gigi SLS Vs Non-SLS, Mana yang Lebih Baik? Ini Faktanya

GigiPedia

Pasta Gigi SLS Vs Non-SLS, Mana yang Lebih Baik? Ini Faktanya

detikHealth
Rabu, 09 Sep 2026 07:09 WIB
Ni‘matun Mutmainah, S.H.G.
Ditulis oleh:
Ni‘matun Mutmainah, S.H.G.
Sarjana Higiene Gigi dari Universitas Gadjah Mada dengan kompetensi dalam upaya preventif-promotif kesehatan gigi dan mulut. Saat ini mengikuti program MagangHub sebagai penulis artikel gaya hidup.
pasta gigi SLS vs Non SLS
Pasta gigi. Foto: iStock
Jakarta -

Masih soal gosok gigi, netizen kembali dibuat bingung: mana yang lebih baik, pasta gigi SLS dan Non-SLS? Banyak informasi yang simpang siur tentang perdebatan ini, yang pastinya bikin tambah bingung.

Jawabannya memang tidak sesederhana "SLS buruk, non-SLS lebih baik". Keduanya punya formulasi berbeda, dan pilihan paling sesuai bergantung pada kondisi serta kenyamanan masing-masing orang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu SLS?

Sodium Lauryl Sulfate (SLS) adalah surfaktan zat yang membentuk busa dan menyebarkan bahan aktif secara merata saat menyikat gigi. Karena itu, pasta gigi ber-SLS cenderung menghasilkan busa lebih banyak.

ADVERTISEMENT

Tapi busa bukan ukuran kebersihan gigi. Gigi dibersihkan terutama lewat gerakan menyikat secara mekanis, sementara bahan aktif seperti fluoride yang berperan melindungi dari karies. Pasta gigi berbusa banyak belum tentu lebih efektif dibanding yang busanya sedikit.

Apa Itu Pasta Gigi Non-SLS?

Pasta gigi non-SLS adalah pasta gigi yang tidak memakai SLS dalam formulanya namun bukan berarti tidak berbusa sama sekali. Produk jenis ini masih bisa memakai surfaktan lain (misalnya cocoamidopropyl betaine/CAPB), sehingga tetap bisa menghasilkan busa meski jumlah dan karakternya berbeda dari pasta gigi ber-SLS.

Apakah SLS Berbahaya?

Bagi kebanyakan orang, SLS umumnya aman. Tapi sebagian orang bisa mengalami sensitivitas atau iritasi di mulut, salah satunya terkait sariawan berulang (recurrent aphthous stomatitis/RAS).

Penelitian yang meninjau 4 studi kecil (Alli, Erinoso, & Olawuyi, 2019, Journal of Oral Pathology & Medicine; total 124 orang) menemukan pasta gigi bebas SLS cenderung mengurangi jumlah, durasi, dan rasa sakit sariawan dibanding pasta gigi ber-SLS. Namun buktinya masih lemah: bagian intinya cuma berdasarkan 66 orang dari 2 studi, kualitas studinya belum ideal, dan studi lain (Healy dkk.) justru tidak menemukan perbedaan.

Jadi indikasinya ada, tapi belum cukup kuat untuk jadi rekomendasi pasti masih perlu penelitian lebih besar.

Jadi, Non-SLS Lebih Baik?

Belum tentu untuk semua orang. Pasta gigi non-SLS bisa dipertimbangkan terutama bagi yang punya riwayat sariawan berulang atau merasa lebih nyaman memakainya. Tapi label "SLS-free" tidak otomatis berarti lebih efektif melindungi gigi dari karies kandungan aktif lain, terutama fluoride, tetap harus diperhatikan.

Jangan Lupakan Fluoride

Fluoride berperan penting mencegah karies, jadi keberadaannya jadi hal utama saat memilih pasta gigi bukan ada-tidaknya SLS. Ini juga berkaitan dengan kebiasaan berkumur: terlalu banyak berkumur dengan air setelah menyikat gigi dapat membilas fluoride yang tersisa di permukaan gigi. Karena itu, disarankan meludahkan sisa pasta gigi tanpa langsung berkumur banyak air.

Jadi, pertanyaan yang lebih penting bukan "mana yang lebih sedikit busanya?", melainkan "apakah pasta gigi ini mengandung fluoride dan nyaman dipakai rutin?"

Kesimpulan

Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua orang. Kalau pasta gigi ber-SLS nyaman dan tidak menimbulkan masalah, tidak perlu langsung dianggap buruk. Sebaliknya, kalau punya riwayat sariawan berulang atau lebih nyaman dengan non-SLS, pilihan itu juga sah meski bukti ilmiahnya masih awal dan terbatas.

  • SLS: surfaktan pembentuk busa; umumnya aman, meski sebagian orang (terutama dengan riwayat sariawan berulang) bisa lebih sensitif bukti masih terbatas dan belum konsisten.
  • Non-SLS: tidak memakai SLS, tapi bukan jaminan bebas busa atau otomatis "lebih sehat".
  • Mana yang lebih baik? Tidak bisa ditentukan hanya dari ada-tidaknya SLS yang lebih menentukan adalah kandungan fluoride dan kenyamanan pemakaian rutin.

Jadi, jangan menilai pasta gigi dari seberapa banyak busanya. Busa banyak bukan berarti lebih bersih, dan busa sedikit bukan berarti kurang efektif.



(nim/up)
Kumur Sehabis Gosok Gigi
7 Konten
Kebiasaan kumur-kumur setelah gosok gigi rupanya memicu perdebatan di media sosial. Dalam beberapa video viral, para idol K-pop seperti Haectan NCT sering terlihat tidak kumur setelah gosok gigi, lalu banyak yang meyakini memang idealnya begitu.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads