Kemenkes Ingatkan Risiko 'Copycat Suicide' di Balik Viral Kasus Bunuh Diri di GBK

Kemenkes Ingatkan Risiko 'Copycat Suicide' di Balik Viral Kasus Bunuh Diri di GBK

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 10 Sep 2026 12:07 WIB
Ilustrasi Depresi.
Foto: Gadiel Lazcano/Unsplash
Jakarta -

CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangai klinik kesehatan jiwa. Layanan konsultasi kesehatan jiwa juga disediakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) di laman resminya yaitu www.pdskji.org. Melalui laman organisasi profesi tersebut disediakan pemeriksaan secara mandiri untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa seseorang.

Kasus seorang pria yang ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, setelah sebelumnya mengunggah pesan yang mengindikasikan hendak bunuh diri, menjadi perhatian. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (6/9/2026) dini hari.

Kasus itu kembali menyoroti pentingnya pencegahan bunuh diri, terutama di tengah temuan bahwa masalah kesehatan jiwa mulai banyak dikeluhkan kelompok usia muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Imran Pambudi mengingatkan agar isu bunuh diri sebaiknya tidak menjadi pemberitaan masif yang berpotensi memicu orang lain melakukan tindakan serupa.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, sudut pandang kasus terkait perlu diarahkan kepada pentingnya mencari pertolongan ketika seseorang mengalami masalah atau tekanan psikologis.

"Karena memang bisa menginspirasi orang lain bertindak bunuh diri bila mengalami masalah. POV-nya perlu dibalik, orang dengan masalah perlu cari pertolongan," beber Imran, kepada detikcom, menyikapi bahasan viral di media sosial terkait meninggalnya pria tersebut.

Imran mengngatkan layanan yang dapat diakses masyarakat secara gratis yakni hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id. Layanan kesehatan mental tersebut memberikan dukungan psikologis awal serta informasi bagi masyarakat yang mengalami tekanan, keputusasaan, hingga dorongan untuk mengakhiri hidup.

Berdasarkan catatan layanan hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id periode 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, klien didominasi kelompok usia 21-30 tahun.

Namun, layanan tersebut juga telah diakses anak-anak dengan usia yang jauh lebih muda. Tercatat satu anak berusia 8 tahun, satu anak berusia 9 tahun, dan sembilan anak berusia 10 tahun telah mengakses layanan tersebut.

Keluhan pada kelompok usia muda tersebut banyak berkaitan dengan rasa kesepian.

"Layanan Healing 119.id telah diakses mulai kelompok usia 8 hingga 10 tahun, dan keinginan mengakhiri hidup terbanyak pada kelompok 11-30 tahun," kata Imran.

Perempuan Dominasi Pengakses Layanan

Dari sisi jenis kelamin, mayoritas masyarakat yang berkonsultasi melalui layanan tersebut merupakan perempuan, yakni mencapai 73,93 persen.

Dari sekitar 15 ribu konseling yang masuk, sebanyak 7.600 di antaranya diketahui ingin melanjutkan konseling. Sementara 3.036 orang mengaku memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.

Adapun sisanya berkaitan dengan permintaan informasi, spam, maupun tidak adanya respons dari pengakses.

Masalah Keluarga Jadi Pemicu Terbanyak

Imran mengatakan masalah keluarga menjadi pemicu yang paling banyak ditemukan pada pengakses layanan Healing 119.id.

"Masalah dengan primary support group (keluarga) mendominasi di seluruh usia," ujarnya.

Permasalahan keluarga tersebut mencakup kekerasan dalam rumah tangga, relasi antara orang tua dan anak, hingga konflik keluarga.

Setelah masalah keluarga, pemicu berikutnya adalah persoalan psikologis dan psikososial, seperti gejala depresi, stres, kecemasan, dan perasaan putus asa.

Selanjutnya, terdapat masalah lingkungan sosial yang berkaitan dengan bullying, tekanan pertemanan, dan isolasi sosial.

Persoalan ekonomi juga ditemukan, antara lain terkait kendala biaya sekolah, tekanan finansial keluarga, judi online, hingga pinjaman online.

Simak juga Video Kemenkes: Kasus Bunuh Diri RI Naik Tiap Tahun

Halaman 2 dari 2
(naf/kna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads