IDAI Usul MBG Dimasak di Kantin Sekolah demi Jaga Keamanan Pangan

IDAI Usul MBG Dimasak di Kantin Sekolah demi Jaga Keamanan Pangan

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Sabtu, 12 Sep 2026 14:12 WIB
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kebagusan II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kembali beroperasi menyalurkan Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada penerima manfaat, Kamis (10/9/2026).
Foto: Rifki Afifan Pridiasto
Jakarta -

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengusulkan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimasak dan disajikan di kantin sekolah. Hal ini bertujuan untuk memastikan keamanan pangan, bukan dengan menjadikan guru mencicipi makanan sebagai satu cara memastikan keamanan pangan.

"Standar keamanan pangan itu sangat ketat dan tidak bisa ditawar-tawar lagi," kata Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp A, Subsp.Kardio(K), dalam media briefing, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, dengan memasak MBG di kantin sekolah, makanan yang disajikan lebih hangat atau segar saat dihidangkan. Selain itu, konsep penyajiannya bisa dibentuk sesuai selera anak agar mau dimakan, contohnya prasmanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu dia sampaikan merespons kejadian keracunan yang berulang kali terjadi pada program nasional itu. Dia mengatakan bagi sebagian orang, kejadian-kejadian itu mungkin dipandang sekedar angka statistik, namun masalah itu membuat orang tua sangat sedih.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, niat yang mulia, yakni memberi gizi pada anak-anak, perlu dibarengi dengan upaya untuk memastikan makanan yang dikonsumsi aman dan memenuhi standar.

Oleh karena itu, dia merekomendasikan untuk meninjau ulang konsep MBG, mengevaluasi secara objektif dan menyeluruh.

Senada, Prof Dr Damayanti Rusli dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI mengatakan keracunan pangan disebabkan oleh dua hal, pertama food-based hazard yang datang dari paparan kimia, fisik pada makanan. Contohnya bakteri, jamur, cacing, pestisida.

"Yang kedua adalah si orang sendiri, orang tersebut yang menyebabkan hazardnya tadi. Jadi, bisa dari makanannya, bisa dari perilakunya untuk mengolah makanan," katanya.

Dia mencontohkan mencampurkan makanan mentah dengan makanan yang sudah masak, temperatur penyimpanan makanan yang salah, bahan yang kurang bersih pencuciannya.

Menurut data 2015 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari 10 orang mengalami keracunan makanan. Dia mengingatkan bahwa keracunan dapat menyebabkan kematian.

"Nah, siapa yang sangat sensitif terhadap keracunan tersebut? Satu adalah lansia, kemudian anak-anak di bawah 5 tahun. Jadi, nanti kalau MBG-nya sudah masuk ke 3B (Bayi, Balita, Bumil/Ibu Hamil), ini lebih lagi, risikonya lebih besar. Kemudian orang-orang yang daya tahan tubuhnya rendah," katanya.



(suc/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads