Gaduh soal Mindfulness, Dokter Jiwa Ingatkan Biar Nggak Jadi Toxic Positivity

Gaduh soal Mindfulness, Dokter Jiwa Ingatkan Biar Nggak Jadi Toxic Positivity

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Senin, 14 Sep 2026 20:04 WIB
Closeup of woman hand in yoga symbolic gesture mudra wearing bracelets
Foto: Getty Images/irina_girich
Jakarta -

Perbincangan mengenai narasi mindfulness yang disuarakan di tengah situasi bencana menuai sorotan. Psikiater RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo Kembaren, mengingatkan agar seruan untuk selalu berpikir positif di ruang publik tidak bergeser menjadi toxic positivity yang justru melukai perasaan orang lain.

dr Lahargo menjelaskan bahwa toxic positivity terjadi ketika dorongan untuk selalu bersikap positif membuat emosi negatif, penderitaan, maupun realitas sulit yang dialami para korban diabaikan atau disangkal.

"Toxic positivity terjadi ketika dorongan untuk selalu berpikir positif justru membuat emosi negatif, penderitaan, atau realitas sulit menjadi diabaikan, diremehkan, bahkan disangkal. Contohnya: 'Jangan sedih, harus bersyukur', 'Jangan terlalu dipikirkan, positive thinking saja', atau 'Semua pasti ada hikmahnya'. Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu salah, tetapi timing dan konteks sangat menentukan," ujar dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Senin (14/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyoroti bahwa dalam situasi krisis atau bencana, empati tidak selalu membutuhkan nasihat atau ajakan untuk langsung berpikiran positif. Ungkapan yang diniatkan untuk perawatan diri (self-care) dapat diterima secara menyakitkan jika disebarkan tanpa kepekaan terhadap kondisi psikologis masyarakat yang sedang berduka.

ADVERTISEMENT

Mindfulness Sejati Tidak Mengajarkan Apatis

Meluruskan simpang siur mengenai konsep mindfulness, Lahargo menekankan bahwa mindfulness bukan berarti menutup mata terhadap berita buruk atau memalingkan wajah dari bencana. Sebaliknya, mindfulness adalah kemampuan untuk menyadari realitas yang terjadi secara jernih agar seseorang mampu mengelola emosinya dan merespons dengan tindakan yang bermanfaat.

"Jadi mindfulness bukan berarti menutup mata terhadap berita buruk, penderitaan, atau bencana. Justru kita mengakui realitas tersebut sambil menjaga agar emosi kita tidak sampai mengambil alih seluruh kemampuan untuk berpikir dan bertindak," jelasnya.

Ia menyebutkan pembeda mendasar antara kedua konsep tersebut terletak pada bagaimana respons terhadap emosi yang hadir saat menghadapi bencana.

"Dan mungkin pembeda paling sederhana antara mindfulness dan toxic positivity adalah, mindfulness memberi ruang pada emosi, toxic positivity menyuruh emosi segera pergi. Mindfulness bukan memalingkan wajah dari realitas. Mindfulness membantu kita menghadapi realitas tanpa kehilangan diri sendiri," pungkas dr Lahargo.



(kna/kna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads