Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad, kembali harus dilarikan ke rumah sakit pada usianya yang telah menginjak 101 tahun. Ia dirawat di Institut Jantung Negara (IJN) Kuala Lumpur sejak Selasa (29/9) malam untuk menjalani observasi medis secara intensif.
Kabar dirawatnya pria tertua yang pernah memimpin Malaysia tersebut dikonfirmasi oleh juru bicaranya, Sufi Yusoff, serta sang putra, Mokhzani. Peristiwa ini terjadi hanya selang dua hari setelah sang istri tercinta, Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali, meninggal dunia pada Minggu (28/9) di usia 100 tahun.
Mokhzani mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan ayahnya sangat dipengaruhi oleh tekanan emosional berat usai kehilangan pendamping hidupnya selama 70 tahun tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beliau dirawat di IJN untuk observasi. Dua hari terakhir ini sangat berat dan memicu stress bagi beliau. Namun saat ini kondisinya stabil dan tidak dalam keadaan yang mengkhawatirkan," ujar Mokhzani dikutip dari agensi berita Bernama.
Duka Mendalam Pasangan Lansia
Dalam prosesi pemakaman sang istri pada 28 September 2026, Mahathir yang duduk di kursi roda listrik dengan bantuan selang oksigen tak mampu menahan air matanya.
Dalam rekaman video yang diunggah di akun media sosialnya, Mahathir tampak menangis terisak sembari berbisik kepada mantan Raja Malaysia bahwa ia tak menyangka sang istri akan pergi secepat itu.
Duka mendalam (grief) serta stres akibat kehilangan pasangan hidup pada kelompok lanjut usia (lansia) memang diketahui dapat berdampak signifikan pada kesehatan fisik, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis.
BACA JUGA:
Riwayat Masalah Jantung
Di usianya yang ke-101 tahun, Mahathir memiliki riwayat medis yang cukup panjang. Eks PM Malaysia ini diketahui memilki riwayat penyakit jantung dan telah beberapa kali menjalani operasi bypass.
Selain masalah jantung, dalam beberapa tahun terakhir Mahathir juga berulang kali bolak-balik dirawat di rumah sakit. Pada Januari lalu, ia sempat dirawat akibat mengalami patah tulang pinggul usai jatuh.
Stres berat dan duka emosional pada lansia centenarian (berusia di atas 100 tahun) seperti Mahathir berisiko memicu gangguan pada sistem kardiovaskular. Kondisi stres mendadak ini kerap dikaitkan dengan sindrom patah hati (Broken Heart Syndrome) atau Takotsubo Cardiomyopathy, yang gejalanya menyerupai serangan jantung.
Meskipun demikian, tim medis IJN hingga kini masih melakukan pemeriksaan dan observasi mendalam untuk menentukan diagnosis resmi terkait penyebab pasti menurunnya kondisi kesehatan Mahathir.
BACA JUGA:
Lihat juga Video 'Tak Kuasa Menahan Duka, Tangis Mahathir Pecah di Pemakaman Siti Hasmah':










































