Unggahan video hasil pemeriksaan usus besar (kolonoskopi) mendadak viral dan memicu perdebatan hangat di media sosial X. Kehebohan ini bermula dari cuitan seorang dokter asal India, Dr. AK dengan nama pengguna @docakx.
Dalam video yang dibagikannya, terlihat perbedaan mencolok antara usus besar normal dan usus pasien yang mengalami penyalahgunaan obat pencahar (laxative abuse). Pada pasien yang mengalami laxative abuse, dinding usus besar tampak dipenuhi corak pola jaring berwarna kehitaman menyerupai kulit macan.
Fenomena ini lantas menjadi perbincangan publik, terutama di kalangan konsumen produk teh pelangsing, teh detoks, hingga suplemen yang menjanjikan kelancaran buang air besar (BAB) demi menurunkan berat badan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsultan gastroenterohepatologi dari Mayapada Hospital, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, FINASIM, memberikan penjelasan medis mengenai kondisi yang menggegerkan jagat maya tersebut.
Bahaya Laxative Abuse Demi Menurunkan Berat Badan
Menurut dr Aru, kondisi yang dialami pasien dalam video viral tersebut disebabkan oleh laxative abuse, yakni penggunaan (atau penyalahgunaan) pencahar yang tidak rasional. Banyak orang sengaja mengonsumsi obat pencahar secara mandiri tanpa pengawasan medis demi mendapatkan berat badan ideal.
"Jadi, itu adalah suatu kondisi di mana orang itu butuh banget dengan pencahar. Jadi, ketergantungan akan suatu obat-obatan untuk membantu buang air besar supaya bisa normal. Jadi, penggunaan obat-obat pencahar yang tidak sesuai aturan medis yang jelas," jelasnya kepada detikcom, Jumat (2/10/2026).
Ia menambahkan, upaya menurunkan berat badan dengan cara memicu BAB secara berlebihan merupakan tindakan yang berisiko bagi kesehatan usus.
Penyebab Dinding Usus Bercorak Seperti Kulit Harimau
Corak kehitaman menyerupai kulit harimau pada usus besar tersebut bukanlah hal mistis, melainkan reaksi kimia dari jenis pencahar tertentu. Dijelaskan oleh dr Aru, obat pencahar golongan antrakuinona, yang sering ditemukan pada tanaman herbal, bisa jadi pemicunya.
"Jadi, itu adalah obat pencahar yang golongannya namanya jenisnya anthraquinone. Jadi anthraquinone itu biasanya jenis-jenisnya adalah seperti dia mengandung Senna. Senna itu sejenis tanaman, ada Senna atau mengandung aloe vera atau lidah buaya, atau mengandung Cascara," terangnya.
Apakah harus dihindari? Tentu saja tidak, yang paling penting penggunaannya terkontrol dan sangat dianjurkan untuk konsultasi dulu ke profesional kesehatan supaya tidak harus mengalami efek samping tersebut.
Simak Video "Video: IDI Bakal Panggil Dokter yang Diduga Hina Pasien BPJS di Medsos"
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)










































