Rutin Jalan Kaki Bisa Bikin Otak Lebih 'Encer', Ini Alasannya

Rutin Jalan Kaki Bisa Bikin Otak Lebih 'Encer', Ini Alasannya

Elmy Tasya Khairally - detikHealth
Minggu, 04 Okt 2026 07:05 WIB
Shoes, fitness and exercise with a sports woman tying her laces before training, running or a workout. Hands, health and cardio with a female runner or athlete getting ready for an endurance run
Foto: Ilustrasi jalan kaki (Getty Images/PeopleImages)
Jakarta -

Banyak orang menganggap berjalan kaki sebagai aktivitas yang ringan dan tidak membutuhkan banyak usaha. Namun, aktivitas ini ternyata menawarkan berbagai manfaat bagi kesehatan.

Meski terlihat sederhana, ada banyak proses yang terjadi di otak saat seseorang berjalan sehingga membantu menjaga otak tetap aktif.

Dikutip dari laman Hindustan Times, dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Yathart, India, dr Kunal Bahrani, mengatakan banyak aktivitas yang berlangsung di dalam otak ketika seseorang sedang berjalan. Otak secara bersamaan menerima berbagai informasi dari mata, telinga, otot, dan persendian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Otak Anda harus menilai di mana kaki Anda harus mendarat, menjaga keseimbangan, menyesuaikan kecepatan, dan bereaksi jika sesuatu tiba-tiba menghalangi jalan Anda," tambahnya.

Menurut pakar tersebut, berjalan kaki secara rutin juga dapat meningkatkan kebugaran kardiovaskular serta membantu mengontrol tekanan darah, kadar gula darah, dan berat badan. Mengingat otak membutuhkan aliran darah yang sehat, menjaga faktor-faktor tersebut juga dapat membantu mendukung kesehatan pembuluh darah yang memasok darah ke otak.

ADVERTISEMENT

Bergerak Bisa Membantu Mengatasi Kelelahan Mental?

Jika merasa lelah secara mental, seseorang mungkin cenderung lebih sedikit bergerak. dr Bahrani mengatakan, pasien yang mengeluhkan kondisi tersebut sering menceritakan rutinitas sehari-hari yang minim aktivitas fisik.

"Saya juga melihat hubungan ini dalam praktik klinis sehari-hari. Pasien yang mengeluh merasa lelah secara mental, tidak mampu berkonsentrasi, atau 'tidak setajam sebelumnya' sering menggambarkan hari-hari yang melibatkan sedikit sekali gerakan. Tentu saja, gejala-gejala ini dapat disebabkan oleh banyak hal, termasuk kurang tidur, stres, pengobatan, atau kondisi medis yang mendasarinya. Tetapi ketika sebagian besar waktu dihabiskan untuk duduk, meningkatkan aktivitas fisik adalah salah satu perubahan praktis yang patut dipertimbangkan," ujarnya berdasarkan apa yang ia lihat di kliniknya.

Jadi, manfaat bergerak tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dapat memberikan dampak secara psikologis.

Berjalan Kaki Bisa Meningkatkan Fungsi Kognitif

dr Bahrani juga mengatakan bahwa berjalan kaki secara rutin dapat membantu mendukung fungsi kognitif, termasuk kemampuan merencanakan, mengatur, mengambil keputusan, dan menghadapi berbagai tuntutan yang saling bertentangan. Aktivitas fisik juga dapat mendukung daya ingat.

Ia menjelaskan, aktivitas fisik berkaitan dengan perubahan fungsi otak serta area yang berperan dalam proses belajar dan mengingat, termasuk hipokampus.

Namun, bukan berarti semakin sering berjalan kaki, daya ingat otomatis menjadi semakin baik. Ada hal penting yang perlu dipahami terkait hubungan keduanya.

"Hubungannya tidak sesederhana 'semakin banyak berjalan kaki berarti semakin baik daya ingat'. Namun, tetap aktif secara fisik semakin diakui sebagai salah satu bagian dalam menjaga kesehatan otak seiring bertambahnya usia," ujarnya.

Selain itu, berjalan kaki juga dapat memberikan manfaat secara tidak langsung, seperti membantu mengelola stres dengan lebih baik dan meningkatkan kualitas tidur. Keduanya dapat mendukung kemampuan berkonsentrasi.

Bagi lansia, berjalan kaki secara rutin dan aman juga dapat membantu mempertahankan mobilitas serta kemandirian.

Halaman 2 dari 2
(elk/kna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads