Kecanduan Teh Pelangsing? Ini Saran Dokter soal Laxative Abuse

Kecanduan Teh Pelangsing? Ini Saran Dokter soal Laxative Abuse

Aura Zahradiva Penggalih - detikHealth
Minggu, 04 Okt 2026 13:04 WIB
Weigh scales and measuring tape on white textured background, top view with space for text. Overweight concept
Kecanduan teh pelangsing bisa berdampak negatif. Foto: Getty Images/Liudmila Chernetska
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, unggahan hasil kolonoskopi seorang dokter asal India, Dr AK dengan nama pengguna @docakx mendadak viral di media sosial X setelah memperlihatkan dinding usus besar pasien yang bercorak kehitaman menyerupai kulit harimau.

Fenomena akibat penyalahgunaan obat pencahar (laxative abuse) ini memicu perdebatan hangat, terutama di kalangan pengguna teh pelangsing, teh detoks, hingga suplemen pencahar harian.

Banyak orang mengonsumsi produk tersebut secara rutin dengan harapan dapat membuang lemak dan menurunkan berat badan secara instan. Padahal, kebiasaan ini berisiko memicu ketergantungan dan merusak fungsi alami usus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, bagaimana cara bijak menyikapi penggunaan suplemen atau teh pelancar BAB agar tidak terjebak dalam kecanduan?

ADVERTISEMENT

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterohepatologi, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, FINASIM membagikan beberapa panduan penting berikut.

1. Pahami Indikasi Obat dan Hindari Membeli Sembarangan

dr Aru menegaskan, obat pencahar, baik dalam bentuk kemasan medis, herbal, maupun produk teh memiliki fungsi dan indikasi kesehatan yang spesifik, sehingga tidak bisa dikonsumsi semaunya.

"Jadi, saran saya kalau seandainya ingin menggunakan obat-obat pencahar, apalagi untuk menurunkan berat badan, itu sebaiknya konsultasikan ke dokter dulu ya, ke tenaga medis yang dekat untuk kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut," jelas dr Aru kepada detikcom, Jumat (2/10/2026).

Ia juga mengimbau, jangan mudah tergiur membeli produk-produk pelancar BAB atau pelangsing dari tempat-tempat yang tidak terjamin legalitas medisnya.

"Jangan sembarangan beli ke apotek atau beli ke toko obat-obatan, entah obat apapun juga, termasuk obat pencahar seperti ini. Itu sih pesan saya," tegasnya.

2. Obat Pencahar Bukan Solusi Utama Menurunkan Berat Badan

Tujuan utama dari pengonsumsian pencahar adalah membantu mengatasi keluhan saluran pencernaan tertentu, bukan untuk membakar lemak tubuh.

Menggunakan pencahar secara terus-menerus demi mengejar bentuk tubuh ideal justru membahayakan kesehatan usus.

"Kalau dia pengen menurunkan berat badan, mungkin ya tidak dengan pencahar, mungkin ada obat-obatan yang lain yang bisa membantu turunkan berat badan atau memperbaiki gaya hidup," tuturnya.

3. Utamakan Perbaikan Gaya Hidup Secara Alami

Dibandingkan bergantung pada teh pelangsing atau pencahar yang dapat memicu laxative abuse, dr Aru merekomendasikan langkah alami yang jauh lebih aman dan berkelanjutan untuk melancarkan pencernaan.

"Mungkin dimulai dengan memperbaiki gaya hidup, seperti memperbaiki pola makan, jadi tinggi serat, banyak minum air putih, olahraga, berjalan, habis makan nggak boleh berbaring, itu akan membantu gerakan usus, itu harus dikerjakan," sarannya.

Melalui pola hidup yang sehat, usus akan terstimulasi untuk berkontraksi secara mandiri tanpa memerlukan dorongan zat kimia atau bahan herbal pencahar yang berisiko merusak dinding organ pencernaan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Sebaran Wilayah di Gorontalo yang Terdampak Kabut Asap Karhutla"
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)
Laxative Abuse
6 Konten
Sebuah video viral menunjukkan permukaan usus bermotif belang-belang seperti kulit macan, disebut efek laxative abuse. Tren penggunaan laxative atau pencahar untuk menurunkan berat badan secara instan lantas jadi sorotan.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads