Kepala BGN Bongkar Pungli Ompreng MBG, Minta Setoran ke Mitra Dapur

Kepala BGN Bongkar Pungli Ompreng MBG, Minta Setoran ke Mitra Dapur

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Minggu, 04 Okt 2026 16:07 WIB
Petugas SPPG menyiapkan Makan Siang Gratis (MBG) (Antara Foto/Andry Denisah)
Foto: Ilustrasi Makan Siang Gratis (Antara Foto/Andry Denisah)
Jakarta -

Badan Gizi Nasional (BGN) membongkar praktik tidak terpuji yang mengancam mutu dan kualitas program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala BGN Sudaryono mendapati adanya oknum yayasan yang meminta 'setoran' atau pungutan liar (pungli), per ompreng makanan kepada mitra pengelola dapur.

Temuan ini menjadi perhatian serius, terutama dari kacamata kesehatan masyarakat dan pemenuhan gizi anak. Pemotongan anggaran per porsi dikhawatirkan berdampak langsung pada tergerusnya kualitas nutrisi, berkurangnya porsi makanan, hingga terabaikannya aspek higienitas.

Sudaryono menegaskan bahwa tindakan pungutan tidak resmi tersebut mengancam pencapaian target perbaikan gizi generasi muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami menemukan ada yayasan yang meminta setoran sekian rupiah per ompreng ke mitra dapur MBG. Ini tidak boleh terjadi karena setiap rupiah yang dialokasikan harus kembali dalam bentuk makanan yang bergizi utuh untuk anak-anak," tegas Sudaryono.

ADVERTISEMENT

Awas Kualitas Gizi dan Kebersihan Makanan Disunat

Praktik meminta setoran per porsi ini sangat mengkhawatirkan bagi pemenuhan gizi anak-anak sekolah. Jika dana operasional dapur tergerus oleh pungli, pengelola dapur berisiko mengompromikan bahan baku berkualitas.

Mulai dari mengurangi porsi protein hewani (daging, ayam, telur, ikan), sayuran segar, maupun buah-buahan pendamping.

Padahal, komposisi piring makan dalam program MBG telah dirancang berdasarkan perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG) demi menekan angka stunting, mencegah gizi kurang, serta menunjang konsentrasi belajar anak.

Selain ancaman penurunan mutu gizi, pemangkasan anggaran akibat pungli berpotensi memicu pengabaian standar sanitasi serta keamanan pangan (food safety) saat proses pengolahan di dapur, yang rentan memicu kasus keracunan makanan.

"Kami menegaskan kepada seluruh mitra pengelola dapur untuk tidak melayani permintaan setoran dari pihak manapun. Kalau anggaran dipotong, yang dirugikan adalah kualitas piring makan anak-anak kita," lanjut Sudaryono.

Guna mencegah dampak buruk terhadap pemenuhan gizi nasional, BGN memperketat pengawasan di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk menindak tegas oknum yayasan yang terlibat.

BGN juga mengimbau mitra pengelola dapur untuk berani melaporkan segala bentuk intimidasi maupun pemotongan dana demi menjaga kualitas makanan anak-anak Indonesia.



(sao/kna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads