Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, hingga obesitas kian membayangi masyarakat Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mewanti-wanti masyarakat untuk mulai memperketat pola hidup sehat demi mencegah komplikasi penyakit mematikan seperti stroke dan jantung.
Pesan tegas tersebut disampaikan dalam puncak peringatan Patient Safety Day 2026 yang digelar BPOM di Lippo Village Main Campus Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Kamis (1/10/2026). Mengusung tema "Prevent Non-Communicable Diseases, Protect Lives", acara ini merupakan bagian dari peringatan World Patient Safety Day (WPSD) 2026 yang diinisiasi oleh WHO dengan slogan "Safe care for life!".
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa keselamatan dan kesembuhan pasien adalah aspek utama dalam pelayanan kesehatan. Meningkatnya beban PTM harus direspons dengan langkah promotif dan preventif yang nyata, bukan sekadar mengobati saat sudah sakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kata kuncinya adalah mencegah penyakit tidak menular melalui program promotif dan pencegahan, antara lain dengan membatasi gula, garam, dan lemak (GGL). Penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas, dapat berdampak pada penyakit yang lebih berat, seperti penyakit stroke, kanker, atau penyakit kardiovaskuler lainnya," ujar Taruna dalam keterangan yang diterima detikcom, Minggu (4/10/2026).
Bukan tanpa alasan, ancaman PTM saat ini memang sangat nyata. Data dari WHO menunjukkan PTM menyumbang hingga 74 persen kematian secara global. Sementara itu, berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi PTM di Indonesia berada di angka yang mengkhawatirkan:
- Hipertensi: 30,8 persen pada penduduk usia 18 tahun ke atas.
- Diabetes: 11,7 persen pada penduduk usia 15 tahun ke atas.
- Obesitas: 23,4 persen pada penduduk usia di atas 18 tahun.
Dorong Kesadaran Efek Samping Obat via e-MESO
Selain menekankan pentingnya membatasi asupan gula, garam, dan lemak, BPOM juga menyoroti aspek keselamatan pasien dari sisi penggunaan obat yang aman. Pengawasan obat tidak hanya dilakukan sebelum beredar, tetapi juga secara post-market (farmakovigilans).
"Kalau masyarakat sudah sakit, kita harus memastikan teknik pengobatan dan pelayanan, termasuk produk obat dan makanan di masyarakat, mampu termonitor post-market-nya melalui sistem farmakovigilans," terang Taruna.
Untuk memudahkan masyarakat dan tenaga kesehatan melaporkan dugaan efek samping obat, BPOM telah menyediakan layanan daring berupa aplikasi e-MESO (Monitoring Efek Samping Obat). Penguatan farmakovigilans ini juga telah dipayungi oleh Peraturan BPOM Nomor 4 Tahun 2026.
Bangun Kesadaran Sejak Masa Perkuliahan
Acara yang diikuti oleh 450 peserta luring serta ribuan peserta via Zoom dan YouTube ini sengaja menyasar lingkungan perguruan tinggi. Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (Deputi 1) BPOM William Adi Teja menyampaikan bahwa mahasiswa merupakan kelompok strategis untuk menanamkan budaya keselamatan pasien sejak dini.
Rektor UPH Jonathan L Parapak menyambut positif langkah BPOM yang masuk ke lingkungan kampus, dan berharap model edukasi kreatif seperti ini dapat direplikasi di universitas lainnya. Sementara itu, Perwakilan WHO Indonesia Uhjin Kim turut menegaskan bahwa keselamatan pasien adalah tanggung jawab bersama demi tercapainya Universal Health Coverage.
Kegiatan ini diakhiri dengan aksi simbolis penyampaian komitmen patient safety lewat Wellness Tree, dua sesi talk show interaktif bersama pakar dan kreator konten kesehatan seperti dr Clarin Hayes, dr Bobby Arfhan Anwar, dan apoteker Rahmat Hidayat Syah 'Mr Matt', serta penyerahan hadiah 10.000 Steps per Day Challenge.
BPOM berharap paradigma keselamatan masyarakat dapat terus bertransformasi dari sekadar produk yang aman (safe product) dan penggunaan yang aman (safe use), menuju hasil pelayanan kesehatan yang aman dan menyelamatkan jiwa (safe outcome).










































