Ramai Tren Probiotik buat Usus-Kulit, Kepala BPOM Wanti-wanti Pentingnya Bukti Ilmiah!

Ramai Tren Probiotik buat Usus-Kulit, Kepala BPOM Wanti-wanti Pentingnya Bukti Ilmiah!

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Minggu, 04 Okt 2026 18:36 WIB
Ramai Tren Probiotik buat Usus-Kulit, Kepala BPOM Wanti-wanti Pentingnya Bukti Ilmiah!
Foto: Dokumentasi BPOM RI
Jakarta -

Pemanfaatan ilmu mikrobioma atau bakteri baik kini berkembang pesat di masyarakat. Probiotik tidak lagi sebatas dijumpai pada minuman yoghurt untuk saluran cerna, melainkan telah merambah ke berbagai produk terapi medis, suplemen peningkat imunitas, hingga perawatan kulit (skincare).

Menanggapi maraknya tren tersebut, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mewanti-wanti agar seluruh pengembangan dan klaim produk berbasis mikrobioma, wajib ditopang oleh bukti ilmiah yang kuat (evidence-based) sebelum dipasarkan.

Pesan tersebut disampaikan Taruna saat memberikan kuliah umum di Sunway University, Selangor, Malaysia, Sabtu (3/10/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Inovasi produk berbasis mikrobioma harus didukung oleh bukti ilmiah yang kuat, baik melalui uji klinis maupun pengujian laboratorium yang terstandar, demi memastikan keamanan, kemanjuran, dan mutunya bagi masyarakat," tegas Taruna dalam keterangannya yang diterima detikcom, Minggu (4/10/2026).

ADVERTISEMENT

Waspada Klaim Khasiat Tanpa Uji Klinis

Isu mikrobioma erat kaitannya dengan keseimbangan ekosistem mikroorganisme di dalam tubuh manusia, terutama pada saluran cerna (gut health). Gangguan keseimbangan mikroba baik ini diketahui berhubungan erat dengan berbagai masalah kesehatan, mulai dari pencernaan, imunitas, hingga kondisi kulit.

Namun, pesatnya popularitas produk probiotik kerap memicu kekhawatiran terkait klaim kesehatan berlebihan (overclaim) yang belum tentu teruji secara medis.

Oleh karena itu, BPOM menekankan pentingnya penguatan regulasi berbasis sains (regulatory science), agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh klaim manis produk yang belum terbukti keamanannya secara klinis.

Dorong Riset Mikroba Lokal

Di sisi lain, BPOM turut mendorong para peneliti dan pelaku industri farmasi untuk mengoptimalkan potensi keanekaragaman mikroorganisme lokal, sebagai bahan baku produk kesehatan masa depan.

Taruna berharap kolaborasi riset lintas negara, termasuk di kawasan ASEAN, dapat mempercepat hadirnya produk terapi berbasis mikrobioma yang aman, bermutu tinggi, serta terjangkau bagi masyarakat luas.

"Kolaborasi internasional menjadi kunci untuk menjembatani riset akademis dengan kebutuhan industri, sehingga inovasi di bidang mikrobioma benar-benar dapat memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat," tutupnya.



(sao/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads