Selasa, 09 Jan 2018 12:37 WIB

Diet Experience

Berat Badan Turun 43 Kg Berkat 'Clean Eating'

feed
Dikirim Oleh
Hairul
Foto: dok: Pribadi Before Foto: dok: Pribadi After
Jakarta - Pria bernama Hairul ini pernah mengalami bullying karena berat badannya yang berlebih. Ia juga kerap merasa 'dipermalukan' saat mencari baju dan tidak ada yang muat.

Untuk menjalankan diet yang rumit, ia merasa enggan. Namun tekatnya untuk membuat 'pangling' orang-orang yang pernah mem-bully dirinya sudah sangat bulat. Ia lalu memilih salah satu mahzab diet yang dianggapnya paling tepat.

Hal lain yang ia lakukan adalah menerapkan clean eating. Apa ya maksudnya? Simak penuturuan Hairul berikut ini. Jangan lupa tinggalkan komentar jika menurutmu cerita ini cukup inspiratif.

Baca juga: Masih Ada Waktu! Ceritakan Pengalaman Dietmu, Raih Voucher Jutaan Rupiah

"Mbak, kemeja biru bergaris itu ukurannya apa? Harganya berapa?" pernah kubertanya pada penjaga toko saat melihat kemeja idaman.

"All Size, Kok, Mas. Murah lagi!"

Dan seperti biasa, kemeja itu nggak bisa kukancing! Tak usah ditanya bagaimana perasaanku saat itu. Bagaimana tidak, ukurannya sudah all size, harusnya aku bisa pakai dong? Tapi ternyata yang namanya all size itu hanya untuk badan-badan "normal". Eh, badanku juga normal, kok! Pikirku saat itu.

Baik, perkenalkan, namaku Hairul. Usiaku saat ini 26 tahun, sempat memiliki berat badan 107,2 kilogram dengan tinggi 167 cm! Cukup normal untuk kelasnya, kan?

Aku bercanda. Tentu saja tidak. Mana ada orang normal yang akan bilang badanku ideal? Melihat leher yang tertutupi dagu berlapis, pundak berpunuk bak unta, serta "tas pinggang" tertutup kaos yang selalu dibawa kemana-mana.

Bukannya aku tak sadar dengan tubuh kelewat "subur" ini. Pun bukannya aku tak mau memiliki tubuh all size seperti manusia normal lainnya. Aku hanya enggan -lebih tepatnya pasrah- untuk menginginkan tubuh yang bernama ideal itu.

Bayangkan saja, sejak kecil sudah di-bully dengan kata-kata gendut, gembrot, sapi gelondongan, dumbo (ikan lele yang besar) yang sudah sehari-hari bersarang di telingaku. Maka sejak dulu juga, ingin sekali membuktikan pada mereka, bahwa suatu saat nanti, mereka akan pangling! Tapi kapan?

Berbekal bully-an itu, seorang teman mengirimkan satu bacaan tentang sebuah diet. Sebenarnya, aku enggan sekali melakukan diet yang mahal. Maksudnya, harus mengonsumsi makanan ini-itu, pagi gandum, siang apa lah, daging harus yang seperti apa lah. Ribet dan mahal!

Tapi saat kumulai membaca panduan diet itu, sepertinya, kok, mudah, ya? Kita bebas makan apa pun, sebanyak apa pun, yang penting tetap dalam waktunya. Oh iya, dietku itu bernama Obsessive Corbuzier Diet, atau lebih dikenal dengan OCD.

Jika kalian bertanya bagaimana rasanya? Berat pastinya. Minggu pertama melakukannya, seperti kiamat akan datang lebih cepat. Napasku sesak, berpikir lambat, gerak terhambat. Tapi percaya atau tidak, minggu kedua dan seterusnya, semua menjadi kebiasaan. Kebetulan sejak awal, aku memilih jendela makan 4 jam. Jadi dalam waktu 24 jam yang kita punya dalam sehari, aku hanya makan 4 jam (tidak berlaku interval), dan bebas mau makan apa pun.

Mungkin kalian tidak sabar dengan bagaimana hasilnya, bukan?

Kuberitahu untuk kalian. Satu bulan pertama setelah aku menjalankan diet itu, berat badanku turun 10 kg! Bayangkan, se-pu-luh ki-lo! Sungguhan.

Bahkan sejak aku tahu berat badanku 107,2 kilogram dulu, aku sudah menggunakan timbangan digital agar lebih akurat. Saat melihat hasilnya yang menakjubkan, aku makin semangat meneruskan OCD ini.

Bukan perkara mudah. Aku tetap menjadi aku yang tegas ketika sudah lewat dari 4 jam, maka jangankan makanan, sebuah permen pun tidak akan aku sentuh!

Kemajuan bulan-bulan selanjutnya tetap menjanjikan.

Bulan kedua, beratku turun kembali 8 kilogram. Jam makanku tetap berada di jendela 4, dan tidak sedetikpun melebihi waktu makanku. Hanya satu kata yang bisa kuberikan pada kalian, yaitu, KOMITMEN!

Mengapa aku memilih untuk tetap tegas dan straight to the rule? Itu semua karena aku percaya, bahwa, sekali saja kita memutus suatu kebiasaan yang sudah kita bangun sedemikian rupa, maka tak akan ada benteng kokoh seperti awal. Dan kita cenderung, enggan untuk memulainya kembali.

Nah, kembali ke OCD-ku. Setahun sudah tanpa terasa aku menjadi âАШpenganutâАЩ ajaran diet ini. Berat badanku sudah jauh berkurang. Kurang lebih aku berhasil menurunkan 30 kilogram. Kalau kalian tanya bagaimana perasaanku, aku bahagia. AMAT SANGAT BAHAGIA.

Dua tahun berlalu begitu saja, di tahun kedua ini, kutetap menjalani OCD. Pola seperti ini sudah menjadi way of life buatku. Namun hasil yang didapat tidak terlalu memuaskan. Tiap bulan tidak terlalu banyak berat badan ini mengalami penurunan. Mungkin turun satu sampai dua kilogram. naik juga sama.

Oh iya, jika ada pertanyaan, apakah aku diimbangi dengan olahraga? Jawabannya adalah, tidak juga. Pada dasarnya aku sangat tidak suka berolahraga, tidak senang olahraga yang membuat lelah. Tapi beberapa temanku selalu berkata, "Awas, nanti gelambir!" hingga mau tidak mau, aku melakukan olahraga yang sangat sederhana.

Dalam OCD, ada istilah O7W, atau kepanjangan dari OCD 7-Minute Workout. O7W ini merupakan latihan yang dilakukan dalam waktu 7 menit untuk membakar lemak dengan cepat dan meningkatkan metabolisme tubuh. Gerakannya meliputi Jumping Jack, wall sit, push up, sit up, dan gerakan-gerakan yang bisa dilakukan di mana pun dengan mudah. Lumayan membantu agar tidak terlalu gelambir, sih.

Nah, aku hampir frustasi. Mengapa berat badanku tidak menurun lagi, ya? Padahal pola OCD masih sama. Jadwal diperketat masih juga dilakukan, tapi di tahun ini tidak terjadi perubahan yang aku harapkan.

Akhirnya, aku membeli buku OCD 2.0 di mana dalam buku ini, diperuntukkan untuk orang-orang yang sudah menjadikan OCD menjadi bagian way of life-nya. Buku ini membahas bagaimana sebenarnya, YOU ARE WHAT YOU EAT! dan believe or not, seminggu turun 3 kilo! Mau tau caranya? Baiklah, simak berikut ini.

Dalam buku OCD 2.0 ini, kita diarahkan untuk hidup dengan pola sehat lewat makanan yang kita makan. Jadi, setelah kita sudah membiasakan OCD, kita bisa meningkatkannya dengan menjaga makanan yang kita konsumsi

Sebagai contoh, yang aku lakukan sampai detik ini adalah, tidak memakan makanan yang digoreng dan mengandung santan tiap weekdays, dan bebas makan apa saja (dengan asumsi tetap sesuai aturan jendela OCD) saat sabtu dan minggu. Bahasa kerennya lebih dikenal dengan "eating clean".

Nah, pada tahap ini, aku tidak hanya mengukur berat badan sebagai capaian dambaan, melainkan mengukur semuanya.

Aku menggunakan alat rekam yang bisa mengukur berapa kadar lemak dalam tubuh (Body Composition), berapa petambahan otot di setiap bagian tubuh, dan sebagainya. Yang menjadi fokusku kali ini selain berat badan, adalah otot atau muscle. Serta Visceral Fat Rating yang tiap satu bulan sekali menjadi penting untuk aku amati.

Contoh konkretnya adalah, sebelum aku melakukan 'eating clean' visceral fat-ku 10. Minggu pertama setelah 'makan sehat', beratku turun 3 kilo, kadar lemak juga turun, dan visceral fat menurun menjadi 9. Begitu seterusnya hingga satu bulan melakukan pola hidup sehat seperti ini, total visceral fat-ku 8! It was amazing, right?

Dan jangan tanyakan bagaimana reaksi semua teman-temanku yang dulu bilang aku dumbo, babi air, sapi gelondongan, dan spesies-spesies sejenis lainnya. Kini mereka takjub dengan aku yang sekarang! Yahh, setidaknya, aku tidak membalas mereka dengan ikut mengejek fisik mereka, melainkan menjawabnya dengan tubuh layaknya tubuh all size lainnya, membuktikan dengan 42,4 kilogram yang bisa kubabat habis! dan satu lagi, Kulengkapi dengan mengenakan pakaian yang manekin pakai, its mean, GUE UDAH NORMAL!

Penutup dari curhatanku kali ini, adalah, Sehat itu bukan suatu Pilihan. Tapi kewajiban. "Kurus" bagi kami yang memiliki bobot berlebih bukan menjadi satu tujuan, tapi sehat untuk kelangsungan hidup lebih lama lah yang menjadi harapan.

Pada dasarnya, semua diet yang kalian jalani, apa pun mazhabnya, semua tidak cukup dengan diniatkan, melainkan komitmen dengan diri dan tubuh kita sendiri saat menjalaninya.
Dan pada akhirnya, meski malu kukatakan, aku setuju pada satu kalimat, bahwa, olahraga itu penting dilakukan.

Sekali lagi, sehat adalah harapan. Harapan untuk bisa bersama dengan orang-orang tersayang jauh lebih lama dari yang kita bayangkan. Karena jika bukan kita? Siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Jadi, semangatlah!



(up/up)
News Feed