Selasa, 19 Des 2017 14:01 WIB

Pria Ini Terapkan Puasa Intermitten Karena Hampir Putus Asa, Aman Kah?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Karena semua diet yang dijalaninya gagal, pria ini putuskan untuk lakukan diet puasa intermitten, yaitu puasa mengonsumsi semua makanan kecuali air. Foto: ilustrasi/thinkstock Karena semua diet yang dijalaninya gagal, pria ini putuskan untuk lakukan diet puasa intermitten, yaitu puasa mengonsumsi semua makanan kecuali air. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Elan Kels dengan berat badan mencapai 129 kilogram merasa hampir putus asa karena sudah berkali-kali mencoba berbagai macam jenis diet, namun tidak kunjung berhasil.

"Saya mencoba satu juta jenis diet dan gagal dalam satu juta jenis diet pula. Diet yang dulu berhasil untuk saya, kini tidak bekerja lagi," ujarnya dikutip dari New York Post.

Ia pernah menerapkan diet karbo dengan membatasi asupan karbohidrat dengan sangat ketat. Dalam jangka pendek, Kels justru mendapatkan 22 kilogram berat badan yang pernah hilang.

Akhirnya ia memutuskan untuk menerapkan diet puasa intermiten, yaitu cara mengatur pola makan dengan tidak mengonsumsi makanan apapun kecuali air dalam jangka waktu tertentu.

Baca juga: Nggak Perlu Diet, Ini Cara Ampuh Turunkan Berat Badan

Pada Oktober lalu, Kels menerapkan puasa intermitten selama 47 hari. Pada hari kelima, ia merasa masih sangat energik dan fokus. Namun pada hari ke-28, ia mulai kehilangan energinya. Ia merasa lelah bahkan hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Sementara itu, dokter spesialis gangguan makan di Manhattan, Joanne Labiner telah berlatih jenis diet ini selama 37 tahun. Menurutnya, hanya mengonsumsi air setiap hari malah membuat pola makan tidak teratur.

"Ini bisa sangat buruk bagi organ tubuhmu. Itulah mengapa orang dengan anoreksia (gangguan makan) bisa meninggal karena serangan jantung. Tubuh mereka memakan jantung mereka sendiri. Tubuhmu mengira ini keadaan darurat dan mencoba mencegah agar penyimpanan lemak tidak habis dengan cara memakan otot," kata Labiner.

Puasa memang baik untuk kesehatan tubuh, namun bukan berarti dilakukan dalam jangka waktu yang panjang dan tanpa mengonsumsi sedikitpun asupan makanan.

dr Jason Fung yang adalah seorang spesialis ginjal pernah menulis buku dengan judul 'Panduan Lengkap untuk Berpuasa'. Ia menganjurkan berpuasa jangka pendek untuk pasien penyakit tertentu dan menentukan puasa air yang lebih lama untuk pasien yang sangat gemuk sekaligus mengidap diabetes tipe 2.

"Ini sangat berguna dalam pengobatan diabetes tipe 2, di mana penurunan berat badan menyertai dapat secara signifikan membalikkan penyakit yang mendasarinya," tuturnya.

"Puasa air semakin populer di banyak tempat. Itu bisa dilakukan, tapi harus dilakukan dengan aman," tegas dr Fung.

Baca juga: Trik Sukses Diet CICO Agar Tubuh Tetap Mendapat Cukup Nutrisi (wdw/wdw)
News Feed