Sarapan dengan menu rebusan dan kukusan seperti ubi kukus, singkong rebus, hingga jagung rebus sempat menjadi tren di tahun 2025. Selain dianggap sebagai menu makan sehat, rebusan dan kukusan juga dipilih oleh mereka yang sedang menjalani diet.
Spesialis gizi dr Nathania Sutisna, SpGK dari RS Abdi Waluyo mengatakan tren makanan rebusan dan kukusan diprediksi masih akan tetap populer di tahun depan. Menurutnya, saat ini sudah banyak orang yang mulai sadar akan akan pentingnya menerapkan pola makan sehat.
"Orang-orang di Indonesia sudah lebih well educated, sudah lebih pintat lah. Dia tahu gorengan itu tidak sehat," kata dr Nathania, kepada detikcom di Jakarta Pusat Selasa (17/12/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gizi Seimbang di Piring
Namun, yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan gizi di setiap piringnya. Menurut dr Nathania, banyak orang yang tidak tahu mengetahui soal hal ini.
"Jangan juga kita cuman makan ubi kukus, singkong rebus, itu kurang. Karena dia cuma karbohidrat. Jadi misalnya kalau makan ubi ya harus ada telurnya. Telurnya yang direbus, nah itu jauh lebih bagus," katanya.
Keseimbangan gizi ini, lanjut dr Natahina sangat bagus untuk mereka yang ingin menjaga berat badan.
"Karena kalau digoreng itu kalorinya bisa naik sampai 40 persen dibandingkan dengan dikukus atau direbus. Apalagi kalau yang gorengnya nyemplung semua, atau deep fried," katanya.
Menu Kukus-Rebus ala Dokter Gizi
Menurut dr Nathania, untuk mendapatkan komposisi yang tepat jika ingin menikmati tren kukusan dan rebusan bisa mengacu ke pedoman 'Isi Piringku' Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
"Untuk rebusan biasanya karbohidrat kaya ubi, singkong, jadi itu pengganti nasi. Kemudian sepertiga piring lain adalah sayur, lalu sepertiga lain adalah lauk pauk biasanya hewan dan nabati, tempe, tahu atau ikan, ayam misalnya," kata dr Nathania.
Simak Video "Video Coba-coba: Nggak Digoreng tapi Nagih!"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)











































