Apa Itu Cereulide dan Bacillus cereus? Bikin Nestle Tarik Produk Susu di 49 Negara

Kolom Gizi

Apa Itu Cereulide dan Bacillus cereus? Bikin Nestle Tarik Produk Susu di 49 Negara

detikHealth
Rabu, 14 Jan 2026 06:37 WIB
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Ditulis oleh:
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Sarjana peternakan dari IPB University dengan peminatan pada nutrition and feed technology. Saat ini merupakan peserta program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai penulis artikel gaya hidup
Apa Itu Cereulide dan Bacillus cereus? Bikin Nestle Tarik Produk Susu di 49 Negara
Kontaminasi toksin dalam produk susu. Foto: Getty Images/Henadzi Pechan
Jakarta -

Penarikan kembali susu formula bayi oleh Nestle dilakukan di 49 negara setelah produk-produk tertentu diduga terkontaminasi cereulide, racun yang diproduksi oleh bakteri Bacillus cereus. Produk yang terdampak meliputi merek SMA, BEBA, dan NAN. Penarikan ini sebenarnya telah dimulai sejak Desember lalu dan masih berlangsung hingga kini.

Dalam pernyataan resminya, Nestle menegaskan bahwa langkah tersebut diambil sebagai bentuk kehati-hatian. "Keamanan pangan dan kesejahteraan semua bayi tetap menjadi prioritas utama kami," tulis perusahaan, seperti dikutip dari USA Today dan Reuters, Senin (12/1/2026).

Kasus ini pun menimbulkan perhatian luas, terutama di kalangan orang tua, mengingat cereulide dikenal sebagai racun yang dapat memicu mual dan muntah hebat. Lantas, apa sebenarnya cereulide dan mengapa zat ini dianggap berbahaya, terutama bagi bayi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Apa Itu Cereulide dan Mengapa Berbahaya?

Cereulide adalah racun (toksin) yang diproduksi oleh bakteri Bacillus cereus dan dikenal sebagai penyebab keracunan makanan tipe emetik, yaitu kondisi yang memicu mual dan muntah hebat dalam waktu singkat setelah konsumsi. Dalam sejumlah publikasi ilmiah, dijelaskan bahwa bahaya cereulide bukan berasal dari bakteri hidupnya, melainkan dari racun yang telah terbentuk di dalam pangan, termasuk produk berbasis susu.

Salah satu karakteristik utama cereulide adalah sifatnya yang tahan panas dan stabil terhadap proses pengolahan pangan. Artinya, racun ini tidak mudah rusak meskipun makanan dipanaskan atau disterilkan, sebagaimana dijelaskan dalam kajian di jurnal Foods dan Frontiers in Microbiology. Inilah yang membuat dugaan kontaminasi cereulide pada susu formula bayi menjadi perhatian serius, karena pemanasan ulang tidak serta-merta menghilangkan risiko.

Dalam literatur medis, cereulide juga dikaitkan dengan emetic syndrome, yakni sindrom muntah yang dapat muncul dalam beberapa jam setelah paparan. Sejumlah ulasan di jurnal Toxins dan Clinical Microbiology Reviews menyebutkan bahwa kelompok rentan seperti bayi berisiko mengalami dampak lebih berat karena sistem pencernaan dan detoksifikasi tubuh mereka belum berkembang sempurna.

Namun, cereulide tidak muncul begitu saja. Racun ini dihasilkan oleh bakteri tertentu yang mampu bertahan di lingkungan dan bahan pangan kering. Untuk memahami bagaimana kontaminasi bisa terjadi, penting mengenal lebih jauh bakteri Bacillus cereus sebagai sumber utama toksin ini.


Bacillus cereus dan Kontaminasi pada Minyak Arachidonic Acid

Bacillus cereus merupakan bakteri yang umum ditemukan di lingkungan dan dalam kondisi tertentu dapat memproduksi racun berbahaya, salah satunya cereulide. Dalam kasus penarikan susu formula bayi, perhatian tertuju pada temuan cereulide pada bahan baku minyak arachidonic acid (AA oil), yang digunakan sebagai komponen tambahan dalam susu formula.

Arachidonic acid (AA) merupakan asam lemak yang secara alami terdapat dalam ASI. Karena perannya penting bagi pertumbuhan bayi, AA juga diproduksi secara industri dan ditambahkan ke dalam susu formula. Namun, seperti bahan baku pangan lainnya, AA oil tetap berisiko terkontaminasi apabila proses produksi atau penyimpanannya tidak optimal.

Salah satu tantangan dalam pengendalian kontaminasi ini adalah kemampuan Bacillus cereus membentuk spora tahan panas dan kekeringan. Spora tersebut dapat bertahan pada bahan berbasis lemak dan, dalam kondisi tertentu seperti suhu dan kelembapan yang mendukung, memproduksi cereulide sebelum bahan diformulasikan menjadi produk akhir. Meski jumlah bakteri yang tersisa sangat kecil, racun yang telah terbentuk tetap berisiko, terutama bagi bayi.

Menanggapi temuan tersebut, Nestle menegaskan bahwa keberadaan toksin dalam minyak nabati merupakan kejadian yang sangat tidak biasa. Perusahaan menyebut temuan cereulide dalam minyak sangat jarang terjadi, namun tetap ditangani secara serius sebagai bagian dari komitmen terhadap keamanan pangan bayi.

Gejala Keracunan Cereulide dan Bahayanya pada Bayi

Paparan cereulide pada bayi umumnya ditandai dengan mual dan muntah hebat yang dapat muncul dalam waktu relatif singkat setelah konsumsi produk yang terkontaminasi. Gejala ini dikenal sebagai bagian dari emetic syndrome, yang menjadi ciri khas keracunan cereulide. Pada bayi, muntah berulang bukan kondisi ringan karena dapat dengan cepat memicu dehidrasi.

Sejumlah kajian di jurnal Toxins dan Clinical Microbiology Reviews menjelaskan bahwa bayi lebih rentan terhadap dampak cereulide karena sistem pencernaan dan mekanisme detoksifikasi tubuhnya belum berkembang sempurna. Akibatnya, tubuh bayi memiliki kemampuan terbatas untuk menetralisasi racun, sehingga efek yang ditimbulkan bisa lebih berat dibandingkan orang dewasa.

Dalam kasus tertentu, paparan cereulide juga dilaporkan dapat berdampak serius, seperti gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Meski kejadian berat tergolong jarang, kondisi ini menjadi alasan mengapa dugaan kontaminasi cereulide pada susu formula bayi diperlakukan sebagai risiko tinggi yang memerlukan penanganan cepat dan pencegahan ketat.

Sejalan dengan temuan ilmiah tersebut, Nestle menjelaskan bahwa gejala akibat paparan cereulide dapat muncul relatif cepat. "Gejala seperti muntah hebat, diare, atau lesu yang tidak biasa biasanya muncul antara 30 menit hingga 6 jam setelah konsumsi," jelas Nestle.

Risiko yang ditimbulkan cereulide pada bayi inilah yang kemudian menjadi dasar dilakukannya penarikan produk secara luas. Dalam konteks keamanan pangan bayi, langkah pencegahan ketat dinilai lebih penting dibandingkan menunggu munculnya kasus kesehatan.

Mengapa Produk Ditarik?

Penarikan susu formula bayi dilakukan sebagai langkah pencegahan dalam sistem keamanan pangan, terutama karena produk ini dikonsumsi oleh bayi yang tergolong kelompok paling rentan. Dalam standar keamanan pangan internasional, risiko sekecil apa pun pada bayi tidak dapat ditoleransi, bahkan ketika dugaan kontaminasi belum disertai laporan kasus kesehatan.

Prinsip kehati-hatian ini sejalan dengan pedoman Codex Alimentarius yang disusun oleh FAO dan WHO, yang menegaskan bahwa pangan bayi perlu ditarik dari peredaran apabila berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.

Pendekatan serupa juga diterapkan oleh otoritas pangan di berbagai negara. U.S. Food and Drug Administration (US FDA) dan badan pengawas pangan di Eropa, misalnya, melakukan penarikan produk secara selektif berdasarkan batch atau kode produksi tertentu, bukan langsung menarik seluruh produk di pasaran. Di Indonesia, mekanisme penarikan dan ketertelusuran produk pangan juga diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Dengan demikian, penarikan produk dalam dugaan kontaminasi cereulide tidak serta-merta berarti telah terjadi kasus kesehatan, melainkan merupakan langkah pencegahan yang lazim dilakukan sesuai standar keamanan pangan global. Langkah ini bertujuan melindungi bayi dari potensi risiko sejak dini.

Bagi orang tua, mengikuti pengumuman resmi menjadi hal yang penting. Sejumlah langkah yang dianjurkan antara lain:

  • Menghentikan sementara penggunaan produk yang masuk dalam daftar penarikan
  • Memeriksa kode batch dan informasi resmi dari produsen atau otoritas terkait
  • Tidak mencoba memanaskan ulang atau mengolah kembali produk yang dicurigai terkontaminasi
  • Segera berkonsultasi ke tenaga medis jika bayi mengalami muntah setelah mengonsumsi susu formula

Para ahli menekankan bahwa kontaminasi seperti ini bukan disebabkan oleh kesalahan orang tua dalam menyiapkan susu, melainkan dapat terjadi pada tahap produksi. Karena itu, orang tua diimbau tetap tenang, mengikuti informasi resmi, dan selalu mengutamakan keselamatan bayi.



Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video: Viral Susu Nestle Ditarik di 49 Negara"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)
Sufor Tercemar Cereulide
15 Konten
Sejumlah produk susu formula ditarik karena dugaan tercemar Cereulide, toksin atau racun yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus. BPOM RI menyebut, 2 bets produk sempat diimpor ke Indonesia meski hasil ujinya negatif Cereulide.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads