Pejuang Berat Badan Anak: Jangan Lupa Dukung Nutrisi Tepat agar Anak Tumbuh Hebat

Health Corner

Pejuang Berat Badan Anak: Jangan Lupa Dukung Nutrisi Tepat agar Anak Tumbuh Hebat

detikHealth
Kamis, 12 Mar 2026 19:16 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Health Corner
Health Corner. Foto: Ari Saputra/detikHealth
Jakarta -

Kekhawatiran soal berat badan anak ternyata menjadi cerita yang sangat dekat dengan banyak orang tua. Setiap kali jadwal penimbangan tiba, tidak sedikit ibu yang merasa deg-degan menunggu angka di timbangan. Bagi sebagian orang tua, perubahan kecil pada berat badan anak bisa memunculkan banyak pertanyaan. Apakah anak sudah cukup makan? Apakah nutrisinya sudah tepat? Atau justru ada sesuatu yang perlu diperhatikan lebih jauh?

Perasaan itu juga dirasakan oleh aktris sekaligus ibu dua anak, Cut Meyriska. Dalam talkshow Health Corner bertajuk Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat, ia berbagi pengalaman tentang bagaimana pemantauan berat badan anak sering kali menjadi momen yang membuat orang tua cemas.

"Setiap bulan pasti deg-degan lihat angka berat badan anak. Kita sudah menyiapkan makanan sehat, finger food yang bergizi, tapi kadang hasilnya tidak sesuai ekspektasi," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Meyriska, kekhawatiran tersebut sering muncul kembali meskipun kondisi anak sebenarnya terlihat baik-baik saja. Banyak orang tua merasa sudah berusaha memberikan yang terbaik, mulai dari menyiapkan makanan sehat hingga memperhatikan pola makan anak. Namun tetap saja muncul rasa ragu apakah semua itu sudah cukup untuk mendukung pertumbuhan si kecil.

Di media sosial pun, ia kerap melihat diskusi serupa dari para orang tua yang saling berbagi pengalaman. Tidak sedikit yang merasa bingung ketika berat badan anak tidak naik sesuai harapan meski berbagai cara sudah dicoba.

Berat Badan Anak Tidak Naik Bukan Terjadi Tiba-Tiba

Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A menjelaskan bahwa masalah berat badan anak sebenarnya jarang terjadi secara tiba-tiba. Biasanya kondisi ini berkembang perlahan selama beberapa bulan sebelum akhirnya terlihat jelas pada grafik pertumbuhan.

Menurutnya, orang tua perlu memahami bahwa masalah gizi pada anak sering kali berkaitan dengan proses jangka panjang.

"Stunting tidak terjadi dalam satu hari. Biasanya sudah berbulan-bulan berat badan atau tinggi badan anak tidak naik," jelas dr. Ian.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara stunting dan kondisi anak yang bertubuh pendek karena faktor lain. Stunting terjadi ketika tinggi badan anak tidak bertambah sesuai usianya akibat kekurangan nutrisi dalam jangka panjang. Sementara itu, ada juga anak yang memang bertubuh lebih pendek karena faktor genetik atau gangguan hormonal yang tidak berkaitan dengan asupan gizi. Masalahnya, banyak orang tua baru menyadari kondisi tersebut ketika grafik pertumbuhan anak sudah jauh menurun. Padahal, jika dipantau sejak awal, perubahan kecil pada kurva pertumbuhan sebenarnya bisa menjadi sinyal penting yang membantu orang tua mengambil langkah lebih cepat.

Kurva Pertumbuhan Jadi Panduan Penting

Pemantauan kurva pertumbuhan menjadi salah satu cara paling sederhana untuk melihat apakah anak berkembang sesuai usianya. Grafik ini biasanya terdapat dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang diberikan sejak bayi lahir.

Dokter anak akan melihat apakah grafik berat badan anak terus mengikuti jalur kurva yang semestinya. Jika grafik mulai melandai selama dua bulan berturut-turut, kondisi ini bisa menjadi tanda awal adanya masalah nutrisi atau kesehatan yang perlu segera ditangani.

Menariknya, kenaikan berat badan tidak selalu berarti pertumbuhan anak sudah optimal. Berat badan memang bisa saja bertambah, tetapi tetap dianggap tidak sehat jika peningkatannya tidak sesuai dengan standar kurva pertumbuhan.

Dalam praktik sehari-hari, dokter biasanya sudah memahami target kenaikan berat badan sesuai usia anak. Namun bagi orang tua, melihat arah grafik di buku KIA sebenarnya sudah cukup menjadi panduan awal untuk memahami kondisi tumbuh kembang anak yang baik.

Tiga Kunci Memberi Makan Anak

Dalam diskusi tersebut, dr. Ian menekankan bahwa banyak masalah berat badan anak sebenarnya berkaitan dengan cara pemberian makan.

Ia menyebut ada tiga prinsip penting yang perlu diperhatikan orang tua, yaitu cara yang tepat, jumlah yang tepat, dan komposisi makanan yang tepat.

Cara yang tepat berarti anak memiliki jadwal makan yang teratur dan diberikan makanan secara responsif. Orang tua perlu mengenali sinyal lapar dan kenyang anak sehingga proses makan tidak menjadi tekanan bagi anak maupun orang tua.

Jumlah makanan juga perlu disesuaikan dengan usia. Seiring bertambahnya usia anak, kebutuhan energi tentu akan meningkat. Jika porsi makanan tidak bertambah, berat badan anak bisa saja sulit naik.

Sementara dari sisi komposisi, makanan anak sebaiknya terdiri dari karbohidrat, sayur, buah, serta protein. Di antara berbagai nutrisi tersebut, protein hewani memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan.

Protein dari sumber hewani seperti daging, telur, dan susu mengandung asam amino yang lebih lengkap serta zat besi yang lebih mudah diserap tubuh. Kandungan nutrisi ini menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan optimal sekaligus membantu mencegah stunting.

Ketika Anak Tetap Sulit Naik Berat Badan

Meski sudah berusaha memberikan makanan dengan cara yang tepat, beberapa orang tua tetap menghadapi kondisi berat badan anak yang sulit naik. Dalam situasi seperti ini, dokter biasanya akan mengevaluasi kembali pola makan anak secara menyeluruh.

Langkah pertama adalah melihat apakah feeding rules atau cara pemberian makan sudah dilakukan dengan benar. Jika cara makan anak belum tepat, maka edukasi tentang jadwal makan, porsi, serta pola makan yang responsif biasanya menjadi langkah awal yang perlu diperbaiki.

Namun apabila pola makan sudah sesuai tetapi berat badan anak tetap tidak bertambah, dokter akan mempertimbangkan kemungkinan lain. Beberapa kondisi kesehatan seperti anemia, infeksi tertentu, gangguan penyerapan nutrisi, hingga alergi makanan dapat memengaruhi pertumbuhan anak.

Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan strategi untuk meningkatkan asupan energi anak. Salah satunya adalah dengan memberikan susu tinggi kalori atau yang sering dikenal oleh orang tua sebagai sutingkal.

Menurut dr. Ian, prinsip utama untuk menaikkan berat badan anak sebenarnya sederhana, yaitu memastikan anak mendapatkan asupan kalori yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Sutingkal sendiri merupakan produk nutrisi yang memiliki kandungan energi lebih tinggi dibandingkan susu formula biasa. Jika susu formula umumnya memiliki sekitar 0,7 kalori per mililiter, susu tinggi kalori biasanya memiliki kandungan energi lebih dari 0,8 hingga sekitar 1 kalori per mililiter.

Dengan kandungan energi yang lebih padat, susu ini dapat membantu meningkatkan asupan kalori pada anak yang mengalami penurunan berat badan, weight faltering, maupun risiko stunting.

Meski demikian, pemberian susu tinggi kalori harus dengan rekomendasi dan pantauan dokter anak, juga tidak selalu menjadi solusi pertama. Dokter tetap perlu memastikan penyebab utama berat badan anak sulit naik sebelum menentukan strategi nutrisi yang paling tepat.

Pendekatan ini penting agar upaya meningkatkan berat badan tidak hanya fokus pada angka di timbangan, tetapi juga memastikan pertumbuhan anak berjalan sehat dan sesuai tahap perkembangannya.

Growth Checker Pejuang BB Anak: Bantu Orang Tua Pantau Pertumbuhan Anak

Kemudahan memantau pertumbuhan anak juga menjadi salah satu fokus yang disoroti dalam diskusi tersebut. Dalam acara ini, Sarihusada memperkenalkan Growth Checker Pejuang BB Anak, sebuah alat digital yang dirancang untuk membantu orang tua memantau status pertumbuhan anak dengan lebih praktis.

Melalui platform ini, orang tua cukup memasukkan beberapa data dasar seperti tinggi badan, berat badan, usia, serta jenis kelamin anak. Sistem kemudian akan memplot data tersebut secara otomatis ke dalam kurva pertumbuhan standar WHO yang biasa digunakan tenaga kesehatan untuk menilai tumbuh kembang anak.

Hasil evaluasi dapat diketahui dalam waktu singkat, bahkan kurang dari satu menit. Dari situ, orang tua bisa melihat apakah status pertumbuhan anak berada dalam kategori normal, kurang, atau justru berlebih.

Jika ditemukan indikasi yang perlu diperhatikan, platform ini juga menyediakan opsi konsultasi dengan tenaga kesehatan sehingga orang tua bisa segera mendapatkan arahan yang tepat.

Melalui pendekatan digital ini, orang tua diharapkan dapat lebih mudah memantau pertumbuhan anak secara berkala, sekaligus mendapatkan gambaran awal apakah kondisi si kecil masih berada dalam jalur pertumbuhan yang sehat.

Orang tua yang ingin mengetahui status pertumbuhan anak juga dapat mencoba Growth Checker Pejuang BB Anak secara mandiri. Dengan memasukkan data anak, hasil pemantauan dapat langsung dilihat dalam hitungan detik sehingga orang tua bisa lebih cepat mengetahui apakah pertumbuhan anak masih sesuai kurva atau perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.

Langkah sederhana ini diharapkan dapat membantu orang tua lebih peka terhadap perubahan pertumbuhan anak, sekaligus menjadi langkah awal untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika ditemukan tanda-tanda yang perlu diwaspadai.

Orang Tua Tidak Sendirian

Di akhir diskusi, dr. Ian mengingatkan bahwa kekhawatiran orang tua terhadap berat badan anak merupakan hal yang sangat umum terjadi. Banyak keluarga mengalami situasi serupa, terutama ketika melihat grafik pertumbuhan anak tidak naik sesuai harapan.

Menurutnya, yang terpenting adalah orang tua tidak menunda untuk mencari bantuan jika merasa ada masalah pada tumbuh kembang anak.

"Yang penting kalian sebagai orang tua harus paham betul bahwa memang ada problem. Jangan takut untuk berkonsultasi. Datanglah ke dokter anak, nggak usah takut-takut atau malu-malu," ujar dr. Ian.

Ia menambahkan bahwa menunda pemeriksaan justru dapat membuat masalah pertumbuhan anak terlambat ditangani. Dalam beberapa kasus, orang tua baru datang berkonsultasi ketika kondisi berat badan anak sudah sangat jauh dari kurva pertumbuhan yang seharusnya.

"Kalau stunting itu bisa menurunkan IQ cukup tinggi. Potensi untuk sukses di masa depan juga bisa berkurang karena stunting ini," jelasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Cut Meyriska yang mengajak para orang tua untuk terus memantau tumbuh kembang anak secara rutin. Ia menilai perhatian terhadap berat badan dan perkembangan anak merupakan bagian penting dari investasi jangka panjang bagi masa depan mereka.

"Jangan sampai telat memantau perkembangan anak. Kalau merasa ada yang kurang, langsung konsultasi supaya tahu langkah terbaik buat anak," ujarnya.

Sementara itu, Angelia Susanto menegaskan bahwa perhatian terhadap pertumbuhan anak seharusnya menjadi perhatian bersama. Menurutnya, kenaikan berat badan anak adalah salah satu indikator penting dalam memastikan tumbuh kembang yang optimal.

"Begitu berat badannya naik, itu sudah berdampak besar. Terutama pada seribu hari pertama kehidupan sampai anak usia dua tahun, berat badan harus terus naik," kata Angelia.

Melalui kampanye Pejuang Berat Badan Anak, ia berharap semakin banyak orang tua yang lebih sadar pentingnya memantau pertumbuhan anak secara rutin.

"Harapan kami jangan sampai ada anak Indonesia yang berat badannya tidak naik. Dengan screening yang lebih mudah, orang tua bisa mendapatkan indikasi lebih cepat dan tahu kapan perlu mencari bantuan," ujarnya.

Baginya, pemantauan pertumbuhan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga membutuhkan dukungan informasi dan akses layanan kesehatan yang lebih mudah agar setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan optimal.




(mal/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads