Bahaya Rhodamin B dalam Takjil, Pewarna Sintetis yang Seharusnya untuk Tekstil

Kolom Gizi

Bahaya Rhodamin B dalam Takjil, Pewarna Sintetis yang Seharusnya untuk Tekstil

detikHealth
Jumat, 13 Mar 2026 07:03 WIB
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Ditulis oleh:
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Sarjana peternakan dari IPB University dengan peminatan pada nutrition and feed technology. Saat ini merupakan peserta program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai penulis artikel gaya hidup
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan sidak takjil Ramadan di Gandaria Utara, Jakarta Selatan. Ditemukan 3 sampel yang mengandung formalin dan pewarna sintetis.
Contoh pangan dengan pewarna sintetis berbahaya. Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto
Jakarta -

Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI melakukan inspeksi pangan pada Kamis (5/3/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian intensifikasi pengawasan pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026/1447 H untuk melindungi masyarakat dari peredaran produk pangan yang berisiko bagi kesehatan.

Dalam inspeksi tersebut, BPOM masih menemukan sejumlah takjil yang mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, Rhodamin B, hingga metanil yellow (kuning metanil) yang sebenarnya bukan bahan tambahan pangan. Zat-zat ini memiliki fungsi utama di bidang industri atau non-pangan sehingga penggunaannya dalam makanan dilarang karena berpotensi membahayakan kesehatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan BPOM: Takjil Mengandung Formalin hingga Pewarna Tekstil

Sampel yang terdeteksi mengandung formalin antara lain mi kuning, tahu bakso, teri nasi, cincau hitam, tahu kotak, sambal goreng cumi asin, dan tahu. Temuan ini dilaporkan di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Palembang, Lubuklinggau, Serang, Surabaya, Banyumas, dan Tangerang.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, boraks ditemukan pada beberapa pangan seperti mi kuning basah, kerupuk, mi basah, sotong, janggelan, dan lontong. Sampel tersebut ditemukan di wilayah Mataram, Serang, Surabaya, Bima, Kediri, dan Aceh Tengah.

Adapun Rhodamin B, yaitu pewarna tekstil yang tidak diperuntukkan bagi pangan, ditemukan pada berbagai produk seperti aneka kerupuk, bolu, jeli merah, es cendol, es guava, kue mangkok, hingga sirup merah. Temuan ini berasal dari sejumlah daerah, antara lain Denpasar, Jakarta, Makassar, Padang, Palembang, Pontianak, Serang, Ambon, Banyumas, Kediri, Palu, Tangerang, Tasikmalaya, hingga Bungo.

Selain itu, BPOM juga menemukan penggunaan metanil yellow pada sampel tahu berwarna oranye besar yang ditemukan di Tangerang. Pewarna ini merupakan bahan kimia yang lazim digunakan dalam industri tekstil dan tidak diperbolehkan digunakan dalam makanan.

Temuan tersebut menjadi pengingat untuk lebih berhati-hati saat memilih makanan, terutama takjil yang banyak dijajakan selama Ramadan. Lantas, apa yang terjadi jika zat-zat kimia yang seharusnya digunakan untuk keperluan industri ini ikut masuk ke dalam tubuh melalui makanan?

BPOM DKI Jakarta  menggelar pemeriksaan makanan dan jajanan takjil di Pasar Benhil, Jakarta. Sebanyak 52 sampel makanan diuji langsung di lapangan.Pemeriksaan sampel makanan oleh petugas. Foto: Ari Saputra

Apa Dampaknya bagi Kesehatan, Termasuk Risiko pada Ginjal?

Secara umum, paparan bahan kimia berbahaya dari makanan dapat memicu gangguan pada saluran pencernaan, seperti mual, muntah, nyeri perut, hingga diare. Kondisi ini terjadi karena zat kimia tersebut dapat mengiritasi jaringan mukosa lambung dan usus.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI juga menyebut bahan berbahaya pada pangan seperti formalin dan boraks dapat menimbulkan keluhan akut pada sistem pencernaan jika tertelan. Namun, dampaknya dapat berbeda tergantung jenis zat dan lama paparannya.

Berikut penjelasan dampak dari masing-masing zat yang ditemukan BPOM pada takjil tersebut.

1. Formalin

Bahan ini mengandung formaldehida, umumnya digunakan sebagai disinfektan, pengawet spesimen biologis, serta bahan baku industri.

Ketika masuk ke dalam tubuh melalui makanan, formaldehida akan diserap oleh saluran pencernaan dan dimetabolisme menjadi asam format. Senyawa ini dapat meningkatkan kadar asam dalam darah dan memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika radikal bebas merusak sel tubuh.

Akibatnya, paparan formalin dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan seperti mual, muntah, nyeri perut, dan diare. Pada paparan lebih tinggi, kondisi ini juga dapat memicu asidosis metabolik yang mengganggu keseimbangan asam-basa dalam tubuh.

Dalam jangka panjang, formaldehida juga dapat merusak protein dan DNA sel, yang berpotensi mengganggu fungsi organ seperti hati dan ginjal. Bahkan, menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), formaldehida diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia karena dapat menyebabkan kerusakan genetik yang terjadi berulang sehingga dapat meningkatkan risiko kanker, termasuk kanker nasofaring dan beberapa jenis kanker darah seperti leukemia mieloid.

2. Boraks

Dikenal juga sebagai natrium tetraborat, yaitu senyawa kimia yang banyak dimanfaatkan dalam produk pembersih, antiseptik, pengawet kayu, hingga bahan campuran deterjen.

Ketika masuk ke dalam tubuh melalui makanan, boraks akan diserap oleh saluran pencernaan dan dapat mengganggu metabolisme sel, yaitu proses kimia yang menjaga fungsi normal sel tubuh. Gangguan pada proses ini dapat memicu iritasi pada saluran pencernaan, sehingga muncul gejala seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Kondisi ini dikenal sebagai gastroenteritis toksik, yakni peradangan pada lambung dan usus akibat paparan zat beracun.

Paparan boraks juga dapat memengaruhi organ yang berperan dalam proses detoksifikasi, terutama hati dan ginjal, karena kedua organ ini bekerja untuk memetabolisme dan membuang zat kimia dari tubuh. Menurut Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR), boron yang tertelan akan diserap di saluran pencernaan lalu diedarkan melalui darah. Sebagian besar zat ini kemudian dikeluarkan oleh ginjal melalui urine, sehingga ginjal menjadi organ yang paling banyak terpapar. Jika kerusakan terus terjadi, fungsi ginjal dapat menurun sehingga tidak mampu menyaring limbah tubuh secara optimal. Kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut, disertai penumpukan zat sisa metabolisme dalam darah dan gangguan keseimbangan cairan. Gejala awalnya bisa berupa penurunan jumlah urine, pembengkakan tubuh, hingga mudah lelah.

Selain itu, sejumlah studi toksikologi menunjukkan senyawa boron dalam boraks juga dapat memengaruhi sistem reproduksi. Paparan jangka panjang dikaitkan dengan gangguan kesuburan pria karena zat ini dapat memengaruhi fungsi hormon reproduksi serta menyebabkan kerusakan pada jaringan testis dalam penelitian hewan. Beberapa penelitian juga menunjukkan potensi dampak pada perkembangan janin jika paparan terjadi selama kehamilan.

Temuan tersebut membuat penggunaan boraks dalam pangan dilarang karena berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan jika dikonsumsi secara terus-menerus.

3. Rhodamin B

Pewarna sintetis ini biasa digunakan dalam industri tekstil, kertas, dan tinta.

Ketika Rhodamin B masuk ke dalam tubuh melalui makanan, zat ini akan diserap oleh saluran pencernaan lalu diproses oleh hati, organ utama yang berfungsi memetabolisme berbagai zat kimia. Sama seperti formalin, Rhodamin B dapat memicu pembentukan radikal bebas yang menyebabkan stres oksidatif.

Kerusakan sel ini terutama dapat terjadi pada sel hati, sehingga dalam sejumlah penelitian toksikologi Rhodamin B dikaitkan dengan hepatotoksisitas, yaitu kerusakan pada jaringan hati. Selain itu, karena zat sisa metabolisme juga dikeluarkan melalui ginjal, paparan zat ini dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi fungsi ginjal atau menyebabkan nefrotoksisitas, yaitu kerusakan pada jaringan ginjal.

Temuan ini juga didukung oleh sejumlah penelitian toksikologi. Misalnya, penelitian pada hewan percobaan (tikus) yang dipublikasikan oleh Mittal A., dkk. dalam Journal of Food Safety juga menunjukkan paparan Rhodamin B dalam jangka panjang dapat memicu perubahan jaringan hati hingga pembesaran hati, bahkan berpotensi berkembang menjadi tumor, sebagaimana dilaporkan dalam penelitian di jurnal Food and Chemical Toxicology dan studi toksikologi yang tercatat di PubMed. Kondisi ini diduga terjadi karena kerusakan sel yang berulang serta gangguan pada enzim yang berperan dalam proses metabolisme di hati.

4. Metanil yellow

Pewarna sintetis ini umumnya digunakan dalam industri tekstil, kertas, serta bahan kimia.

Ketika masuk ke dalam tubuh melalui makanan, metanil yellow dapat diserap oleh saluran pencernaan lalu diproses oleh hati, organ yang berperan penting dalam metabolisme zat kimia. Dalam sejumlah penelitian toksikologi, zat ini diketahui dapat memicu stres oksidatif dan kerusakan sel, yang kemudian berdampak pada berbagai organ tubuh.

Beberapa studi pada hewan percobaan menunjukkan paparan metanil yellow dapat menyebabkan kerusakan jaringan hati (hepatotoksisitas) serta perubahan pada sistem saraf (neurotoksisitas).

Dalam sejumlah penelitian toksikologi diketahui dapat mengganggu proses hematopoiesis, yaitu pembentukan sel darah di sumsum tulang. Gangguan ini dapat menurunkan jumlah sel darah merah atau hemoglobin sehingga berpotensi menyebabkan anemia, yang ditandai dengan gejala seperti lemah, pucat, dan mudah lelah.

Selain itu, zat ini juga dapat memicu stres oksidatif yang merusak sel hati. Jika kerusakan sel terjadi secara berulang dalam jangka panjang, perubahan jaringan hati tersebut dalam penelitian hewan dilaporkan dapat berkembang menjadi tumor hati, sebagaimana dilaporkan dalam sejumlah studi toksikologi yang dipublikasikan di jurnal Food and Chemical Toxicology serta Indian Journal of Experimental Biology.

Karena itu, BPOM mengimbau untuk lebih berhati-hati saat membeli makanan, terutama takjil selama Ramadan, serta memperhatikan warna, tekstur, dan aroma makanan yang tidak wajar.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "25 Tahun BPOM RI Hadapi Tantangan Keamanan Obat dan Makanan"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads