Pemandangan ini mungkin akrab di Indonesia. Anak hanya mau makan nasi dan telur, atau hanya mau nugget setiap hari. Karena khawatir anak tidak makan sama sekali, orang tua akhirnya mengalah dan membiarkan menu itu terus berulang. Yang penting anak mau makan deh.
Padahal, menurut dokter spesialis gizi klinik dr Diana Felicia Suganda, M.Kes, SpGK, kebiasaan tersebut menjadi salah satu kesalahan yang paling sering ditemui dalam pola makan anak sehari-hari.
"Orang tua membiarkan anaknya maunya apa. Ya sudah, yang penting anaknya mau makan deh. Akhirnya dia maunya nasi telur, ya nasi telur saja terus. Tanpa dikenalkan dengan yang lain," ujar dr Diana dalam talkshow bersama Frisian Flag, Jumat (29/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi Orang Tua Jangan Cepat Menyerah
Tidak sedikit orang tua yang langsung menyimpulkan anak tidak suka suatu makanan hanya karena sekali atau dua kali menolak. Padahal, penolakan pada makanan baru merupakan hal yang umum terjadi pada anak, terutama saat masa eksplorasi rasa dan tekstur.
Menurut dr Diana, mengenalkan makanan baru membutuhkan kesabaran dan pengulangan. Anak sering kali memerlukan berkali kali paparan sebelum akhirnya mau menerima makanan tersebut.
"Kalau baru satu dua kali dia tidak mau dikasih daging, ya sudah anaknya maunya telur saja. Padahal kita belum coba lagi," jelas dr Diana.
Kondisi ini membuat variasi makanan anak menjadi sangat terbatas. Akibatnya, kebutuhan zat gizi yang beragam juga berisiko tidak terpenuhi secara optimal.
Talkshow Frisian Flag bersama dr Diana Suganda, SpGK. Foto: Aldrian/detikHealth |
Kenalkan Saja Terus Berulang Kali
Salah satu pesan yang paling ditekankan dr Diana adalah pentingnya ketekunan orang tua saat mengenalkan makanan baru.
Menurutnya, anak bisa saja baru menerima suatu makanan setelah puluhan kali percobaan. Karena itu, penolakan di awal bukan alasan untuk langsung menghapus makanan tersebut dari menu anak.
"Percobaan ke-20, ke-30, percaya deh, mau," ujar dr Diana.
Hal yang sama berlaku untuk sayuran. Banyak anak yang awalnya menolak sayur karena warna, aroma, atau teksturnya. Namun paparan yang konsisten membantu anak membangun kebiasaan makan yang lebih beragam.
Kenalkan Perlahan, Kreasikan dengan Cara Mencampur
Menurut dr Diana, mengenalkan makanan baru tidak harus dilakukan secara langsung dalam bentuk utuh. Orang tua bisa memulainya dengan porsi kecil dan mengombinasikannya dengan makanan yang sudah disukai anak. Cara ini membantu anak lebih mudah menerima rasa dan tekstur baru tanpa merasa asing.
Sebagai contoh, jika anak belum terbiasa mengonsumsi daging, daging bisa dicincang halus lalu dicampurkan ke dalam menu sehari hari. Pendekatan seperti ini membuat proses pengenalan makanan terasa lebih natural dan tidak menimbulkan penolakan yang berlebihan.
"Nggak serta merta bentuk daging empal. Bikin daging cincang, lalu masukkan ke dalam masakan. Kenalkan sedikit demi sedikit," kata dr Diana.
Proses ini memang membutuhkan waktu. Namun konsistensi menjadi kunci agar anak semakin familiar dengan berbagai jenis bahan makanan dan memiliki pola makan yang lebih beragam.
Pentingnya Variasi Makanan
Tubuh anak membutuhkan berbagai jenis zat gizi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi.
Ketika menu anak hanya berputar pada satu atau dua jenis makanan, kesempatan untuk mendapatkan nutrisi yang lengkap menjadi lebih kecil. Dalam jangka panjang, pola makan yang monoton dapat membuat kebutuhan gizi harian tidak terpenuhi secara optimal.
Karena itu, tujuan utama saat makan bukan sekadar membuat anak kenyang. Yang tidak kalah penting adalah memastikan anak mendapatkan pengalaman makan yang beragam sehingga kebutuhan nutrisinya terpenuhi dan kebiasaan makan sehat terbentuk sejak dini.
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)












































