Penyerapan Zat Besi dan Keseimbangan Mikrobiota Usus Penting untuk Atasi Anemia

Penyerapan Zat Besi dan Keseimbangan Mikrobiota Usus Penting untuk Atasi Anemia

detikHealth
Jumat, 10 Jul 2026 09:19 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Vice President, Danone Research & Innovation, Southeast Asia, Laurent Clément
Vice President, Danone Research & Innovation, Southeast Asia, Laurent Clément (Foto: Mhd. Aldrian, S.Gz/detikHealth)
Klaten -

Anemia defisiensi besi masih menjadi salah satu masalah gizi yang banyak ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Selama ini, upaya pencegahan sering berfokus pada pemenuhan asupan zat besi. Padahal, jumlah zat besi yang dikonsumsi belum tentu seluruhnya dapat dimanfaatkan tubuh. Penyerapan zat besi yang optimal dan kesehatan saluran cerna juga berperan penting dalam membantu mencegah anemia.

Vice President, Danone Research & Innovation, Southeast Asia, Laurent Clément, menjelaskan bahwa tantangan dalam mengatasi anemia bukan hanya menyediakan zat besi yang cukup, tetapi juga memastikan mineral tersebut dapat diserap secara optimal tanpa mengganggu keseimbangan mikrobiota usus.

"Zat besi memang harus tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana tubuh dapat menyerapnya dengan baik," ujar Laurent dalam talkshow di Pabrik Danone Spesialized Nutrition Prambanan, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Penyerapan Zat Besi Berbeda pada Setiap Jenis Makanan

Laurent menjelaskan bahwa tidak semua sumber zat besi memiliki tingkat penyerapan yang sama. Zat besi dari pangan nabati umumnya lebih sulit diserap tubuh dibandingkan zat besi dari pangan hewani. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk keberadaan senyawa penghambat maupun pendukung penyerapan zat besi.

Menurutnya, zat besi dari makanan nabati yang tinggi kandungan fitat atau polifenol hanya dapat diserap sekitar 2 hingga 5 persen. Sebaliknya, zat besi dari sumber hewani seperti daging dapat mencapai tingkat penyerapan sekitar 20 hingga 30 persen.

"Perbedaan penyerapannya bisa sangat besar, mulai sekitar 2 persen hingga mencapai 30 persen, tergantung sumber zat besinya," kata Laurent.

Vitamin C Membantu Penyerapan, Fitat Justru Menghambat Penyerapan

Selain jenis makanannya, penyerapan zat besi juga dipengaruhi oleh zat gizi lain yang dikonsumsi bersamaan. Vitamin C diketahui dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi, terutama yang berasal dari pangan nabati.

Sebaliknya, senyawa seperti fitat dan polifenol dapat menghambat proses tersebut. Karena itu, strategi pencegahan anemia tidak cukup hanya meningkatkan asupan zat besi, tetapi juga perlu memperhatikan kombinasi makanan agar penyerapannya lebih optimal.

Zat Besi yang Tidak Terserap Dapat Memengaruhi Keseimbangan Mikrobiota Usus

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah zat besi yang tidak berhasil diserap tubuh akan tetap berada di saluran cerna. Menurut Laurent, kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus, termasuk bakteri baik yang berperan menjaga kesehatan saluran pencernaan.

"Yang tidak terserap akan tetap berada di usus. Karena itu, kita perlu memastikan penyerapan zat besi berlangsung optimal sekaligus menjaga keseimbangan mikrobiota," jelas Laurent.

Ia menjelaskan bahwa bakteri baik seperti Bifidobacteria membantu melindungi kesehatan usus. Sebaliknya, apabila keseimbangan mikrobiota terganggu, bakteri patogen dapat berkembang lebih banyak sehingga meningkatkan risiko gangguan pencernaan maupun infeksi saluran cerna.

Inovasi Nutrisi Dikembangkan untuk Meningkatkan Penyerapan Sekaligus Menjaga Kesehatan Usus

Laurent mengatakan inovasi dalam produk fortifikasi kini tidak lagi hanya berfokus pada penambahan zat besi. Pendekatan yang lebih mutakhir adalah mengombinasikan zat besi, vitamin C, dan prebiotic fibers dalam satu formulasi sehingga tidak hanya meningkatkan jumlah zat besi yang dikonsumsi, tetapi juga membantu penyerapannya sekaligus menjaga kesehatan saluran cerna.

Vitamin C berperan sebagai enhancer yang membantu meningkatkan penyerapan zat besi, terutama zat besi non heme yang berasal dari pangan nabati maupun produk fortifikasi. Dengan penyerapan yang lebih baik, lebih banyak zat besi yang dapat dimanfaatkan tubuh untuk membentuk hemoglobin sehingga membantu mencegah anemia defisiensi besi.

Peran tersebut kemudian dilengkapi oleh prebiotic fibers. Serat ini menjadi sumber nutrisi bagi bakteri baik, terutama Bifidobacteria, yang berperan menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Mikrobiota yang sehat membantu mempertahankan fungsi pelindung saluran cerna sekaligus menekan pertumbuhan bakteri patogen yang dapat meningkatkan risiko infeksi.

Selain menjaga keseimbangan mikrobiota, prebiotic fibers juga membantu meningkatkan penyerapan zat besi. Ketika difermentasi oleh bakteri baik di usus, prebiotic fibers menghasilkan asam lemak rantai pendek yang menurunkan pH usus. Lingkungan usus yang lebih asam membuat zat besi lebih mudah larut sehingga bioavailabilitas dan penyerapannya meningkat. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa mekanisme ini membantu tubuh memanfaatkan zat besi secara lebih optimal.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena zat besi yang tidak terserap akan tetap berada di saluran cerna. Dalam jumlah berlebihan, zat besi yang tersisa dapat mengubah komposisi mikrobiota usus dengan mendorong pertumbuhan bakteri patogen dan mengurangi dominasi bakteri baik. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan maupun infeksi saluran cerna.

"Tujuan kami bukan hanya meningkatkan penyerapan zat besi, tetapi juga melindungi kesehatan saluran cerna melalui keseimbangan mikrobiota usus," ujar Laurent.

Karena itu, kombinasi zat besi, vitamin C, dan prebiotic fibers dalam produk fortifikasi dinilai sebagai salah satu pendekatan paling mutakhir untuk membantu mengatasi anemia defisiensi besi. Ketiga komponen tersebut bekerja saling melengkapi. Zat besi menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, vitamin C membantu meningkatkan penyerapannya, sedangkan prebiotic fibers mendukung penyerapan sekaligus menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Moms Mau Anak Tumbuh Optimal? Jangan Sampai Nutrisi Ini Terlewat"
[Gambas:Video 20detik] (mal/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads