Mungkin banyak yang mengira susu formula hanya dibuat dengan mencampurkan berbagai bahan menjadi satu. Kenyataannya, proses produksinya jauh lebih panjang.
Setiap tahapan dirancang untuk menjaga kandungan gizi tetap sesuai formulasi sekaligus memastikan produk aman sebelum sampai ke tangan konsumen.
Berikut tahapan produksinya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Pembuatan Base Powder
Tahap pertama diawali dengan pembuatan base powder atau bubuk susu dasar. Berbagai bahan baku utama, seperti sumber protein, karbohidrat, dan lemak, dicampurkan hingga membentuk larutan yang homogen. Tahap ini menjadi fondasi karena kualitas base powder akan menentukan kualitas produk akhir.
Setelah seluruh bahan tercampur, larutan dipasteurisasi untuk memastikan keamanan mikrobiologinya. Selanjutnya dilakukan proses homogenisasi agar lemak, protein, dan karbohidrat tersebar secara merata sehingga menghasilkan komposisi yang konsisten sebelum masuk ke proses berikutnya.
"Setelah dicampur menjadi satu larutan, kami pasteurisasi untuk memastikan kandungan mikro dan semuanya aman. Setelah itu melalui proses homogenisasi sehingga lemak, protein, dan karbohidrat tercampur secara homogen," kata Factory Director Danone SN East Region, Lastiani Rosalina kepada detikcom dalam talkshow di Pabrik Danone Spesialized Nutrition Prambanan, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).
Dumping station di pabrik susu formula. Foto: Mhd. Aldrian, S.Gz/detikHealth |
2. Spray Drying Mengubah Cairan Menjadi Susu Bubuk
Setelah menjadi cairan homogen, produk memasuki tahap spray drying atau pengeringan semprot. Pada proses ini, cairan disemprotkan menggunakan udara panas bersuhu sekitar 165 derajat Celsius hingga berubah menjadi butiran susu bubuk.
Proses ini tidak hanya mengubah bentuk cair menjadi bubuk, tetapi juga membantu menghasilkan produk dengan kadar air rendah sehingga lebih stabil selama penyimpanan. Base powder yang dihasilkan kemudian tidak langsung digunakan, melainkan terlebih dahulu menjalani serangkaian pengujian.
Pemeriksaan dilakukan terhadap kandungan makronutrien, mikronutrien, karakteristik fisik, kimia, hingga keamanan mikrobiologinya. Produk baru dapat diproses ke tahap berikutnya apabila seluruh hasil pengujian memenuhi standar yang telah ditetapkan.
3. Dry Blending
Base powder yang telah lolos pengujian kemudian dipindahkan ke area dry blending. Pada tahap inilah berbagai zat gizi tambahan dimasukkan sesuai formulasi masing masing produk.
Vitamin, mineral, dan flavor ditambahkan berdasarkan kebutuhan setiap kategori produk. Formula untuk anak usia berbeda maupun ibu hamil dan menyusui memiliki komposisi yang tidak sama sehingga bahan yang ditambahkan juga disesuaikan.
"Kalau membuat formula vanilla, kami menambahkan vitamin, mineral, dan flavor sesuai formulanya, apakah untuk 3+, 5+, atau ibu menyusui. Tentunya formulanya berbeda," jelas Lastiani.
Seluruh bahan kemudian dicampur menggunakan paddle blender dengan waktu pencampuran yang telah ditentukan agar seluruh komponen tercampur merata dan setiap kemasan memiliki komposisi yang konsisten.
4. Pengemasan dengan Gas Nitrogen
Setelah proses pencampuran selesai, susu bubuk dimasukkan ke dalam kemasan aluminium pouch. Pada tahap ini dilakukan injeksi gas nitrogen untuk membantu menjaga mutu produk selama penyimpanan dengan mengurangi keberadaan oksigen di dalam kemasan.
Setelah dikemas, produk dimasukkan ke dalam folding box. Sistem barcode kemudian digunakan untuk memastikan isi produk sesuai dengan kemasan yang digunakan, termasuk rasa maupun jenis formulanya. Tahap ini menjadi bagian dari sistem pengendalian mutu sebelum produk memasuki pemeriksaan akhir.
5. Pengujian Akhir Sebelum Distribusi
Meski sudah dikemas, produk belum langsung dikirim ke pasaran. Setiap batch masih harus melewati proses final release untuk memastikan seluruh spesifikasi produk telah sesuai dengan standar kualitas perusahaan.
Pengujian kembali dilakukan terhadap parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi. Proses ini umumnya memerlukan waktu sekitar empat hingga lima hari sebelum produk dinyatakan lolos dan dapat didistribusikan ke berbagai daerah.
"Biasanya empat sampai lima hari kami melakukan proses rilis. Setelah dinyatakan lolos, baru produk siap didistribusikan," ujar Lastiani.
Area Produksi Dibagi Menjadi Tiga Tingkat Kebersihan
Selain menerapkan tahapan produksi yang berlapis, pabrik juga membagi area produksi berdasarkan tingkat pengendalian kebersihan, yaitu low care, medium care, dan high care. Pembagian ini dilakukan untuk mengurangi risiko kontaminasi selama proses produksi berlangsung.
1. Low Care Area
Low care area merupakan area dengan tingkat pengendalian paling dasar. Di bagian ini produk sudah berada di dalam kemasan sehingga tidak lagi bersentuhan langsung dengan lingkungan. Aktivitas yang dilakukan umumnya berupa pengemasan sekunder dan tersier. Meski demikian, operator tetap diwajibkan mengenakan pakaian kerja dan mengganti alas kaki sebelum memasuki area ini.
Low care area di pabrik susu formula. Foto: Mhd. Aldrian, S.Gz/detikHealth |
2. Medium Care Area
Medium care area menjadi area transisi sebelum bahan masuk ke proses produksi utama. Di sini dilakukan proses stripping, yaitu membuka lapisan kemasan luar bahan baku sebelum dipindahkan ke area produksi. Pada tahap ini produk belum bersentuhan langsung dengan lingkungan, tetapi prosedur kebersihan mulai diperketat.
3. High Care Area
Sementara itu, high care area merupakan area dengan tingkat pengendalian paling ketat karena bahan dan produk bersentuhan langsung dengan lingkungan produksi. Area ini mencakup proses mulai dari dumping bahan baku hingga filling atau pengisian produk ke dalam kemasan. Suhu ruangan, kelembapan, dan kualitas udara dikendalikan secara ketat untuk menjaga keamanan produk.
Operator yang bekerja di area high care juga harus mengenakan perlindungan lengkap, mulai dari pakaian khusus, masker, sarung tangan, hingga sepatu khusus agar tidak membawa kontaminan ke area produksi.
"Mulai dari dumping sampai filling, pengaturan udara, temperatur, dan kelembapan sangat ketat. Operator juga harus menggunakan full protection agar tidak mengontaminasi produk," pungkas Lastiani.
Baca juga: Bagaimana AMDK Diproses di Pabriknya? |
Simak Video "HEALTH CORNER: Gizi Lengkap, Anak Tinggi & Cepat Tanggap"
[Gambas:Video 20detik] (mal/up)












































