Indonesia Masuk 8 Negara dengan Obesitas Terendah, Data Kemenkes Kok Beda? Ini Faktanya

Kolom Gizi

Indonesia Masuk 8 Negara dengan Obesitas Terendah, Data Kemenkes Kok Beda? Ini Faktanya

detikHealth
Kamis, 20 Agu 2026 06:04 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Data obesitas
Obesitas menjadi faktor risiko berbagai penyakit kronis mematikan. Foto: iStock
Jakarta -

Indonesia masuk dalam daftar delapan negara dengan prevalensi obesitas terendah dalam sebuah data yang viral belakangan ini. Angka obesitas RI dalam daftar tersebut bahkan lebih rendah dari Denmark dan Swiss.

Usut punya usut, data tersebut disusun berdasarkan kelompok pendapatan tinggi hingga menengah dan jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa. Dalam daftar tersebut, Indonesia berada di posisi keenam dengan prevalensi obesitas 11,52 persen.

Angka tersebut tentu menarik perhatian karena terlihat jauh lebih rendah dibandingkan data nasional Indonesia paling mutakhir. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas pada penduduk berusia lebih dari 18 tahun mencapai 23,4 persen. Angka tersebut meningkat dari 21,8 persen dibandingkan tahun 2018.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, kenapa angkanya bisa berbeda hampir dua kali lipat?

ADVERTISEMENT

Perbedaan tersebut terutama terjadi karena kedua data menggunakan sumber dan definisi yang berbeda.

Angka 11,52 persen berasal dari tabel World Obesity Federation (WOF) yang mencantumkan prevalensi obesitas Indonesia berdasarkan estimasi NCD Risk Factor Collaboration atau NCD-RisC. Dalam tabel tersebut, angka 11,52 persen merupakan analisis dari prevalensi obesitas gabungan sejak tahun 1990 hingga 2022 dengan batas Indeks Massa Tubuh atau IMT ≥30 kg/m².

Sementara itu, angka 23,4 persen berasal dari SKI 2023 yang merupakan survei kesehatan nasional Indonesia. Kementerian Kesehatan menggunakan batas IMT ≥27 kg/m² untuk kategori obesitas pada penduduk berusia lebih dari 18 tahun.

Dalam data World Obesity Federation, penduduk dewasa dengan IMT 27 hingga kurang dari 30 kg/m² belum masuk kategori obesitas karena batas yang digunakan adalah ≥IMT 30.

Sementara dalam SKI 2023, rentang IMT 27 sudah masuk kategori obesitas.

Artinya, ketika menggunakan batas IMT yang lebih rendah, jumlah penduduk yang masuk kategori obesitas juga menjadi lebih banyak.

Selain batas IMT, populasi yang dianalisis juga memiliki perbedaan. Studi NCD-RisC menganalisis prevalensi obesitas pada kelompok dewasa usia 20 tahun ke atas, sedangkan SKI 2023 menggunakan penduduk usia lebih dari 18 tahun.

obesitasPeringkat negara dengan tingkat obesitas terendah. Foto: detikhealth/Suci Risanti Rahmadania

Lalu, sebenarnya apa itu NCD-RisC?

NCD-RisC merupakan singkatan dari NCD Risk Factor Collaboration, sebuah kolaborasi peneliti internasional yang melakukan analisis terhadap data dari berbagai studi berbasis populasi.

Jadi, NCD-RisC bukan sebuah survei kesehatan nasional dan bukan pula satu jurnal yang kemudian dijadikan sumber angka.

Dalam penelitian mengenai obesitas yang menjadi sumber data tersebut, NCD-RisC menggabungkan data dari 3.663 studi berbasis populasi dengan sekitar 222 juta peserta yang memiliki pengukuran tinggi dan berat badan. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan model statistik untuk menghasilkan estimasi prevalensi obesitas di 200 negara dan wilayah dari 1990 hingga 2022.

Dengan demikian, angka 11,52 persen lebih tepat disebut sebagai estimasi prevalensi obesitas, bukan hasil survei langsung yang dilakukan di Indonesia pada 2022.

Estimasi tersebut tetap merupakan hasil penelitian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet. Studi NCD-RisC mengenai tren obesitas dunia tersebut diterbitkan pada 2024 dan menggunakan metode Bayesian hierarchical model untuk memperkirakan prevalensi berdasarkan berbagai sumber data.

Jadi, apakah angka NCD-RisC merupakan data resmi?

Jawabannya perlu dibedakan.

Angka tersebut bukan data resmi pemerintah Indonesia seperti SKI 2023. Namun, angka tersebut juga bukan sekadar perkiraan tanpa dasar.

NCD-RisC merupakan estimasi ilmiah berbasis ribuan studi populasi yang telah dianalisis menggunakan metode statistik dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Data hasil analisisnya kemudian digunakan World Obesity Federation dalam pemantauan obesitas secara global. Data World Obesity Federation yang menjadi sumber rujukan secara eksplisit mencantumkan "NCD-RisC estimates" dan merujuk penelitian dalam jurnal The Lancet.

Karena tujuan NCD-RisC adalah menghasilkan angka yang dapat dibandingkan antarnegara, definisinya dibuat seragam. Dalam studi tersebut, obesitas pada dewasa didefinisikan sebagai IMT ≥30 kg/m².

Sementara SKI memiliki tujuan berbeda, yaitu menggambarkan kondisi kesehatan penduduk Indonesia melalui survei nasional. Karena itu, Kementerian Kesehatan menggunakan batas IMT ≥27 kg/m² untuk indikator obesitas dewasa.

Perbedaan inilah yang membuat angka 11,52 persen dan 23,4 persen tidak tepat dibandingkan secara langsung.

Ada pula persoalan tahun data yang perlu diperhatikan.

Tabel World Obesity Federation yang memuat angka 11,52 persen secara jelas mencantumkan "Combined, 2022". Pada bagian sumber tercatat data berasal dari NCD-RisC dan terakhir diperbarui pada 1 Maret 2024.

Jadi, penyebutan angka tersebut sebagai "data obesitas Indonesia 2025" kurang tepat apabila dimaknai sebagai hasil pengukuran prevalensi obesitas Indonesia pada 2025.

Lebih tepat menyebutnya sebagai estimasi prevalensi obesitas tahun 2022 dari NCD-RisC yang digunakan dalam data Rangking Obesity by Country tahun 2022.

Indonesia memang berada di urutan keenam dengan angka 11,52 persen dalam daftar tersebut berdasarkan kelompok pendapatan tinggi hingga menengah dan jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa. Namun, kurang tepat kalau menyebut data tersebut tahun 2025 karena data Rangking Obesity by Country tersebut adalah tahun 2022. Data Rangking Obesity by Country terbaru dari World Obesity Federation adalah tahun 2024. Dalam data terbaru Indonesia memiliki prevalensi obesitas sebesar 12,14%.

Untuk melihat perbandingan antarnegara, estimasi NCD-RisC yang digunakan World Obesity Federation dapat menjadi rujukan. Namun, ketika ingin mengetahui prevalensi obesitas berdasarkan survei kesehatan nasional Indonesia, SKI 2023 dengan angka 23,4 persen merupakan data survei nasional termutakhir yang tersedia.

Jadi, Indonesia memang terlihat memiliki prevalensi obesitas relatif rendah dalam pemeringkatan internasional tersebut. Namun, angka 11,52 persen tidak tepat jika langsung disebut sebagai prevalensi obesitas Indonesia pada tahun 2025 atau dibandingkan dengan data SKI 2023.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Punya Genetik 'High Risk Obesity'? Kenali Cara Menekan Risikonya"
[Gambas:Video 20detik] (mal/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads