Senin, 29 Okt 2012 09:56 WIB

Doctor's Life

Dr Nastiti Mantap Jadi Dokter Anak karena Kematian Bayi Masih Tinggi

- detikHealth
dr Nastiti (dok: detikHealth) dr Nastiti (dok: detikHealth)
Jakarta - Di balik kelucuan dan keimutannya, anak-anak sangat rentan terserang penyakit karena ketahanan tubuhnya yang masih lemah. Itulah sebabnya dr Nastiti selalu mewanti-wanti orangtua untuk memperhatikan kesehatan buah hatinya.

Masa kanak-kanak adalah pilar utama atau yang pertama menentukan kualitas hidup manusia. Begitulah alasan dr Nastiti ketika ditanya mengapa ia memilih menekuni spesialis anak. Apapun cita-cita seseorang, kesuksesan masa depannya ikut ditentukan oleh proses yang terjadi pada masa kanak-kanak.

"Pada anak itu ada proses tumbuh kembang. Walaupun secara genetik dia bisa jadi presiden, tapi dengan tumbuh kembang yang tidak bagus maka potensinya tak bisa tercapai. Jadi menurut saya masa anak-anak itu masa yang krusial," jelas dr Nastiti saat berbincang bersama detikHealth seperti ditulis Senin (29/10/2012).

Dr Nastiti makin memantapkan langkahnya menekuni spesialis anak ketika menemukan kenyataan di lapangan bahwa anak lebih terancam kondisinya dibandingkan orang dewasa apabila menghadapi penyakit.

Usai menempuh pendidikan dokter umum, ia menjalani program dokter PTT atau dokter pegawai tidak tetap di pedalaman Kalimantan Barat. Di tempat tugasnya itu, dr Nastiti menemui banyak sekali penyakit-penyakit anak yang berjangkit dengan sangat cepat.

Karena daya tahan tubuhnya rendah, anak-anak memerlukan penanganan yang lebih cepat dan sigap. Terlambat sedikit saja bisa menjadi fatal. Sulitnya akses transportasi membuat pasien anak yang diperiksa terlanjur sudah memasuki kondisi berat.

"Jadi musti cepat dan benar, sedangkan angka kematian anak di Indonesia kan secara umum masih tinggi. Itu yang membuat saya ingin belajar lebih jauh tentang anak biar bisa menolong. Kita berusaha menolong, tapi tentu pengetahuan dokter umum dan dokter anak kan beda, dokter umum lebih terbatas," jelas dr Nastiti.

Untuk meningkatkan kondisi kesehatan anak, dokter yang sempat menuntut ilmu di Negeri Kincir Angin ini berpendapat bahwa aspek promotif dan preventif amatlah penting. Kegiatan promotif berkaitan dengan upaya peningkatan pengetahuan orang tua akan kesehatan anak. Sedangkan aspek preventif atau pencegahan dilakukan dengan tindakan seperti imunisasi dan vaksinasi.

Mau tak mau, harus diakui bahwa pengetahuan dasar seperti pemberian ASI, cara memberikan makan yang baik pada anak dan cara memantau perkembangannya masih sangat kurang di masyarakat, terutama yang di pelosok. Hal itu tentu menjadi masalah tersendiri. Apalagi kini mulai muncul kelompok yang menentang vaksinasi dan imunisasi.

"Imunisasi kan sudah diyakini sebagai upaya yang efektif mencegah penyakit infeksi dan menurunkan angka kematian. Tapi sekarang justru banyak gerakan anti imunisasi. Itu malah jadi kontraproduktif sehingga sekarang banyak sekali muncul kasus penyakit yang tadinya sudah tidak ada lagi," papar dr Nastiti.

Penyakit yang dimaksud adalah penyakit yang dulunya sudah berhasil diatasi, namun sekarang mulai marak kembali. Misanya adalah penyakit batuk rejan dan difteri yang mulai muncul lagi. Penyakit polio juga pernah hadir kembali beberapa waktu lalu. Padahal sebelumnya Indonesia bisa dibilang sudah terbebas dari penyakit seperti ini.

Permasalahan kesehatan anak tak hanya itu saja. Faktor ekonomi, demografi dan budaya juga masih menjadi tantangan besar agar masyarakat dapat mendapat akses kesehatan dengan baik. Kendala ini tak hanya dihadapi aspek kesehatan anak saja, melainkan secara umum. Pada anak, tentunya tantangan-tantangan ini jadi lebih berisiko.

Jika di daerah pelosok masalah yang dihadapi adalah transportasi dan pemahaman kesehatan yang masih rendah,. Sedangkan di daerah perkotaan yang dihadapi justru mudahnya akses informasi yang lalu lalang (misalnya lewat internet / media elektronik) dan belum terjamin keakuratan/kebenarannya.

Oleh karena itu, dr Nastiti menghmbau kepada orang tua agar bijak menyaring informasi yang tepat dan harus dilihat siapa sumbernya. Nyatanya memang tidak semua informasi yang ada di media sosial bisa diverifikasi kebenarannya. Akibatnya, mitos-mitos seputar kesehatan yang miring juga berkembang dari sosial media.

"Masyarakat sebaiknya menyeleksi informasi mana yang tepat dari sumber mana yang sesuai. Tidak semua yang ada di internet itu benar. Kalau ingin mendapat informasi yang benar, carilah informasi dari website-website formal, misalnya dari organisasi profesi seperti IDAI, IDI dan Departemen Kesehatan yang jelas terpercaya," pungkas dr Nastiti.


Biodata

Nama  : dr. Nastiti Kaswandani, SpA(K)
Tempat tanggal lahir : Surabaya, 12 November 1970

Pendidikan:
Pendidikan Dokter FKUI (1995)
Pendidikan Dokter spesialis anak FKUI (2004)
Fellowship training Vrije Universiteit, Amsterdam (2011)
Pendidikan Konsultan FKUI (2011)

Karir:
Staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI / RSCM

Organisasi:
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)



(pah/nvt)