Manfaat Musik Bagi Kesehatan Otak: Cegah Pikun Hingga Bikin Kreatif

Musik yang memiliki ritme pengulangan tiap 10 detik diketahui dapat menurunkan tekanan darah. Hal ini dibuktikan oleh tim peneliti asal Oxford University yang menyebut musik Va Pensiero karya komposer Italia Giusuppe Verdi, Nessun Dorma karya Giacomo Puccini, dan adagio Simponi 9 milik Beethoven dapat bermanfaat baik bagi kinerja sistem kardiovaskular. (Foto: Thinkstock)
Studi yang dilakukan peneliti dari Helsinki University, mengungkapkan rutin mendengarkan musik klasik dapat memperlambat munculnya gejala demensia atau yang lebih dikenal dengan kepikunan. Musik klasik gubahan komposer ternama Mozart diketahui dapat meningkatkan aktivitas otak, terutama di bagian yang mengatur daya ingat dan pembelajaran. (Foto: Thinkstock)
Prof Nobuo Masataka dari Kyoto University, Jepang, dan Dr Leonard Perlovsky dari Harvard University melakukan studi untuk melihat dampak mendengarkan musik klasik pada tingkat konsentrasi seseorang. Diketahui tugas yang dilakukan dengan musik Mozart sebagai latar belakang dikerjakan dengan lebih sedikit kesalahan. (Foto: Thinkstock)
Ilmuwan dari Sapienza University of Rome menganalisis gelombang otak yang berkaitan dengan ingatan 30 orang. Memori peserta dianalisis sebelum dan setelah mereka mendengarkan musik buatan Mozart yang berjudul 'L'allegro con spirit' dari Sonata for Two Pianos in D Major K448, dan 'Fur Elise' oleh Beethoven. Setelah dibandingkan, pola aktivitas gelombang otak peserta (yang berhubungan dengan IQ, kognisi, dan fungsi pemecahan masalah) meningkat setelah mendengar musik karya Mozart.  (Foto: Thinkstock)
Peneliti dari Ohio State University, Dr Christine Charyton mengatakan mendengarkan musik dapat membuat periode kejang pada pasien epilepsi berkurang. Hal ini karena 80 persen pasien epilepsi mengalami kejang yang bermula di lobus temporal otak, bagian otak yang berfungsi mengenali musik dan suara. (Foto: Thinkstock)
Penelitian yang dilakukan oleh Robert Zatorre dari McGill University, Montreal, Kanada, menyebut mendengarkan musik dapat melepaskan hormon rasa senang (dopamin) di otak. Akibatnya, mood atau suasana hati orang akan lebih baik dan membuatnya lebih mudah berkomunikasi. (Foto: Thinkstock)
Sebuah studi yang dilakukan di Hong Kong pada 90 anak laki-laki berusia antara 6 dan 15 tahun menyebut musik klasik dapat membuat anak belajar kosakata baru dengan lebih cepat. Mereka juga memiliki memori verbal yang lebih tinggi dan memiliki nilai pelajaran sekolah yang lebih baik. (Foto: Thinkstock)
Terapi musik klasik india sering digunakan atau disarankan untuk pengobatan insomnia, migrain, sakit kepala kronis, hipertensi, gelisah hingga sakit kepala. Sebuah studi menemukan bahwa mendengarkan musik klasik India dapat meningkatkan kualitas tidur pada individu yang mengalami depresi karena iramanya yang memiliki ritme hipnotis. (Foto: Thinkstock)
Musik rap dan hip-hop tidak hanya enak digunakan untuk berdansa. Studi dari Amerika menyebut musik rap dan hip-hop dapat meningkatkan adrenalin yang membuat otak lebih energik. Sayangnya, musik rap dan hip-hop juga diketahui membuat mood lebih negatif. (Foto: Thinkstock)
Musik rock dengan hentakan yang cadas dapat membuat denyut jantung dan tekanan darah meningkat. Namun reaksi tersebut akan membuat hormon kortisol di otak berkurang, yang membuat Anda bebas dari stres. (Foto: Thinkstock)
Musik yang memiliki ritme pengulangan tiap 10 detik diketahui dapat menurunkan tekanan darah. Hal ini dibuktikan oleh tim peneliti asal Oxford University yang menyebut musik Va Pensiero karya komposer Italia Giusuppe Verdi, Nessun Dorma karya Giacomo Puccini, dan adagio Simponi 9 milik Beethoven dapat bermanfaat baik bagi kinerja sistem kardiovaskular. (Foto: Thinkstock)
Studi yang dilakukan peneliti dari Helsinki University, mengungkapkan rutin mendengarkan musik klasik dapat memperlambat munculnya gejala demensia atau yang lebih dikenal dengan kepikunan. Musik klasik gubahan komposer ternama Mozart diketahui dapat meningkatkan aktivitas otak, terutama di bagian yang mengatur daya ingat dan pembelajaran. (Foto: Thinkstock)
Prof Nobuo Masataka dari Kyoto University, Jepang, dan Dr Leonard Perlovsky dari Harvard University melakukan studi untuk melihat dampak mendengarkan musik klasik pada tingkat konsentrasi seseorang. Diketahui tugas yang dilakukan dengan musik Mozart sebagai latar belakang dikerjakan dengan lebih sedikit kesalahan. (Foto: Thinkstock)
Ilmuwan dari Sapienza University of Rome menganalisis gelombang otak yang berkaitan dengan ingatan 30 orang. Memori peserta dianalisis sebelum dan setelah mereka mendengarkan musik buatan Mozart yang berjudul Lallegro con spirit dari Sonata for Two Pianos in D Major K448, dan Fur Elise oleh Beethoven. Setelah dibandingkan, pola aktivitas gelombang otak peserta (yang berhubungan dengan IQ, kognisi, dan fungsi pemecahan masalah) meningkat setelah mendengar musik karya Mozart.  (Foto: Thinkstock)
Peneliti dari Ohio State University, Dr Christine Charyton mengatakan mendengarkan musik dapat membuat periode kejang pada pasien epilepsi berkurang. Hal ini karena 80 persen pasien epilepsi mengalami kejang yang bermula di lobus temporal otak, bagian otak yang berfungsi mengenali musik dan suara. (Foto: Thinkstock)
Penelitian yang dilakukan oleh Robert Zatorre dari McGill University, Montreal, Kanada, menyebut mendengarkan musik dapat melepaskan hormon rasa senang (dopamin) di otak. Akibatnya, mood atau suasana hati orang akan lebih baik dan membuatnya lebih mudah berkomunikasi. (Foto: Thinkstock)
Sebuah studi yang dilakukan di Hong Kong pada 90 anak laki-laki berusia antara 6 dan 15 tahun menyebut musik klasik dapat membuat anak belajar kosakata baru dengan lebih cepat. Mereka juga memiliki memori verbal yang lebih tinggi dan memiliki nilai pelajaran sekolah yang lebih baik. (Foto: Thinkstock)
Terapi musik klasik india sering digunakan atau disarankan untuk pengobatan insomnia, migrain, sakit kepala kronis, hipertensi, gelisah hingga sakit kepala. Sebuah studi menemukan bahwa mendengarkan musik klasik India dapat meningkatkan kualitas tidur pada individu yang mengalami depresi karena iramanya yang memiliki ritme hipnotis. (Foto: Thinkstock)
Musik rap dan hip-hop tidak hanya enak digunakan untuk berdansa. Studi dari Amerika menyebut musik rap dan hip-hop dapat meningkatkan adrenalin yang membuat otak lebih energik. Sayangnya, musik rap dan hip-hop juga diketahui membuat mood lebih negatif. (Foto: Thinkstock)
Musik rock dengan hentakan yang cadas dapat membuat denyut jantung dan tekanan darah meningkat. Namun reaksi tersebut akan membuat hormon kortisol di otak berkurang, yang membuat Anda bebas dari stres. (Foto: Thinkstock)