Seperti Ini Dampak Putus Cinta bagi Kesehatan Jiwa

Ketika putus tidak hanya merasa sakit hati, namun juga bisa merasa sakit fisik juga. Menurut psikolog Marni Amsellem, saat stres atau muncul luka emosional juga akan meningkatkan rasa sakit fisik. "Di satu sisi, kita memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perasaan (hal-hal negatif) ketika kita berada dalam emosi negatif. Di sisi lain, ketika stres, otot-otot kita tegang dan pembuluh darah menyempit. Sistem saraf simpatik kita bergantung pada saat kita merasakan tekanan yang akut," ujarnya dikutip dari The List. Foto: Thinkstock
Orang yang patah hati akan timbul perasaan stres, dan biasanya akan mengakibatkan orang lebih banyak makan. Menurut nutrisionis dari Lagizi, Jansen Ongko, MSc, RD, ketika mengalami stres kebanyakan orang mencari makanan yang rasanya manis karena dapat meningkatkan produksi hormon serotinin dalam tubuh. Hormon serotinin adalah hormon yang berperan dalam menghadirkan perasaan bahagia dan perasaan positif pada diri seseorang dan menghindarinya dari depresi. "Di saat mengonsumsi makanan manis, hormon serotinin meningkat. Ini membuat meningkatnya rasa nyaman sehingga stresnya turun," ujarnya kepada detikHealth. Foto: thinkstock
Saat putus orang akan mengalami dua kecenderungan, antara berat badannya turun atau bisa malah bertambah. Seorang dokter, dr Cwanza A. Pinckney mengatakan bahwa orang yang lebih mudah menurunkan berat badan, ketika putus akan mengalmi penurunan berat badan yang cukup cepat. Begitu pula sebaliknya, orang yang berat badannya mudah naik cenderung akan naik secara drastis ketika putus. Foto: ilustrasi/thinkstock
Putus dengan kekasih pasti membuat kita stres, dan itu membuat jerawat muncul dengan mudah. Ini dikarenakan hormon adrenalin dan norepinephine diproduksi untuk menghadapi stre, kedua hormon ini menekan tubuh dengan menaikkan detak jantung, menegangkan otot, menurunkan berat badan, dan memunculkan jerawat. Foto: Getty Images
Siapa yang suka stalking mantan? Menurut psikolog Jenev Caddell hal tersebut normal-normal saja dilakukan seseorang setelah putus dengan kekasihnya. Ia dan peneliti lainnya telah menemukan bahwa di antara orang-orang yang jatuh cinta, ada peningkatan aktivitas di wilayah otak yang menghasilkan dopamin neurotransmitter, itu sangat terkait dengan sistem penghargaan, fokus, dan ketertarikan dari otak serta tubuh. "Setelah putus, area otak juga akan diaktifkan. Jadi mungkin cenderung terobsesi dengan orang itu tanpa imbalan apapun. Siapapun yang telah merasakan situasi ini mengerti betapa sulitnya untuk keluar. Karena ingin melupakan orang itu dan terus maju, tapi sayangnya tidak bisa berhenti memikirkannya," jelasnya. Foto: Thinkstock
Setelah putus, tubuh secara alamiah akan merasa lebih lesu karena sedang memproses pengalaman emosional yang alami. Terapis seksual, Stephen Duclos mengatakan bahwa ketika putus tubuh akan merasa lelah seolah-olah baru saja menyelesaikan perlombaan maraton. Ia menganjurkan untuk beristirahat lebih lama agar mendapatkan energi kembali. Foto: Thinkstock
Ketika putus tidak hanya merasa sakit hati, namun juga bisa merasa sakit fisik juga. Menurut psikolog Marni Amsellem, saat stres atau muncul luka emosional juga akan meningkatkan rasa sakit fisik. Di satu sisi, kita memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perasaan (hal-hal negatif) ketika kita berada dalam emosi negatif. Di sisi lain, ketika stres, otot-otot kita tegang dan pembuluh darah menyempit. Sistem saraf simpatik kita bergantung pada saat kita merasakan tekanan yang akut, ujarnya dikutip dari The List. Foto: Thinkstock
Orang yang patah hati akan timbul perasaan stres, dan biasanya akan mengakibatkan orang lebih banyak makan. Menurut nutrisionis dari Lagizi, Jansen Ongko, MSc, RD, ketika mengalami stres kebanyakan orang mencari makanan yang rasanya manis karena dapat meningkatkan produksi hormon serotinin dalam tubuh. Hormon serotinin adalah hormon yang berperan dalam menghadirkan perasaan bahagia dan perasaan positif pada diri seseorang dan menghindarinya dari depresi. Di saat mengonsumsi makanan manis, hormon serotinin meningkat. Ini membuat meningkatnya rasa nyaman sehingga stresnya turun, ujarnya kepada detikHealth. Foto: thinkstock
Saat putus orang akan mengalami dua kecenderungan, antara berat badannya turun atau bisa malah bertambah. Seorang dokter, dr Cwanza A. Pinckney mengatakan bahwa orang yang lebih mudah menurunkan berat badan, ketika putus akan mengalmi penurunan berat badan yang cukup cepat. Begitu pula sebaliknya, orang yang berat badannya mudah naik cenderung akan naik secara drastis ketika putus. Foto: ilustrasi/thinkstock
Putus dengan kekasih pasti membuat kita stres, dan itu membuat jerawat muncul dengan mudah. Ini dikarenakan hormon adrenalin dan norepinephine diproduksi untuk menghadapi stre, kedua hormon ini menekan tubuh dengan menaikkan detak jantung, menegangkan otot, menurunkan berat badan, dan memunculkan jerawat. Foto: Getty Images
Siapa yang suka stalking mantan? Menurut psikolog Jenev Caddell hal tersebut normal-normal saja dilakukan seseorang setelah putus dengan kekasihnya. Ia dan peneliti lainnya telah menemukan bahwa di antara orang-orang yang jatuh cinta, ada peningkatan aktivitas di wilayah otak yang menghasilkan dopamin neurotransmitter, itu sangat terkait dengan sistem penghargaan, fokus, dan ketertarikan dari otak serta tubuh. Setelah putus, area otak juga akan diaktifkan. Jadi mungkin cenderung terobsesi dengan orang itu tanpa imbalan apapun. Siapapun yang telah merasakan situasi ini mengerti betapa sulitnya untuk keluar. Karena ingin melupakan orang itu dan terus maju, tapi sayangnya tidak bisa berhenti memikirkannya, jelasnya. Foto: Thinkstock
Setelah putus, tubuh secara alamiah akan merasa lebih lesu karena sedang memproses pengalaman emosional yang alami. Terapis seksual, Stephen Duclos mengatakan bahwa ketika putus tubuh akan merasa lelah seolah-olah baru saja menyelesaikan perlombaan maraton. Ia menganjurkan untuk beristirahat lebih lama agar mendapatkan energi kembali. Foto: Thinkstock