Sosok-sosok di Balik Jepretan Ciamik Foto-foto Gowes Kekinian

Maraknya tren bersepeda belakangan ini menjadi berkah tersendiri bagi sejumlah fotografer. Mereka berinisiatif turun ke jalan demi memuaskan hasrat narsis para pesepeda yang butuh dokumentasi berkualitas. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)

Nggak asal jepret lho, para fotografer ini totalitas membawa berbagai peralatan 'tempur'. Demi mendapatkan visual terbaik, mereka tak segan membawa lensa tele, baterai cadangan, hingga monopod. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)

Sampai harus jongkok di pinggir jalan pun mereka lakukan. Hampir tiap pagi, para fotografer ini tersebar di beberapa titik di rute gowes 'Dalkot Loop' Jakarta. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)

Rebahan di jalan? Siapa takut. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)

Yang ngumpet di balik pembatas jalan seperti ini juga banyak lho. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)

Bahkan di semak-semak. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)

Sayangnya banyak pesepeda yang tidak menghargai jerih payah mereka dengan main comot hasil jepretan tanpa izin. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)

Sebagian di antara mereka bahkan menggantungkan rezekinya dari hasil motret di jalanan seperti ini. Pandemi COVID-19 membuat banyak job fotografi dibatalkan, sehingga harus mencari pendapatan dengan cara lain. Turun ke jalan seperti ini adalah salah satu pilihannya. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)

"Jujur sih kalau saya ngomel. Basically sebenarnya kalau mau pakai, silahkan. Tapi izin dulu minimal deh. Misal 'Mas fotonya bagus, saya boleh nggak pakai di konten saya'," kata Norman, salah seorang fotografer. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)  

Satu lagi yang perlu diapresiasi, keberadaan para fotografer jalanan ini turut membatasi ruang gerak 'begal sepeda' lho! Dina, seorang pesepeda mengaku lebih tenang melintas di rute yang ditunggui fotografer karena menurutnya begal maupun jambret pasti akan tidak ingin aksinya tertangkap jepretan mas-mas fotografer. Iya juga sih! (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)

Maraknya tren bersepeda belakangan ini menjadi berkah tersendiri bagi sejumlah fotografer. Mereka berinisiatif turun ke jalan demi memuaskan hasrat narsis para pesepeda yang butuh dokumentasi berkualitas. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Nggak asal jepret lho, para fotografer ini totalitas membawa berbagai peralatan tempur. Demi mendapatkan visual terbaik, mereka tak segan membawa lensa tele, baterai cadangan, hingga monopod. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Sampai harus jongkok di pinggir jalan pun mereka lakukan. Hampir tiap pagi, para fotografer ini tersebar di beberapa titik di rute gowes Dalkot Loop Jakarta. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Rebahan di jalan? Siapa takut. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Yang ngumpet di balik pembatas jalan seperti ini juga banyak lho. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Bahkan di semak-semak. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Sayangnya banyak pesepeda yang tidak menghargai jerih payah mereka dengan main comot hasil jepretan tanpa izin. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Sebagian di antara mereka bahkan menggantungkan rezekinya dari hasil motret di jalanan seperti ini. Pandemi COVID-19 membuat banyak job fotografi dibatalkan, sehingga harus mencari pendapatan dengan cara lain. Turun ke jalan seperti ini adalah salah satu pilihannya. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Jujur sih kalau saya ngomel. Basically sebenarnya kalau mau pakai, silahkan. Tapi izin dulu minimal deh. Misal Mas fotonya bagus, saya boleh nggak pakai di konten saya, kata Norman, salah seorang fotografer. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)  
Satu lagi yang perlu diapresiasi, keberadaan para fotografer jalanan ini turut membatasi ruang gerak begal sepeda lho! Dina, seorang pesepeda mengaku lebih tenang melintas di rute yang ditunggui fotografer karena menurutnya begal maupun jambret pasti akan tidak ingin aksinya tertangkap jepretan mas-mas fotografer. Iya juga sih! (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)