Potret Rusun Nagrak yang Kini Jadi Tempat Isolasi Pasien Corona

Rusun Nagrak telah mulai dioperasikan pada Selasa (22/6) kemarin. Sedikitnya sudah ada 121 pasien yang menghuni dan masuk ke tempat isolasi tersebut.

Pemprov DKI Jakarta mengaktifkan Rusun Nagrak sebagai lokasi isolasi pasien COVID-19 tak bergejala karena keterisian di RSDC Wisma Atlet nyaris penuh.

Pasien yang sudah mulai mengisi Rusun tersebut juga telah beraktivitas seperti olahraga bersama.

Nantinya, Rusun Nagrak itu disiapkan akan bisa menerima pasien COVID-19 tak bergejala hingga 4.000 orang.

Petugas kesehatan tampak sedang beristirahat dengan menggunakan hazmat di salah satu lorong rusun. Saat ini baru tower 3 yang diaktifkan untuk menampung pasien dengan kapasitas 500 unit kamar.

Menurut Komandan Lapangan RSDC Wisma Atlet, Letkol M Arifin, Rusun Nagrak, Cilincing telah disiapkan 4 tower untuk pasien OTG. Jadi satu tower kalau satu unit itu ukuran 36 meter itu bisa 4 velbed.

Berbagai persiapan pun tengah dilakukan. Dalam beberapa hari ke depan, Komandan Lapangan RSDC Wisma Atlet, Letkol M Arifin berjanji terus mengebut persiapan Rusun Nagrak untuk menampung pasien COVID-19.

Dalam waktu dekat juga, Wisma Atlet akan mengirim sejumlah nakes untuk diperbantukan di Rusun Nagrak. Sebab, tenaga kesehatan dari Dinkes DKI juga terbatas. Karena baru ada 2 dokter dan 8 perawat saja di rusun tersebut.

Pengaktifan Rusun Nagrak ini disebabkan karena tempat isolasi di beberapa lokasi yang disiapkan oleh Pemprov DKI nyaris penuh semua. Tingkat keterisiannya hampir mencapai 100 persen.  

Rusun Nagrak termasuk ke dalam skenario tingkat kebutuhan ruangan isolasi pasien COVID-19 tahap 2 dengan kapasitas 2.550 orang. Secara keseluruhan, ada 7 lokasi yang masuk ke tahap 2. Total kapasitasnya mencapai 6.648 orang.

Berbagai persiapan tengah dilakukan di rusun tersebut. Mulai dari pengaturan limbah medis hingga petugas medis yang menangani pasien di masing-masing lokasi.  

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan berbagai persiapan tengah dilakukan. Dari pengaturan limbah medis hingga petugas medis yang menangani pasien di tiap lokasi.

Ia juga memastikan pihaknya bersama instansi lain telah mensosialisasi pemanfaatan Rusun Nagrak sebagai tempat isolasi khususnya terhadap penghuni rusun ini.

Pasien OTG COVID-19 aytau tak bergejala tengah beraktivitas di kawasan zona merah tower 3 Rusun Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara.

Perlu diketahui kasus aktif COVID-19 di DKI Jakarta mengalami kenaikan hingga 70 persen dalam satu pekan terakhir. Kasus aktif adalah besaran jumlah kumulatif kasus positif Covid-19 dikurangi jumlah kumulatif sembuh dan kematian. Berdasarkan data resmi Pemprov DKI, pada Selasa (15/6) lalu, kasus aktif di Jakarta tercatat sebanyak 19.244 orang.

Berbagai persiapan pun tengah dilakukan, salah satunya adalah menyiapkan tempat tidur dan sekat di tiap unit. Seiring kenaikan kasus aktif, keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta pun naik. Tempat tidur isolasi telah terpakai 90 persen dan ICU 81 persen. Hal itu seiring dengan kenaikan kasus COVID-19 di DKI Jakarta yang terus meningkat signifikan. Bahkan, selama tiga hari berturut-turut pecah rekor.

Rusun Nagrak telah mulai dioperasikan pada Selasa (22/6) kemarin. Sedikitnya sudah ada 121 pasien yang menghuni dan masuk ke tempat isolasi tersebut.
Pemprov DKI Jakarta mengaktifkan Rusun Nagrak sebagai lokasi isolasi pasien COVID-19 tak bergejala karena keterisian di RSDC Wisma Atlet nyaris penuh.
Pasien yang sudah mulai mengisi Rusun tersebut juga telah beraktivitas seperti olahraga bersama.
Nantinya, Rusun Nagrak itu disiapkan akan bisa menerima pasien COVID-19 tak bergejala hingga 4.000 orang.
Petugas kesehatan tampak sedang beristirahat dengan menggunakan hazmat di salah satu lorong rusun. Saat ini baru tower 3 yang diaktifkan untuk menampung pasien dengan kapasitas 500 unit kamar.
Menurut Komandan Lapangan RSDC Wisma Atlet, Letkol M Arifin, Rusun Nagrak, Cilincing telah disiapkan 4 tower untuk pasien OTG. Jadi satu tower kalau satu unit itu ukuran 36 meter itu bisa 4 velbed.
Berbagai persiapan pun tengah dilakukan. Dalam beberapa hari ke depan, Komandan Lapangan RSDC Wisma Atlet, Letkol M Arifin berjanji terus mengebut persiapan Rusun Nagrak untuk menampung pasien COVID-19.
Dalam waktu dekat juga, Wisma Atlet akan mengirim sejumlah nakes untuk diperbantukan di Rusun Nagrak. Sebab, tenaga kesehatan dari Dinkes DKI juga terbatas. Karena baru ada 2 dokter dan 8 perawat saja di rusun tersebut.
Pengaktifan Rusun Nagrak ini disebabkan karena tempat isolasi di beberapa lokasi yang disiapkan oleh Pemprov DKI nyaris penuh semua. Tingkat keterisiannya hampir mencapai 100 persen.  
Rusun Nagrak termasuk ke dalam skenario tingkat kebutuhan ruangan isolasi pasien COVID-19 tahap 2 dengan kapasitas 2.550 orang. Secara keseluruhan, ada 7 lokasi yang masuk ke tahap 2. Total kapasitasnya mencapai 6.648 orang.
Berbagai persiapan tengah dilakukan di rusun tersebut. Mulai dari pengaturan limbah medis hingga petugas medis yang menangani pasien di masing-masing lokasi.  
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan berbagai persiapan tengah dilakukan. Dari pengaturan limbah medis hingga petugas medis yang menangani pasien di tiap lokasi.
Ia juga memastikan pihaknya bersama instansi lain telah mensosialisasi pemanfaatan Rusun Nagrak sebagai tempat isolasi khususnya terhadap penghuni rusun ini.
Pasien OTG COVID-19 aytau tak bergejala tengah beraktivitas di kawasan zona merah tower 3 Rusun Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara.
Perlu diketahui kasus aktif COVID-19 di DKI Jakarta mengalami kenaikan hingga 70 persen dalam satu pekan terakhir. Kasus aktif adalah besaran jumlah kumulatif kasus positif Covid-19 dikurangi jumlah kumulatif sembuh dan kematian. Berdasarkan data resmi Pemprov DKI, pada Selasa (15/6) lalu, kasus aktif di Jakarta tercatat sebanyak 19.244 orang.
Berbagai persiapan pun tengah dilakukan, salah satunya adalah menyiapkan tempat tidur dan sekat di tiap unit. Seiring kenaikan kasus aktif, keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta pun naik. Tempat tidur isolasi telah terpakai 90 persen dan ICU 81 persen. Hal itu seiring dengan kenaikan kasus COVID-19 di DKI Jakarta yang terus meningkat signifikan. Bahkan, selama tiga hari berturut-turut pecah rekor.