Deretan Negara yang Incar Obat COVID-19 Oral Pertama di Dunia, Ada RI

Negara pertama yang disebut melirik molnupiravir adalah Korea Selatan. Dikutip dari The Korea Herald, pemerintah Korea Selatan telah mengajukan pembelian molnupiravir untuk 18 ribu orang. Negeri ginseng itu juga berencana akan membeli tambahan dosis untuk 20 orang di tahun 2022. Song Kyung-Seok-Pool/Getty Images.
Diketahui, sebanyak 41,7 miliar won telah diberikan ke Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea untuk membeli perawatan COVID-19 tahun depan. Sementara, biaya untuk membeli obat molnupiravir disebut mencapai 900.000 won per orang atau sekitar 10 juta rupiah. Kim Hong-Ji - Pool/Getty Images.
Sementara itu, Merck and Co, perusahaan farmasi Amerika Serikat yang memproduksi molnupiravir berencana hanya memproduksi dosis untuk 10 juta orang pada akhir tahun ini. Sementara, 1,7 juta dosis sudah dibeli oleh pemerintah AS berdasarkan perjanjian kontrak. AP Photo/Mel Evans, File.
Selain Korea Selatan dan Amerika Serikat, Taiwan juga diketahui mengincar obat COVID-19 ini. Melalui konferensi pers, Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan Chen Shih-chung mengatakan sedang berdiskusi dengan Merck and Co, untuk pembelian molnupiravir. Proses pembelian itu disebut akan diorganisir oleh Pusat Komando Epidemi di Taiwan. Di sisi lain, ia mengatakan bahwa dosis vaksin tetap akan ditambah. Billy H.C. Kwok/Getty Images.
 
Tak ketinggalan, Thailand juga dikabarkan membeli 200 ribu molnupiravir. Pemerintah Thailand disebut tengah bernegosiasi terkait pembelian tersebut. Taylor Weidman/Getty Images
Selanjutnya ada Malaysia. Menteri Kesehatan Khairy Jamaluddin mengatakan proses negosiasi pembelian molnupiravir juga telah dilakukan. Menurut Khairy, keputusan ini sangat berguna untuk mendorong 'new normal' atau hidup berdampingan dengan virus Corona. AP Photo/Vincent Thian.
Indonesia juga tak ketinggalan melirik obat COVID-19 oral pertama di dunia ini. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan molnupiravir tetap akan diuji klinis sebelum diizinkan beredar. "Tapi juga bisa obat-obatan antivirus baru seperti yang sekarang lagi ramai didiskusikan molnupiravir dari Merck. Jadi obatan-obatan tersebut sudah kita approach pabrikannya," tutur Budi dalam telekonferensi pers, Senin (4/10/2021). Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden.
Negara lain yang turut melirik obat COVID-19 ini adalah Australia. Negeri Kangguru dikabarkan tengah mengajukan kesepakatan untuk mengamankan 300 ribu program molnupiravir. Molnupiravir yang masih menyelesaikan uji klinis tahap akhir rencananya bisa mendapat persetujuan dari Therapeutic Good Administration (TGA) awal 2022. Pemerintah Australia memastikan warganya bisa memiliki akses mendapat perawatan lain selain vaksin COVID-19, seperti obat Merck and Co molnupiravir. Lisa Maree Williams/Getty Images.
 
Molnupiravir dinilai menjanjikan karena terbukti mencegah separuh kasus kematian dan rawat inap pada pasien dewasa. Molnupiravir diberikan dua kali sehari, selama 5 hari pada pasien dewasa dengan gejala COVID-19 ringan hingga sedang. Obat oral memudahkan distribusi, dan akses masyarakat lebih luas termasuk ke daerah pedesaan. Mario Tama/Getty Images.
Negara pertama yang disebut melirik molnupiravir adalah Korea Selatan. Dikutip dari The Korea Herald, pemerintah Korea Selatan telah mengajukan pembelian molnupiravir untuk 18 ribu orang. Negeri ginseng itu juga berencana akan membeli tambahan dosis untuk 20 orang di tahun 2022. Song Kyung-Seok-Pool/Getty Images.
Diketahui, sebanyak 41,7 miliar won telah diberikan ke Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea untuk membeli perawatan COVID-19 tahun depan. Sementara, biaya untuk membeli obat molnupiravir disebut mencapai 900.000 won per orang atau sekitar 10 juta rupiah. Kim Hong-Ji - Pool/Getty Images.
Sementara itu, Merck and Co, perusahaan farmasi Amerika Serikat yang memproduksi molnupiravir berencana hanya memproduksi dosis untuk 10 juta orang pada akhir tahun ini. Sementara, 1,7 juta dosis sudah dibeli oleh pemerintah AS berdasarkan perjanjian kontrak. AP Photo/Mel Evans, File.
Selain Korea Selatan dan Amerika Serikat, Taiwan juga diketahui mengincar obat COVID-19 ini. Melalui konferensi pers, Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan Chen Shih-chung mengatakan sedang berdiskusi dengan Merck and Co, untuk pembelian molnupiravir. Proses pembelian itu disebut akan diorganisir oleh Pusat Komando Epidemi di Taiwan. Di sisi lain, ia mengatakan bahwa dosis vaksin tetap akan ditambah. Billy H.C. Kwok/Getty Images. 
Tak ketinggalan, Thailand juga dikabarkan membeli 200 ribu molnupiravir. Pemerintah Thailand disebut tengah bernegosiasi terkait pembelian tersebut. Taylor Weidman/Getty Images
Selanjutnya ada Malaysia. Menteri Kesehatan Khairy Jamaluddin mengatakan proses negosiasi pembelian molnupiravir juga telah dilakukan. Menurut Khairy, keputusan ini sangat berguna untuk mendorong new normal atau hidup berdampingan dengan virus Corona. AP Photo/Vincent Thian.
Indonesia juga tak ketinggalan melirik obat COVID-19 oral pertama di dunia ini. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan molnupiravir tetap akan diuji klinis sebelum diizinkan beredar. Tapi juga bisa obat-obatan antivirus baru seperti yang sekarang lagi ramai didiskusikan molnupiravir dari Merck. Jadi obatan-obatan tersebut sudah kita approach pabrikannya, tutur Budi dalam telekonferensi pers, Senin (4/10/2021). Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden.
Negara lain yang turut melirik obat COVID-19 ini adalah Australia. Negeri Kangguru dikabarkan tengah mengajukan kesepakatan untuk mengamankan 300 ribu program molnupiravir. Molnupiravir yang masih menyelesaikan uji klinis tahap akhir rencananya bisa mendapat persetujuan dari Therapeutic Good Administration (TGA) awal 2022. Pemerintah Australia memastikan warganya bisa memiliki akses mendapat perawatan lain selain vaksin COVID-19, seperti obat Merck and Co molnupiravir. Lisa Maree Williams/Getty Images. 
Molnupiravir dinilai menjanjikan karena terbukti mencegah separuh kasus kematian dan rawat inap pada pasien dewasa. Molnupiravir diberikan dua kali sehari, selama 5 hari pada pasien dewasa dengan gejala COVID-19 ringan hingga sedang. Obat oral memudahkan distribusi, dan akses masyarakat lebih luas termasuk ke daerah pedesaan. Mario Tama/Getty Images.