Wajah Ibu Kota Jakarta yang Diselimuti Polusi

Penampakan kawasan Gatot Subroto, Jakarta yang diselimuti kabut putih, Senin (20/6/2022). Jakarta kembali jadi sorotan karena kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat hari ini.

Berdasarkan data di laman IQAir yang dilihat pada pukul 14:32 WIB, kualitas udara Jakarta berada di angka 156 dan masuk dalam kategori tidak sehat.

Jakarta berada di posisi keempat, di bawah Kuwait City, Kuwait; Santiago, Chile; dan Dubai, UAE; sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Untuk diketahui, kualitas udara Jakarta dinyatakan tidak sehat selama empat hari terakhir sejak Jumat (17/6/2022). Polutan PM 2.5 DKI Jakarta sebesar 135µg/m³ dan PM10 sebesar 11.5µg/m³.

Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan kualitas udara di Jakarta dipengaruhi oleh berbagai sumber emisi. Sumber emisi itu berasal dari sumber lokal, seperti transportasi dan residensial, maupun dari sumber regional dari kawasan industri. Kemudian, emisi dalam waktu tertentu terakumulasi dan menyebabkan peningkatan polutan di Jakarta. Pergerakan angin juga membuat polutan bergeser dari sumber emisi ke lokasi lain.

Kualitas udara Jakarta yang tidak sehat membuat masyarakat disarankan untuk melindungi diri dari polusi udara Jakarta dengan mengenakan masker, memakai air purifier, memastikan jendela tetap tertutup menghindari udara kotor, dan sebaiknya berolahraga di dalam ruangan.

Penampakan kawasan Gatot Subroto, Jakarta yang diselimuti kabut putih, Senin (20/6/2022). Jakarta kembali jadi sorotan karena kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat hari ini.
Berdasarkan data di laman IQAir yang dilihat pada pukul 14:32 WIB, kualitas udara Jakarta berada di angka 156 dan masuk dalam kategori tidak sehat.
Jakarta berada di posisi keempat, di bawah Kuwait City, Kuwait; Santiago, Chile; dan Dubai, UAE; sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Untuk diketahui, kualitas udara Jakarta dinyatakan tidak sehat selama empat hari terakhir sejak Jumat (17/6/2022). Polutan PM 2.5 DKI Jakarta sebesar 135µg/m³ dan PM10 sebesar 11.5µg/m³.
Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan kualitas udara di Jakarta dipengaruhi oleh berbagai sumber emisi. Sumber emisi itu berasal dari sumber lokal, seperti transportasi dan residensial, maupun dari sumber regional dari kawasan industri. Kemudian, emisi dalam waktu tertentu terakumulasi dan menyebabkan peningkatan polutan di Jakarta. Pergerakan angin juga membuat polutan bergeser dari sumber emisi ke lokasi lain.
Kualitas udara Jakarta yang tidak sehat membuat masyarakat disarankan untuk melindungi diri dari polusi udara Jakarta dengan mengenakan masker, memakai air purifier, memastikan jendela tetap tertutup menghindari udara kotor, dan sebaiknya berolahraga di dalam ruangan.