Ini Kepiting Tapal Kuda, Hewan Unik Penguji Vaksin Covid-19

Petugas memegang kepiting tapal kuda di Pickering Beach, Delaware, AS, Jumat, (17/6/2022). Hewan laut satu ini sangat penting untuk menguji keamanan produk biomedis sejak 1970-an. Kepiting ini menggantikan pengujian kelinci.

Kepiting tapal kuda atau Horseshoe Crab merupakan salah satu spesies kepiting purba yang diperkirakan sudah ada sejak 450 juta tahun lalu, lebih lama dari dinosaurus. Kalau di Indonesia, nama kepiting ini lebih dikenal sebagai belangkas atau mimi.

Sejak dulu jenis kepiting yang satu ini memang lebih populer darahnya, dibandingkan dagingnya. Darah biru kepiting tersebut telah digunakan dalam industri farmakologis selama hampir 50 tahun.

Warna biru dalam darah kepiting ini berasal dari kandungan tembaga dalam haemocyanin yang membawa oksigen ke dalam darah. Karenanya warna darahnya ini bukan kemerahan.

Menurut beberapa penelitian, darah tapal kuda ini mengandung zat pembekuan khusus yang disebut Limulus Amebocyte Lysate (LAL). LAL memainkan peran penting dalam menentukan apakah vaksin atau alat medis baru aman dari kontaminasi bakteri. Karenanya darah biru dari kepiting ini menjadi kunci atau salah satu bahan utama dalam pembuatan vaksin Covid-19.

Namun karena jumlah kepiting tapal kuda yang tak banyak, darah biru ini menjadi langka. Kebanyakan kepiting tapal kuda harus mati karena darahnya dikuras selama proses pengambilan.

Setiap tahun, industri medis menangkap sekitar 600.000 kepiting tapal kuda. Kepiting terkuras 30 persen darahnya dan setidaknya 30 persen kepiting akan mati ketika darahnya dikuras. Dilansir dari Nation of Change, sekitar 50 ribu kepiting mati saat proses tersebut.

Kepiting tapal kuda ini terdaftar sebagai kategori rentan di Amerika Serikat karena habitatnya hilang. Hal tersebut dikarenakan pemanfaatan berlebihan untuk makanan dan medis yang berkembang terlebih karena pandemi Covid-19.

Petugas memegang kepiting tapal kuda di Pickering Beach, Delaware, AS, Jumat, (17/6/2022). Hewan laut satu ini sangat penting untuk menguji keamanan produk biomedis sejak 1970-an. Kepiting ini menggantikan pengujian kelinci.
Kepiting tapal kuda atau Horseshoe Crab merupakan salah satu spesies kepiting purba yang diperkirakan sudah ada sejak 450 juta tahun lalu, lebih lama dari dinosaurus. Kalau di Indonesia, nama kepiting ini lebih dikenal sebagai belangkas atau mimi.
Sejak dulu jenis kepiting yang satu ini memang lebih populer darahnya, dibandingkan dagingnya. Darah biru kepiting tersebut telah digunakan dalam industri farmakologis selama hampir 50 tahun.
Warna biru dalam darah kepiting ini berasal dari kandungan tembaga dalam haemocyanin yang membawa oksigen ke dalam darah. Karenanya warna darahnya ini bukan kemerahan.
Menurut beberapa penelitian, darah tapal kuda ini mengandung zat pembekuan khusus yang disebut Limulus Amebocyte Lysate (LAL). LAL memainkan peran penting dalam menentukan apakah vaksin atau alat medis baru aman dari kontaminasi bakteri. Karenanya darah biru dari kepiting ini menjadi kunci atau salah satu bahan utama dalam pembuatan vaksin Covid-19.
Namun karena jumlah kepiting tapal kuda yang tak banyak, darah biru ini menjadi langka. Kebanyakan kepiting tapal kuda harus mati karena darahnya dikuras selama proses pengambilan.
Setiap tahun, industri medis menangkap sekitar 600.000 kepiting tapal kuda. Kepiting terkuras 30 persen darahnya dan setidaknya 30 persen kepiting akan mati ketika darahnya dikuras. Dilansir dari Nation of Change, sekitar 50 ribu kepiting mati saat proses tersebut.
Kepiting tapal kuda ini terdaftar sebagai kategori rentan di Amerika Serikat karena habitatnya hilang. Hal tersebut dikarenakan pemanfaatan berlebihan untuk makanan dan medis yang berkembang terlebih karena pandemi Covid-19.