Cinta Kasih yang Buat Kami Bertahan di Wisma Tuna Ganda

Anak sejatinya menjadi anugerah yang dititipkan tuhan pada orang tuanya. Tapi, tak semua orang tua dipilih untuk dititipkan anak yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental dan sensorik dalam jangka waktu lama dalam berinteraksi dengan lingkungan atau disabilitas. Meski sebagian ada yang bisa menerima, tapi ada pula yang tak mampu hingga menitipkannya ke panti. Ini secuil potretnya.

Yayasan ini didirikan oleh Badan Pembina Koordinasi Kegiatan Sosial (BPKKS) dan Lembaga Piatu Muslimin pada 2 Maret 1975, namun pada 1 Mei 1985 pengelolaan Wisma Tuna Ganda Palsigunung diserahkan sepenuhnya kepada Lembaga Rumah Piatu Muslimin.

Sejak berdirinya Wisma Tuna Ganda Palsigunung telah merawat anak-anak hingga 92 orang, setelah menjalani Latihan dan perawatan anak-anak dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu anak mampu didik, mampu latih dan mampu rawat.

Saat ini terdapat 28 anak yang dirawat di tempat ini, Yayasan ini hanya menerima penderita cacat ganda dan umurnya kurang dari sepuluh tahun.

Persyaratan tersebut guna memudahkan dalam pembinaan sehingga anak asuh dapat dilatih. Meski begitu saat ini kebanyakan anak-anak di wisma ini berusia puluhan tahun sebab memang telah lama dan dititipkan disini sejak kecil hingga dewasa.

Contohnya Rusdi yang telah berusia 72 tahun, pria kelahiran Ternate ini masuk wisma pada tahun 1979 dimana saat itu ia baru berusia 9 tahun. Rusdi memiliki penyakit cerebral palsy, keterbelakangan mental dan tuna Netra.

Setelah dilatih bertahun-tahun Rusdi kini cukup dapat mandiri, beberapa kegiatan ia lakukan sendiri seperti makan, mengikuti kelas latih, hingga bernyanyi ingatannya pun cukup kuat.

Ada pula Reva (5) asal Cilacap. Ortunya mendatangi wisma ini karena telah kewalahan mencari pengobatan untuk anaknya. Ia pun menitipkan Reva dengan alasan agar orang tua dapat bekerja dan pada waktunya nanti akan dibawa pulang kembali.

Mayoritas anak-anak yang masuk memiliki kisahnya masing-masing, ada anak yang dibawa karena terlantar di jalanan hingga orang tua yang bunuh diri. Padahal menurut Kepala Panti Kristianti anak-anak ini adalah anugerah dan orang tua yang memiliki anak-anak ini merupakan orang tua pilihan tuhan.

Meski begitu Kepala Panti memperbolehkan pramurawat untuk memiliki pekerjaan selain di wisma, para pramurawat memang membantu karena panggilan hati dan kemanusiaan, ia juga menyebut honor pramurawat tidaklah cukup sehingga memperbolehkan mereka untuk bekerja sambilan di luar panti.

Memiliki kekurangan ganda memang memerlukan kesabaran yang ekstra dalam merawatnya. Dwi (22) pramurawat termuda menceritakan secuil pengalamannya bekerja karena panggilan hati. Usia muda bukan berarti tak mampu menjalani profesi ini. Dwi pun memiliki cita-cita yang tinggi dan memilih bekerja di wisma ini untuk mengurusi anak-anak mandi, makan hingga terapi.

Selain menjadi rumah bagi anak-anak, tempat ini juga kerap dijadikan tempat refleksi jiwa. Mulai dari pegawai yang ingin naik jabatan, pelajar hingga rehabilitasi narkoba mendatangi tempat ini untuk belajar bersyukur dan berkaca merefleksikan diri.

Puluhan tahun menempati tempat ini anak-anak dan keluarganya memang tidak dijanjikan kesembuhan, tempat ini hanya memberikan rasa aman sekaligus mengajak anak-anak untuk tetap beraktivitas seperti kelas bermain hingga terapi.

Salah satunya seperti kelas mental dan motorik ini membantu anak-anak yang masih mampu diajarkan atau yang masuk kategori mampu latih untuk membantu kondisinya agar lebih baik.

Sejumlah anak-anak berdiri di standing frame di Wisma Sosial Tuna Ganda Palsigunung, Depok, Rabu (24/8/2022). Kegiatan ini membuat anak-anak tidak hanya tidur di kamar, mereka dibaringkan di standing frame dan dilakukan terapi. Meski untuk mencapai kesembuhan merupakan hal yang sulit namun tempat ini menjadi rumah bagi anak-anak yang kurang beruntung untuk tetap hidup dan beraktivitas.
 

Sang Ketua Yayasan ini juga berpesan kepada orang tua yang memiliki anak-anak dengan anugerah yang "luar biasa" mereka adalah orang tua hebat, ia juga menyarankan untuk mencari orang tua lain yang sama sehingga tidak merasa sendiri dan dapat berdiskusi dalam merawat anak-anak.

Anak sejatinya menjadi anugerah yang dititipkan tuhan pada orang tuanya. Tapi, tak semua orang tua dipilih untuk dititipkan anak yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental dan sensorik dalam jangka waktu lama dalam berinteraksi dengan lingkungan atau disabilitas. Meski sebagian ada yang bisa menerima, tapi ada pula yang tak mampu hingga menitipkannya ke panti. Ini secuil potretnya.
Yayasan ini didirikan oleh Badan Pembina Koordinasi Kegiatan Sosial (BPKKS) dan Lembaga Piatu Muslimin pada 2 Maret 1975, namun pada 1 Mei 1985 pengelolaan Wisma Tuna Ganda Palsigunung diserahkan sepenuhnya kepada Lembaga Rumah Piatu Muslimin.
Sejak berdirinya Wisma Tuna Ganda Palsigunung telah merawat anak-anak hingga 92 orang, setelah menjalani Latihan dan perawatan anak-anak dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu anak mampu didik, mampu latih dan mampu rawat.
Saat ini terdapat 28 anak yang dirawat di tempat ini, Yayasan ini hanya menerima penderita cacat ganda dan umurnya kurang dari sepuluh tahun.
Persyaratan tersebut guna memudahkan dalam pembinaan sehingga anak asuh dapat dilatih. Meski begitu saat ini kebanyakan anak-anak di wisma ini berusia puluhan tahun sebab memang telah lama dan dititipkan disini sejak kecil hingga dewasa.
Contohnya Rusdi yang telah berusia 72 tahun, pria kelahiran Ternate ini masuk wisma pada tahun 1979 dimana saat itu ia baru berusia 9 tahun. Rusdi memiliki penyakit cerebral palsy, keterbelakangan mental dan tuna Netra.
Setelah dilatih bertahun-tahun Rusdi kini cukup dapat mandiri, beberapa kegiatan ia lakukan sendiri seperti makan, mengikuti kelas latih, hingga bernyanyi ingatannya pun cukup kuat.
Ada pula Reva (5) asal Cilacap. Ortunya mendatangi wisma ini karena telah kewalahan mencari pengobatan untuk anaknya. Ia pun menitipkan Reva dengan alasan agar orang tua dapat bekerja dan pada waktunya nanti akan dibawa pulang kembali.
Mayoritas anak-anak yang masuk memiliki kisahnya masing-masing, ada anak yang dibawa karena terlantar di jalanan hingga orang tua yang bunuh diri. Padahal menurut Kepala Panti Kristianti anak-anak ini adalah anugerah dan orang tua yang memiliki anak-anak ini merupakan orang tua pilihan tuhan.
Meski begitu Kepala Panti memperbolehkan pramurawat untuk memiliki pekerjaan selain di wisma, para pramurawat memang membantu karena panggilan hati dan kemanusiaan, ia juga menyebut honor pramurawat tidaklah cukup sehingga memperbolehkan mereka untuk bekerja sambilan di luar panti.
Memiliki kekurangan ganda memang memerlukan kesabaran yang ekstra dalam merawatnya. Dwi (22) pramurawat termuda menceritakan secuil pengalamannya bekerja karena panggilan hati. Usia muda bukan berarti tak mampu menjalani profesi ini. Dwi pun memiliki cita-cita yang tinggi dan memilih bekerja di wisma ini untuk mengurusi anak-anak mandi, makan hingga terapi.
Selain menjadi rumah bagi anak-anak, tempat ini juga kerap dijadikan tempat refleksi jiwa. Mulai dari pegawai yang ingin naik jabatan, pelajar hingga rehabilitasi narkoba mendatangi tempat ini untuk belajar bersyukur dan berkaca merefleksikan diri.
Puluhan tahun menempati tempat ini anak-anak dan keluarganya memang tidak dijanjikan kesembuhan, tempat ini hanya memberikan rasa aman sekaligus mengajak anak-anak untuk tetap beraktivitas seperti kelas bermain hingga terapi.
Salah satunya seperti kelas mental dan motorik ini membantu anak-anak yang masih mampu diajarkan atau yang masuk kategori mampu latih untuk membantu kondisinya agar lebih baik.
Sejumlah anak-anak berdiri di standing frame di Wisma Sosial Tuna Ganda Palsigunung, Depok, Rabu (24/8/2022). Kegiatan ini membuat anak-anak tidak hanya tidur di kamar, mereka dibaringkan di standing frame dan dilakukan terapi. Meski untuk mencapai kesembuhan merupakan hal yang sulit namun tempat ini menjadi rumah bagi anak-anak yang kurang beruntung untuk tetap hidup dan beraktivitas. 
Sang Ketua Yayasan ini juga berpesan kepada orang tua yang memiliki anak-anak dengan anugerah yang luar biasa mereka adalah orang tua hebat, ia juga menyarankan untuk mencari orang tua lain yang sama sehingga tidak merasa sendiri dan dapat berdiskusi dalam merawat anak-anak.