Rabu, 11 Des 2013 07:30 WIB

Tak Selalu Negatif, Sikap Pesimistis Kadang Justru Menyehatkan

- detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock) Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Hingga kini, sikap optimistis masih menjadi primadona. Sikap optimistis dikaitkan dengan kepribadian dan kesehatan yang baik. Boleh jadi 89% penduduk dunia yang mengaku optimistis memiliki kadar kolesterol lebih baik, imun lebih kuat, dan risiko stroke lebih rendah.

Lantas, bagaimana jika Anda bukan tipe optimistis? Jangan khawatir. Memiliki pikiran-pikiran negatif alias negatif thinking tidak ada salahnya.

"Ada banyak tekanan mengerikan yang mendera orang-orang yang mengaku optimistis," ujar Julie Norem, seorang profesor psikologi di Universitas Wellesles di Massachusetts. "Dan bisa jadi (tekanan) itu lebih menyakitkan dibandingkan dengan menjadi pesimistis," tambahnya.

Norem bukannya menyarankan orang-orang untuk berpikir negatif dan menjadi pesimistis. Tetapi, seandainya saja Anda sudah terlahir memiliki sikap pesimistis dan itu tidak mengganggu kehidupan Anda, ujar Norem, itu tidak masalah. "Bisa jadi ada manfaat dari negatif thinking" tuturnya.

Bagi Anda yang sering berpikiran negatif, jangan cemas. Bisa jadi pikiran negatif malah baik untuk kesehatan dan keseharian Anda.

Apa saja manfaat menjadi seorang pesimistis? Berikut ini di antaranya, seperti dilansir dari Huffington Post (10/12/2013).

1. Hidup Lebih Lama
Semasa muda, seseorang akan mengira-ira bagaimana kehidupannya kelak. Ada yang mengharap kehidupan 'wah' dan sejahtera. Ada juga yang pesimistis dan berspekulasi tidak terlalu tinggi.

Sebuah penelitian menunjukkan, orang dewasa yang tidak terlalu tinggi dalam berharap biasanya menikmati hidup lebih sehat dan usia lebih panjang. Studi tersebut juga mengungkap bahwa menjadi terlalu optimistis dalam memperkirakan kehidupan dihubungkan dengan risiko cacat dan kematian pada dekade berikutnya.

Meskipun penelitian tersebut belum memberikan sebab akibat jelas, Frieder Lang,Ph.D., pengarang, juga profesor di Universitar Erlangen-Nuremberg, Jerman, memiliki Hipotesis sendiri.

"Menjadi pesimistis tentang masa depan membuat orang hidup secara lebih berhati-hati, menjaga kesehatan, dan melakukan tindakan pengamanan," ujar Lang.

pesimistisme mengenai penyakit dan berbagai risiko tak terduga ternyata membuat orang lebih berhati-hati. Akibat pikiran negatif itu, orang-orang menjadi peduli kesehatan, menjaga pola makan, juga melakukan tindakan berjaga-jaga seperti memakai produk asuransi. TIdak heran jika mereka yang pesimistis memiliki usia lebih panjang.

2. Memiliki Hubungan Lebih Awet dan Sehat
Positif thinking tidak selamanya apik untuk merawat sebuah hubungan. Beberapa studi terbaru malah menyarankan untuk sedikit negatif thinking agar sebuah hubungan lebih sehat dan awet.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Psikologi Personal dan Sosial mengungkap bahwa tipe tertentu optimistisme bisa mengakibatkan sepasang kekasih mengalami kerusakan perkawinan. Bagaimana bisa? Ternyata rasa optimistisme tersebut membuat mereka tidak proaktif mencari solusi ketika masalah datang mendera.

Pasangan yang bersikukuh tetap positif thinking ketika masalah perkawinan mendera akan berakhir dengan melukai hubungan mereka. Studi itu menyimpulkan, pasangan yang menghadapi pernikahan dengan sikap pesimistis akan memiliki hubungan jangka panjang lebih menyenangkan dan sukses. Pasalnya, awalnya mereka mereka memiliki spekulasi atau harapan tidak terlalu tinggi.

3. Dapat Mengatasi Kecemasan
Rupanya memiliki pikiran pesimistis membuat Amda lebih mampu mengatasi ketakutan dan rasa cemas berlebih ketika menghadapi sesuatu.

Hasil studi Julie Norem, profesor psikologi di Universitas Wellesles di Massachusetts, menunjukkan bahwa pesimistisme dapat meningkatkan suatu bentuk perlindungan untuk melawan rasa takut dan cemas.

Ketika Anda diminta untuk berpidato misalnya. Bagi orang-orang tertentu, pidato dapat memancing rasa stress. Saat diminta untuk berpidato, orang yang memiliki pikiran negatif cenderung memikirkan hal-hal aneh. Tersandung kabel mikrofon atau terpeleset di panggung, misalnya. Pikiran-pikiran itu tidak buruk karena pikiran-pikiran itu memicu otak untuk memikirkan tindakan pencegahan agar 'mimpi buruk' itu tidak terjadi.

4. Meningkatkan Produktifitas
Negatif thinking juga membantu Anda meningkatkan produktivitas dan mencapai puncak karir. Lihat saja acara-acara besar yang sukses. Acara tersebut tidak akan suskses jika tidak ada orang yang mampu memperkirakan hal-hal buruk yang akan terjadi. Dengan kata lain, pikiran negatif membantu tim membuat skenario penyelesaian masalah.

pesimistisme, jelas Norem, sebenarnya membantu segala sesuatu agar berjalan mulus. Norem sendiri telah melakukan serangkaian penelitian dan memuatnya dalam buku karangannya. Norem mengungkap, mereka yang memiliki sifat pesimistis terlahir secara alami untuk membayangkan, terutama, membayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi. Akibatnya, bayangan buruk itu memicu mereka untuk nerupaya lebih keras dan memperoleh hasil gemilang pada akhirnya.






(up/up)
News Feed