Kamis, 05 Apr 2018 10:01 WIB

Susah Dapat Kantong Stoma, Pasien Kanker Sempat Gunakan Plastik Gula

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Kantong stoma. Foto: Frieda/detikHealth Kantong stoma. Foto: Frieda/detikHealth
Jakarta - Kantong stoma pada pasien kanker kolorektal berfungsi untuk menampung kotoran atau cairan karena ususnya tidak lagi tersambung dengan anus.

dr Aditya G. Parengkuan, M.Biomed, koordinator dari Indonesia Ostomy Association (InOA) mengungkapkan bahwa akses kantong stoma bagi para pengidap kanker di Indonesia memerlukan perjalanan panjang dan akses yang tidak mudah.

Sebagian besar mereka yang mengidap kanker kolorektal di usus bagian kiri memutuskan untuk hidup dengan kantong. Karena, tutur dr Aditya, usus sebelah kiri cukup dekat dengan anus sehingga tidak bisa ditarik untuk dijahit kembali.

Colostomy bag atau yang biasa disebut dengan kantong stoma, merupakan barang terpenting bagi para ostomate. Ostomate merupakan sebutan bagi seseorang yang di permukaan tubuhnya dibuat lubang atau stoma karena suatu infeksi atau penyakit.

Menurut situs Health Line, colostomy adalah prosedur yang dilakukan dengan menaruh ujung usus besar melalui sayatan pada dinding perut untuk membuat stoma. Stoma adalah lubang di kulit di mana nanting kantong ini akan ditempelkan.

Stoma bisa dibuat di daerah usus halus, saluran kemih, leher, atau usus besar. Di Indonesia, kebanyakan pasien ostomate berasal dari pasien kanker, terutama pasien kanker kolorektal atau usus besar.



Tahun 98 perusahaan kantong sempat gulung tikar saat krisis ekonomi. Gantinya apa? Para ostomate pakai kantong plastik gula dilubangin dikasih double tape ditempelkan di tubuhnya,dr Aditya G Parengkuan, M.Biomed

InOA dibentuk di bawah naungan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) pada tahun 2000 lalu. Asosiasi ini dibentuk karena susahnya akses untuk mendapat colostomy bag atau kantong stoma yang dipergunakan untuk para pengidap kanker.

"Tahun 98 perusahaan kantong sempat gulung tikar saat krisis ekonomi. Gantinya apa? Para ostomate pakai kantong plastik gula dilubangin dikasih double tape ditempelkan di tubuhnya," papar dr Aditya di Jakarta Pusat, Selasa (3/4/2018).

Penggantian ini cukup berbahaya, karena kantong plastik tersebut bisa bocor saat pasien memiringkan badan. Bocornya kantong ini dapat membuat kulit iritasi.

"Kualitas hidupnya jadi tidak baik, kalau bocor jadinya bau. Banyak sekali yang mengakhiri hidupnya, masalahnya jadi besar karena sebuah kantong," imbuh dia.



Pada tahun 1999, Indonesia akhirnya mendapat sumbangan dari AS dan Kanada, namun lagi-lagi tersandung masalah. Kantong-kantong ini dianggap barang mewah oleh bagian bea cukai, sehingga YKI harus merogoh kocek lebih banyak.

Diungkapkan oleh dr Aditya, bahwa sebenarnya kantong sumbangan ini akan didistribusikan kepada ostomate di Indonesia, bukan dijual kembali.

Sejak dibentuknya InOA, perjuangan memperoleh akses mudah bagi kantong stoma mendapat hasil, meski masih tetap tergolong barang mewah dengan harga berkisar antara 500-600 ribu rupiah untuk satu boks kantong berisi 10 lembar. Hal ini dikarenakan tingginya biaya pajak oleh pemerintah.

Sayangnya, meski demand penggunaan kantong ini cukup banyak, Indonesia masih belum dapat memproduksinya sendiri. Karena ostomate sendiri masih menjadi 'barang langka'.

"Sudah ada sumbangan dari The Friends of Ostomates Worldwide (FOW) melalui Project SHARE (Sending Help And Rehabilitation Everywhere) dan di tahun 2006 dari Australia. Tapi saya berharap pemerintah bisa mempertimbangkan untuk menurunkan harga kantong stoma tersebut," tandas dr Aditya.


(Frieda Isyana Putri/up)
News Feed